REVIEW FILM ‘Perempuan Punya Cerita (2007)’

PEREMPUAN PUNYA CERITA

Berkat Kartini, wanita mempunyai kesetaraan dengan laki-laki. Walau dalam bukti nyata-nya masih ada perlakuan yang tidak pantas diterima oleh wanita, mereka tetap kuat dan bangkit untuk berdiri menjadi kartini-kartini lainnya. Kalau Hollywood mempunyai The Help, para pembantu yang bangkit melawan majikannya juga rasisme yang menjijikkan maka Indonesia mempunyai Perempuan Punya Cerita yang merupakan cerita tentang empat seqmen kemalangan para perempuan yang ingin bangkit dan berjuang melawan kerasnya hidup yang dialami ataupun sebaliknya. Mungkin banyak yang tidak mendengar arus terjang film ini, tapi jangan salah sangka film yang terdiri dari empat cerita ini akan memainkan perasaan penontonnya, sedih, senang, marah semua akan melebur menjadi satu. Film ini sama sekali tidak memberi ruang gerak ataupun rasa simpati terhadap perempuan, semua mengalir secara utuh dan keras. Memberi pola nyata seakan labirin yang tidak akan ada yang bisa keluar didalamnya.

Cerita Pulau

Cerita Pulau menceritakan tentang seorang bidan yang bernama Sumantri (Rieke Dyah Pitaloka) di salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Ia menjadi pusat kehidupan banyak orang, termasuk bagi perempuan yang disayanginya, Wulan (Rachel Maryam), seorang perempuan terbelakang mental. Hidup Sumantri sendiri tak mudah. Ia didiagnosa menderita kanker stadium lanjut. Sumantri juga sedang diperiksa polisi akibat sebuah kasus aborsi yang dilakukannya. Padahal menurut Sumantri ia melakukan aborsi itu demi keselamatan pasiennya .

Tak cukup dengan hal tersebut, Sumantri harus mengalami masalah lagi dengan mengetahui bahwa Wulan telah diperkosa dan kemudian mengandung anak. Wulan yang menderita keterbelakangan mental tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya yang telah mengandung. Sumantri yang berusaha menemukan siapa pelaku pemerkosaan tersebut harus mengalami dilema tentang apa yang harus dilakukannya kepada wulan sedangkan dia akan meninggalkan wulan pergi jauh merantau bersama suaminya untuk menyembuhkan kanker yang ia derita.

Tidak ada yang berlebihan di film ini. Ceritanya tidak dibuat-buat sedih, tidak di buat semacam fantasi yang bodoh. Cerita ini mengalir semestinya dengan dilema dan perilaku masyarkat yang merupakan contoh kebodohan. Sedih melihat Wulan, miris rasanya dan jijik terhadap perlakuan lelaki  yang hanya memikirkan kepuasannya saja. Perasaan berkecamuk ketika menonton film ini. Dapat merasakan apa yang dirasakan oleh Wulan adalah bukti bahwa film ini telah menyita bahkan membawa kedalam ceritanya.

Fatimah T. Rony telah sukses membawa cerita pulau menuju ubun-ubun paling atas dan membuat kepala berasap dan muka menahan amarah. Tekanan lingkungan dyang tak memberi ruang sedikitpun kepada perempuan. Tak ada pilihan bagi perempuan kecuali pilihan yang tambah menyudutkannya. Mulai dari lembaga medis, lembaga penegakkan hukum, , hingga kehidupan domestik, semuanya menyudutkan perempuan telah berhasil dieksekusi dengan baik.

Cerita Yogya

Naif, mudah tertipu inilah penggambaran perempuan yang masih menginjak remaja. Seragam putih abu-abu yang seharusnya masih diisi dengan kehidupan yang indah, lucu, puisi dan cinta layaknya di Ada Apa Dengan Cinta tidak diberikan disini. Remaja-remaja perempuan yang naif digambarkan disini. Eksekusi yang berani dari Upi Avianto.

Safina (Kirana Larasati) dan kelomponya adalah pelajar di salah satu SMA Yogyakarta. Salah satu teman Safira telah hamil akibat digilir oleh teman-teman sekelompoknya. Bisa tertawa bebas dengan para pelaku yang menyebabkan dia hamil bahkan digilir secara bergantian dan tidak memberikan ruang gerak sedikit-pun untuk redemption bagi mereka. Jay Anwar (Fauzi Baadila) yang mendengar tentang kegiatan dan masalah yang dihadapi remaja-remaja ini kemudian mendekati remaja-remaja ini dan mengambil cerita dari para sisi remaja ini. Jay yang mengaku seorang mahasiswa ini mendekati Safira dan berhasil mengambil keperawanan Safira.

Ceita ini mengalir tanpa ada yang bisa menghalanginya bak air terjun yang jatuh terus menerus tanpa henti. Tidak ada sekat yang membatasi film ini harus sampai dan cukup di titik mana. Kata ‘simpati’ ataupun ’empati’ dibuang di film ini. Perempuan digambarkan seperti tak berdarah ataupun berdagang. Sekali lagi cerita ini adalah bukti nyata yang ada di publik.

Cerita Cibinong

Esi (Shanty) berjuang keras demi anaknya, Maesaroh (Ken Nala Amrytha) untuk bersekolah dengan menjadi seorang pembersih WC di klub malam namun teman-teman Mae sering mengejek ibunya adalah seorang pelacur. Esi yang berjuang keras demi anaknya kabur dari rumah bersama Mae karena suatu hal yang sering kita lihat diberitakan di media, baik elektronik ataupun surat kabar.

Di film ini, digambarkan perjuangan keras Esi untuk anaknya, Mae bahkan ketika ada godaan yang datang dengan menawarkan Mae kerja di Jakarta namun Esi dengan tegas tidak ingin Mae bekerja karena mengerti dan tahu hidup apa yang akan di tawarkan oleh Mae nantinya. Namun sayangnya malah si Cici (Sarah Sechan) yang tergoda dan mengajak  Mae untuk ikut bersamanya dengan Bang jaja.

Film ini ingin membuka tentang Human Trafficking yang dialami oleh masyarakat-masyarakat diluar sana. Namun sayangnya kehidupan dan penggambaran Perdagangan Manusia ini kurang terasa eksekusinya, sudah baik namun kita dapat merasakan bahwa trafficking di luar sana akan lebih berat ketimbang di film ini. Mungkin tentang Perdagangan Manusia yang menjadi juara adalah Jamila dan Sang Presiden, tapi kita tidak boleh salah Cerita Cibinong juga memberikan kita potret human trafficking yang seharusnya tidak ada dan kaum perempuan lah yang mempunyai harga jual tinggi.

Cerita Jakarta

Masih banyak hal tabu yang beredar di masyarakat baik itu tentang seks ataupun penyakit yang seharusnya lebih disosialisasikan kepada masyarakat namun malah dianggap tabu atupun sebuah ketakutan yang hanya mengada-ada. AIDS, penyakit yang di nilai sebagai penyakit negatif di angkat didalam cerita ini. Ruang bebas yang luas dan mimpi-mimpi yang indah digambarkan disini. Hinar binarnya kota Jakarta bisa mengalahkan perjuangan Laksmi (Susan Bachtiar) untuk mengalahkan penyakit AIDS di dirinya dan juga memperjuangkan anaknya, Belinda juga ketika dituduh menularkan penyakit itu ke suaminya oleh mertuanya (Ratna Riantiarno).

Laksmi adalah seorang ibu. Walau ingin memperjuangkan segalanya dan ingin meraih mimpi-mimpi indahnya bersama anaknya, Belinda. Dia tetap seorang ibu yang bijaksana dan kuat. Di film ini kita bisa melihat penderitaan dan mungkin  rasa kasihan tehadap diri wanita.

Perempuan Punya Cerita
harusnya berbangga hati telah membuat susunan cerita dengan tepat. Dari Perempuan untuk Perempuan. Tidak ada yang di sembunyikan, tidak ada yang dianggap tabu. Semua mengalir secara bijaksana dan adil. Tidak ada pahlawan disini yang ada disini adalah sebuah cerita dengan perspektif berbeda-beda.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s