Perfilman Tanah Air – part 2

Film adalah sebuah sarana untuk mengekspresikan sesuatu melalui sebuah cerita. Tanpa kita sadari sendiri film merupakan suatu penunjukkan teknologi yang dimiliki oleh suatu negara. Akankah negara tersebut ‘maju’ ataupun ‘tetap diam di tempat’. film juga merupakan media terbaik untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada masyarakat akan suatu kehidupan. Dikesempatan ini saya ingin sedikit berbicara tentang ‘wajah dunia’ sinema kita. Film indonesia.

Ketertarikan saya untuk membahas masalah ‘dunia sinema’ kita adalah karena masih banyaknya anggapan dari masyarakat kita bahwa film Indonesia kebanyakan kurang bermutu. Mari kita gariskan kata-kata ‘film Indonesia kebanyakan kurang bermutu’ itu, saya akui bahwa itu benar dan tidak dapat menyangkal bahwa masih banyak film-film kita dihiasi oleh cerita yang tidak bermutu namun bukan berarti bahwa semua film Indonesia tidak bermutu!, masih banyak film-film Indonesia yang harus dapat perhatian dan layak untuk ditonton dan di agung-agungkan.

Pada masa perkembangannya mungkin dari semua pembuat film idealis, Usmar Ismail menonjol sebagai pelopor film Indonesia dengan film pertamanya Darah dan Doa (1950) kemudian Indonesia juga memiliki beberapa pembuatan film yang secara aktif berinteraksi langsung dengan peta sinema dunia, seperti Christine Hakim dan Garin Nugroho di masa lalu, atau untuk generasi muda yang telah berusaha untuk mendapatkan akses festival film internasional atau pendanaan film internasional, seperti Nia Dinata, Mira Lesmana, Edwin, Ravi Bharmani, dan Joko anwar. Akan tetapi dibandingkan dengan negara-negara Asia tenggara yang lain, film-film Indonesia dan pembuat filmnya hampir tidak dikenal dalam peta sinema dunia. Meskipun mereka disebutkan, namun dengan perhatian yang sangat sedikit.

Walaupun ada generasi muda yang telah berusaha untuk mendapatkan akses festival film internasional atau pendanaan film internasional masih ada banyak beberapa generasi-generasi di masa sekarang yang beranggapan bahwa mereka membuat film hanya untuk mendapatkan ‘keuntungan komersil’ saja. Kita lihat Joko anwar sebagai pembuat film yang dapat dimasukkan dalam kategori idealis kontemporer. Anwar membedakan dirinya dari sutradara lain yang bekerja di industri dan mengatakan bahwa ia membuat film “karena ada sesuatu yang ingin saya katakan, bukan karena saya dibayar”.
Berdasarkan apa yang telah saya bicarakan dari tadi, tidak dapat dipungkiri, salah satu kesalahan besar dalam sinema kita adalah asumsi bahwa film merupakan suatu sarana komersil tanpa memikirkan ‘apa isinya’, sehingga banyak film-film yang di buat hanya untuk tujuan komersil dan memenuhi target pasar semata tanpa keinginan untuk menyampaikan sesuatu sedangkan untuk film yang murni dimuat oleh para sutradara yang berdedikasi tinggi dan bukanlah ‘sutradara bayaran’ malah kurang dinikmati oleh masyarakat namun menjadi suatu hal yang luar biasa di internasional.

Akan tetapi secara bertahap, mulai banyak film Indonesia yang terlihat ‘lebih baik’ daripada film-film sebelumnya yang telah diputar di bioskop-bioskop tanah air. Kita ambil contoh Rumah Dara (2010) merupakan sebuah film thriller Indonesia yang berhasil membangkitkan gairah para penonton yang haus akan film-film dengan genre berbeda selain film dengan genre Horor yang berbau seks di masa itu. Rumah Dara pun mulai di bicarakan di festival-festifal film internasional dan mendapatkan pujian dari beberapa kritikus.

Kemudian muncul-lah film ‘Serbuan Maut’ dengan sutradara Gareth Evans yang berhasil memenangkan penghargaan di festival film bergengsi internasional, yaitu ‘Toronto Festival’. Serbuan Maut atau yang sekarang lebih dikenal sebagai The Raid berhasil memenangkan penghargaan ‘midnight’ di Toronto Festival. The Raid sendiri berhasil menjadi topik pembicaraan yang menarik oleh para kritikus film hollywood yang kemudian akhirnya The Raid akan di remake ulang oleh Hollywood. The Raid sendiri kemudian menjadi sebuah film yang paling ditunggu-tunggu kehadirannya oleh para film maker indonesia dan The Raid sendiri-pun untuk pertama kalinya akan diputar hanya dalam waktu satu hari sebagai penutup pada acara ‘Indonesia Internasional Fantastic Film Festival’ (INAFFF).

Setelah itu di era sekarang lahirlah berbagai film yang bisa dibilang patut dan layak untuk ditonton tidak lagi sebuah film dengan genre horor murahan namun sebuah film yang banyak mengandung unsur sosial maupun budaya dan bahkan action sekalipun. Badai di Ujung Negeri(2011), Simfoni Yang Luar Biasa(2011), serta Sang Penari(2011) adalah sekian dari banyak film Indonesia yang pada tahun ini wajib kita tonton.

Kita sendirilah sebagai penonton yang merupakan ujung tombak kemajuan perfilman tanah air kita. Akankah kita hanya
ingin menonton sebuah film murahan dan makan popcorn ataukan kita ingin menonton karena ingin mendapatkan sesuatu, baik kepuasan ataupun mendapatkan pesan berupa makna tersirat dari film tersebut. kita lah sebagai penonton yang menentukan itu semua. Pembuat adalah hal kecil dalam kemajuan perfilman tanah air kita namun kita sebagai yang menontonnya lah yang sebenarnya menjadi tokoh utama dalam kemajuan perfilman kita. Mau dibawa ke mana film Indonesia di masa depan belumlah jelas. Keluarga ‘lama’ produser film kembali membuat film, dan bahwa ada generasi elit kebudayaan yang film-filmnya tidak terlalu menarik perhatian penonton lokal namun berjaya di festival-festival luar negeri. Kita sendirilah sebagai penikmat film yang menentukan itu semua.

sumber : Buku ‘Mau dibawa Kemana Sinema Kita?’

dukung perfilman tanah air.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s