SEPUTAR INTELEKTUALITAS MAHASISWA

Hari ini terjadi perdebatan sengit antara dosen dengan satu orang teman gua, seorang mahasiswa (-red).

Sebenarnya perdebatan yang terjadi adalah tentang, ke-eksistensian mahasiswa sebagai kaum intelektual, masyarakat indonesia, dan seputar naiknya harga BBM.

“sebelum gua mulai dengan duduk perkaranya, gua mohon maaf apabila ada kata yang tidak menyenangkan, mengurangi fakta yang terjadi dilapangan, ataupun pendapat gua yang secara pribadi mungkin tidak dapat diterima oleh kalian yang membaca post ini tapi semoga kalian bisa mengerti bahwa disinilah tempat gua bsa melakukan apa yang disebut sebagai ‘demokrasi’ dan gua mencoba membuatnya dengan kata-kata yang baik.”

Pertama-tama perdebatan yang terjadi dimulai dari pembahasan anomi yang kemudian dosen gua merambat bahwa mahasiswa adalah barometer dari demokrasi sehingga secara tidak langsung mahasiswa sebenarnya harus turun kejalan dan menyuarakan aspirasi masyarakat. Gua akuin itu semua benar namun sayang, ketika dia mengatakan bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual. Mahasiswa seharusnya melihat dari banyak buku, buku-buku raut kemiskinan wajah indonesia, buku-buku rakyat, buku-buku yang harus dibela.

gua tidak sependepat dengan dia, mungkin tidak terlalu sependapat. Memang benar mahasiswa adalah barometer dari demokrasi tapi bukan dengan lantas seperti itu mahasiswa bisa melakukan segalanya dengan sepuas-puasnya terlebih lagi dengan buku yang diamaksudkan, yaitu “buku rakyat.” Mahasiswa memang harus mempunyai idealisme yang tinggi tapi bukan berarti mereka harus melupakan ke-realistisan yang ada.

Mahasiswa adalah kamu intelektual. Tapi ketika mendengar penjelasan beliau tentang mahasiswa yang harus melihat buku-buku tersebut entah kenapa dimata gua, mahasiswa lebih terlihat seperti memiliki pemahaman yang sempit ketimbang dari ke-intelektual an mereka. Bukan berarti gua seorang yang tidak pro-rakyat tapi disini gua cuman ingin menegaskan arti kata ‘intelektual’ itu sendiri menurut gua, bahwa intelektual itu cerdas, berakal dan dapat berpikir dengan jernih.

Itu berarti karena mahasiswa adalah kaum intelektual sudah seharusnya segala tindakan yang dia hasilkan harusnya bersifat cerdas dengan arti kata lain seharusnya dapat mempertimbangkan segalanya dan juga mengkaji kebenaran tentang apa yang akan mereka lakukan bukan hanya melihatnya dari ‘hati’. Jelas kalau mahasiswa melihat segala sesuatu dengan hati tentu saja hasil yang didapatkan tidak akan objektif. Yang artinya bahwa mahasiswa sebagai kaum intelektual harusnya bisa berfikir secara rasional dalam menentukan suatu kegiatan yang hendaknya mereka akan lakukan.

Rasa-rasanya gua mulai skeptis bila mahasiswa hanya bertindak berdasarkan hati namun tidak secara rasional. Secara perlahan itu bisa saja menimbulkan chaos dinegara kita. Terlebih lagi diera sekarang kebanyakan mahasiswa mulai bersifat apatis atau bahkan oportunis.

Lebih memilih mana? mahasiswa yang bersifat oportunis? apatis? atau mahasiswa yang bertindak berdasarkan hati nurani?.

Dengan rasa hormat, gua lebih memilih mahasiswa yang bertindak berdasarkan hati nurani namun bisa berfikir secara rasional sebagai pembuktian bahwa mahasiswa adalah kaum intelektual.

kemudian duduk perkara bertambah, dari pembahasan ke-intelektualan mahasiswa lalu merambah menuju rakyat-rakyat miskin dengan posisi negara kita sebagai negara berkembang. Beliau (dosen) berkata bahwa mindset dipikiran bahwa orang miskin adalah orang yang suka meminta-minta dan susah untuk dibuka kembali jalan pikirannya, lalu mengapa kita sebagai negara berkembang mempertahankan posisi sebagai negara yang kekeluargaan ketimbang sebagai negara liberalis ala USA atau ketat ala RRC? gua enggak terlalu mengerti apa yang dia sampaikan tentang hal itu semua yang pasti duduk perkara dari pertanyaan yang diajukan tidak terselesaikan.

Kita lihat dari rakyat-rakyat miskin. Gua terlebih dulu akan mengutip perkataan dari Ahmad Wahib,

“Aku tidak mengerti keadaan di Indonesia ini. Ada orang yang sudha sepuluh tahun jadi tukang becak. Tidak meningkat-ningkat. Seorang tukang cukur bercerita dia sudah 20 tahun menjadi tukang cukur. Penghasilannya hampir sama tetap saja. Bagaimana ini?…Mengapa ada orang indonesia yang sampai puluhan tahun menjadi pekerja-pekerja kasar yang itu-itu juga. Pengetahuan mereka juga tidak meningkat. Apa bedanya mencukur 3 tahun dengan mencukur 20 tahun? apa bedanya menggenjot becak setahun dengan sepuluh tahun? Ide untuk maju walaupun pelan-pelan masih sangat kurang di Indonesia ini. Baru-baru ini saya melihat gambar-gambar orang tua di majalah. Dia telah 35 tahun menjadi tukang potong dodol pada sebuah perusahaan dodol, potong-potong terus… potong terus, tiap detik, jam, hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun…. sampai 35 tahun. Masya Allah.”

Jelas dari sini terlihat betapa bekunya atau piciknya pikiran rakyat-rakyat kita. Mereka kehilangan mimpi-mimpinya dan mereka dengan mudahnya menyerah pula terhadap keadaannya.

Tapi apa benar bahwa banyak rakyat miskin yang hanya seperti itu saja, menyerah terhadap keadaan mereka, dan kehilangan impian-impian mereka.

Tidak jauh-jauh dan hampir sama persis dari contoh temen gua (-red) yang sedang beradu debat dengan beliau (dosen), dia memberikan contoh bahwa dikeluarganya ada pamannya yang hanya kalau tidak salah bekerja sebagai tukang kasar namun bisa dengan gigihnya berjuang hingga bisa membuat anaknya sekolah di luar negeri. Sama pula dengan paman saya yang hanya bermodalkan lima puluh ribu rupiah ke Jakarta dengan langkah nekat namun sekarang dia menjadi orang yang sukses.

Jelas bahwa memang rakyat kita itu kekurangan mimpi, menyerah pada keadaan namun sebenarnya mereka bisa! bisa menjadi lebih dari apa yang mereka bayangkan. Menjadi orang yang sukses dan tidak harus menyerah pada keadaan!

Sudah cukup rakyat kita menikmati delusi dari embel-embel kata ‘subsidi’. Sudah saatnya kita hidup mandiri sebagai seorang rakyat dan mulai menciptakan mimpi-mimpi dan berusaha meraihnya bukan hanya bermimpi namun menyerah dan melupakan mimpi-mimpi itu. Kenaikan BBM bukan-lah akhir dari segalanya, yang menjadi akhir dari segalanya adalah dimana kita selaku rakyat memilih untuk terbinasakan oleh kenaikan BBM atau survive dari kenaikan BBM. itu adalah point terpenting yang harus dipikirkan.

Pembahasan menarik lainnya adalah kenapa negara kita sebagai negara berkembang tetap mempertahankan posisi sebagai negara yang bisa dibilang menganut sistem kekeluargaan?

Saya tidak begitu memiliki pengetahuan yang mendasar dengan baik untuk pertanyaan tersebut dan conclusion dari beliau (dosen) juga lagi-lagi tidak jelas dan tidak menyelesaikan duduk perkara yang terjadi. Yang jelas permasalahan yang kita hadapi adalah tentang ‘krisis kepemimpinan.’

Yang pasti terlepas dari sistem apapun yang dianut oleh Indonesia, untuk membuat negara kita ini sebagai negara maju adalah bagaimana kita mencintai tanah air Indonesia.

Advertisements

One thought on “SEPUTAR INTELEKTUALITAS MAHASISWA

  1. kenaikan bbm memang sangat tidak menyejahterakan masyarakat, seharusnya pemerintah mengambil solusi atau alternatif lain untuk menutupi “kerugian ” yang dialami oleh pemerintah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s