REVIEW “MARMUT MERAH JAMBU” (2014)

JATUH CINTA DIAM-DIAM

 

Apasih rasanya jatuh cinta?…”Memikirkan seseorang setiap saat, gelisah disaat didekatnya, jantung berdetak tidak karuan menantinya, semacam batin tidak tenang ataupun gelisah atas hormon-hormon yang membentuk rasa itu: rasa cinta”. Semacam tidak ada kata rasional ketika mengalaminya: rasa sedih, marah, rindu, kecewa menjadi satu pelampiasan didalam seorang tokoh laki-laki bernama Dika atau Raditya Dika (diperankan oleh Christoffer Nelwan) yang menginjak masa remaja SMA.

Cerita dimulai ketika Dika Dewasa (diperankan oleh Raditya Dika) berkunjung kerumah seorang wanita yang pernah dia suka secara diam-diam bernama Ina. Dika membawa tumpukan origami bangau yang hendak diberikannya kepada Ina. Bukannya malah bertemu dengan si Ina malah bertemu dengan ayahnya (diperankan oleh Tiko Pakusodewo). Ayahnya si Ina ini tidak menyukai Dika karena mengingat sebuah peristiwa yang membuat terdapat luka bekas ditubuhnya. Alih-alih untuk meredam suasana, si Dika kemudian meminta waktu satu jam untuk menceritakan asal muasal permasalahannya yang lalu oleh ayah si Ina diberikan waktu selama setengah jam.

dika gede radityadikacomSOURCE: radityadika.com

Dalam setengah jam tersebutlah si Dika harus berusaha menceritakan kronologi kejadian pada masa SMA nya.

Dika remaja berteman dengan Bertus (diperankan oleh Julian Liberty) yang dimana mereka berdua mempunyai satu misi: menjadi terkenal. Dika dan Bertus kemudian memutuskan untuk membuat sebuah kelompok detektif yang akan memecahkan masalah-masalah disekitarnya. Masalah pertama pun dimulai: MISTERI HILANGNYA BOLA BASKET.

dika radityadikacomSOURCE: radityadika.com

Diminta bantuan oleh gurunya, mereka lalu dengan bersemangat pun berusaha memecahkan misteri tersebut. Pemecahan misteri tersebut menghasilkan analisis konyol dan bodoh sehingga malah membuat misteri semakin mumet namun untungnya mendadak muncul Cindy (diperankan oleh Sonya Pandarmawan) yang menyelesaikan misteri tersebut dengan pemikiran yang rasional.

cindy radityadikacomSOURCE: radityadika.com

Kelompok detektif itu pun bertambah satu anggota, yaitu Cindy yang diperkerjakan oleh Dika dan Bertus dengan posisi: magang. Kelompok detektif tiga sekawan pun terbentuk dan kemudian sebuah misteri pun muncul kembali, yaitu: MISTERI SURAT KALENG KETUA OSIS.

Berbeda dengan sebelumnya, Misteri kali ini dipecahkan oleh Dika namun tanpa disangka dalam perjalanan menemukan pemecahan misteri ini, Dika melihat Ina dan Maikel sedang berkencan dan lantas membuat hatinya hancur. Seselesainya misteri kedua ini Kelompok tiga sekawan mendapatkan ruangan untuk kegiatan dektektif mereka akibat menolong si ketua osis. Misi pun berhasil, baik Dika dan Bertus pun lalu berhasil menjadi terkenal, tapi tanpa diketahui oleh Bertus dan Cindy – Dika jatuh cinta diam-diam dengan Ina.

Ketika mereka terkenal misteri ketiga pun ada, sebuah misteri tentang ancaman pembunuhan terhadap kepala sekolah. MISTERI PEMBUNUHAN KEPALA SEKOLAH. Misteri-nya adalah sebuah graffiti di tembok sekolah yang menuai ancaman. Lucunya, gambar yang didalam tembok tersebut adalah gambar marmut berwarna merah jambu yang disangka oleh tiga sekawan dan si kepala sekolah adalah gambar iblis yang jahat.

Hingga pada akhirnya, misteri ini tidak pernah terselesaikan sampai suatu ketika… misteri Marmut Merah Jambu pun dibuka kembali oleh Dika dewasa.

 poster marmut indonesinemacom

 SOURCE: indonesinema.com

Marmut Merah Jambu adalah sebuah film komedi – remaja yang mungkin sangat dirindu oleh kita-kita ini yang sangat jarang menikmati film komedi – remaja dengan kekhasan didalamnya. Marmut Merah Jambu sangat spesial dibandingkan dengan film-film yang diangkat dari novel Raditya Dika, yaitu dengan posisi Raditya Dika sebagai sutradara dan scriptwriter. Ketika pada akhirnya selesai menonton film ini, kita sangat menyesal karena sudah sedari dulu seharusnya Raditya Dika menerjemahkan sendiri novelnya dan menyutradarainya.

Marmut Merah Jambu menawarkan sebuah cerita cinta remaja yang dianalogikan sebagai seekor marmut berwarna merah jambu yang berlari di sebuah roda seolah berjalan jauh tapi tidak kemana-mana tanpa tahu kapan dia berhenti. Film ini melihat cinta sebagai hal yang random tanpa tahu kapan datang khas ala remaja SMA. Kita tertawa, tersenyum, cenge-ngesan sendiri, terhenyuk, dan terdiam ketika menonton ini.

Marmut Merah Jambu tidak seperti novelnya bahkan sangat jauh dari novelnya, tapi ini lah poin utama ketika novel diterjemahkan sebagai naskah film, yaitu: rasionalitas akan film tersebut. Marmut Merah Jambu sederhana, tidak berlebih, tidak memaksa, bahkan kadang berlebih atau bisa dibilang lebay tapi kembali kita tertawa melihat tingkah jenaka si Dika dan terutama alat kejut listrik milik si Bertus.

bertus radityadikacomSOURCE: radityadika.com

Bukan hal tentang cinta saja, Marmut Merah Jambu melihat intrik persahabatan antara Dika dan Bertus dan tentu saja ini sangat luar biasa dengan diperankan oleh Christoffer Nelwan dan Julian Liberty yang mewujudkan chemistry itu. Pemilihan peran sangat mendukung film ini, terutama Christoffer Nelwan yang sangat mirip dengan Raditya Dika sehingga seakan-akan nyata bahwa dia adalah Dika Remaja.

Jangan lupakan komedinya, sebelum-sebelumnya tidak semua orang bisa menerima komedi Raditya Dika tapi di film ini komedi tersebut sangat berbeda dan akan bisa dinikmati oleh orang-orang yang bahkan belum pernah membaca ataupun menonton film Raditya Dika. Dengan Maikel yang diceritakan seorang pria ganteng, ketua tim basket, dan paling penting: rambutnya yang wangi. Damn! Saya tertawa menyaksikan ini tanpa bisa berhenti. Dan perlu diperhatikan papan-papan reklame ataupun gerobak bakso bisa memicu gelak tawa hanya dengan sebaris kata.

Mungkin akan sedikit terganggu dengan product placement didalam film ini terutama baju Vans yang selalu dipakai didalam film ini serta RSCH dan Prambors. Tapi untungnya tidak memiliki efek yang sangat berarti tidak seperti film dengan wafer cokelat yang sangat mengganggu. Porsi promosi pas walau kita yang mengenal produk tersebut lah yang akan sedikit terganggu. Selain itu, mungkin sudah saatnya Raditya Dika mempertimbangkan posisinya yang sebagai aktor karena sesungguhnya aktingnya terkesan kaku dan malah jomplang dengan aktor lainnya.

Hal terpenting adalah akhir film ini ketika Raditya Dika cukup mengatakan “berhenti, yuk”. Itu sangat dewasa, keren, dan luar biasa ketika pertanyaan tentang marmut merah jambu ini berhasil dipecahkan dan dijawab dengan dewasa oleh Dika.

Ini film menyenangkan, ringan, dan cocok untuk ditonton bersama oleh si dia atau pun dia yang kita cintai secara diam-diam. Soundtrack-nya pun lumayan membuat kita penonton tersenyum kecil diam-diam. Lucu, jenaka, dan pintar. Sebuah film Indonesia yang telah lama hilang membuat kita merindu ketika dihadirkan kembali.

 

08

 

 

video clip soundtrack Marmut Merah Jambu:

Video Clip “Marmut Merah Jambu” – THE NELWANS

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s