REVIEW “TOILET BLUES (2014)”

TOILET BLUES: EKSISTENSI KEMANUSIAAN

 

Anjani (diperankan oleh Shirley Anggrainin) bersama Anggalih (diperankan oleh Tim Matindas) sedang duduk termenung di atas rel kereta api, sementara itu seorang pegawai dinas perhubungan tengah memotong dahan pohon pisang. Orang tersebut lalu berjalan menuju Anjani dan Anggalih dengan dahan pohon pisang yang dibawanya dia menutup sesosok mayat lelaki yang habis ditabrak kereta api.

Anjani dan Anggalih lalu bersama menyusuri jalan di rel kereta api. Terdiam tanpa menghabiskan banyak kata, termenung menyusuri jalanan daerah Jawa Tengah diiringi dengan ambience suara Jangkring.

Anjani dikala itu sedang meragu dengan pilihan hidupnya kepada bodyguard (diperankan oleh Tio Pakusadewo) yang ditugaskan ayahnya untuk menjaganya sedangkan dia jatuh cinta sejak dulu kepada Anggalih sahabat kecilnya yang tengah menyiapkan dirinya untuk menjadi Pastor. Alih-alih merasa siap untuk menjadi Pastor agar dapat mengembalikan harga diri Ayahnya, dia sendiri sebenarnya meragu akan keputusannya untuk menyerahkan dirinya kepada tuhan seutuhnya.

BC-194

Sumber: toiletblues.com

 

Toilet Blues (2014) adalah sebuah film arthouse pertama ditahun 2014 ini. Sebuah jenis film yang umumnya sangat jarang ditemui di perfilman Indonesia dan serta pastinya mempunyai segmentasi khusus untuk para penontonnya. Untunglah disediakan tempat untuk film ini di beberapa bioskop di Indonesia dan bersyukurnya saya dapat menikmatinya di Blitzmegaplex terdekat walaupun saat itu banyak film-film hebat bersaing dengannya dan terlihat hanya saya sendiri yang menghuni satu studio besar untuk menyaksikan film tersebut.

Toilet Blues adalah sebuah film arthouse yang disutradarai oleh Dirmawan Hatta yang setelah saya mencari tahu bagaimana film yang buat saya seperti baitan syair ini ternyata terinspirasi dari sebuah puisi karangan W.S Rendra, yaitu Nyanyian Angsa.

Sebagai film arthouse tidak butuhkan sebuah pikiran yang muluk-muluk dalam usaha mencerna apa-apa yang disampaikan dalam film ini tapi yang ada menikmati setiap makna dalam simbol-simbol yang disajikan dalam Toilet Blues melalui art yang divisualisasikannya.

Buat saya, ini adalah sebuah film tentang pencarian makna akan eksistensi diri pada setiap tokoh baik Anjani maupun Anggalih. Anjani seringkali berkeluh kesah tentang hidupnya yang terlalu liar dan terlihat bagaimana ketika dia menyatakan dengan pasti kepada Anggalih bahwa dirinya masih perawan walaupun telah dipergok ayahnya ia dalam keadaan mabuk dengan ketiga teman lelakinya. Bahkan diperjelas oleh Anjani bahwa ketiga teman lelakinya melihatnya mengenakan baju yang kancingnya terbuka tiga. Tetapi Anjani sendiri tidak disentuh ataupun ingin disentuh oleh ketiga teman lelakinya.

Anjani (Sumber: toiletblues.com)

Anjani (Sumber: toiletblues.com)

Apakah ini perlawan terhadap streotip akan makna kehidupan masa kini dimana: wanita mabuk – teler bersama kawan – berakhir diranjang – tanpa pakaian – menyatakan diri tidak perawan – berbangga dengan senang hati ?. tapi tidak untuk Anjani dia membuktikan bahwa streotip itu tidak berlaku baginya. Dia adalah dia tidak peduli apa yang dipikirkan oleh orang lain.

Sementara itu, Anggalih dengan sikap lugunya malah terbatuk-batuk menghisap rokok Anjani walaupun alih-alih mungkin ingin memperlihatkan bahwa dirinya tidak senaif seperti yang dipikirkan oleh Anjani. Dia tahu bahwa Anjani suka kepada dirinya tapi Anggalih yang telah semakin menetapkan dirinya kepada Tuhan malah tidak merasa bahwa mungkin apakah dia menyukai Anjani atau tidak tapi malah membayangkan bagaimana bila dia dan Anjani tengah bercumbu disebuah hutan, saling berpangutan mengeluarkan nafsu seperti binatang dan terengah-engah ingin menutaskan zinah tanpa akal waras.

Ini adalah penggambaran bagaimana seorang manusia tengah melihat dirinya sendiri dikuasai oleh kekuatan yang tidak habisnya dapat diterima oleh akal sehat. Anggalih ingin menolak itu. Menolak akan perasaan hawa nafsu semata yang cepat habis dengan penyesalan dibelakangnya. Tapi sayang Anggalih sama halnya dengan manusia biasa yang tidak dapat menahan hawa nafsunya walaupun berhasil mencegah dirinya menyentuh buah dada Anjani tetapi malah disebuah rumah bordil melakukan hubungan badan dengan seorang wanita yang sebelumnya telah disetubuhi oleh tiga pria.

Dilain pihak Anjani mempertanyakan kepada Anggalih kenapa dia tidak bisa menjadi satu-satunya orang yang diselamatkan oleh Anggalih. Dia merasa cemburu bagaimana Tuhan tanpa perlu melakukan usaha keras dapat merebut hati Anggalih seutuhnya hingga membuatnya dapat mengorbankan dirinya seutuhnya dihadapannya tanpa adanya paksaan sama sekali sementara dia dengan usahanya sedemikan keras tidak dapat membuat Anggalih jatuh kesisinya. Sebegitu tidak adakah ruang dihati Anggalih untuk dirinya diucapakan Anjani dengan tatapan kosong.

Anggalih dan Anjani (Sumber: toiletblues.com)

Anggalih dan Anjani (Sumber: toiletblues.com)

Mungkin disaat itu Anggalih tidak tahu bagaimana dia menaruh perasaan kepada Anjani walaupun ketika kita tengah menonton kita tersadar bagaimana Anggalih selalu berjalan mengikuti arah Anjani walaupun tanpa tahu mereka akan kemana. Dengan jalan-jalan yang dipenuhi kemaksiatan yang sangat tidak cocok dengan dirinya ia tetap memilih berjalan bersama Anjani.

Disela-sela itu pula dia selalu bertanya kepada banyak orang “ada yang bisa saya bantu,” tapi sayangnya orang-orang tetap melihat kedepan tanpa perlu sedikit pun melihat kearahnya dan berjalan meninggalkannya. Toh kenyataannya, dia yang berusaha menjadi Pastur agar dapat menolong orang-orang masuk surga ternyata tidak ada seorang pun yang ingin ditolongnya. Sekalinya ada seseorang yang meminta tolong agar dibeli sepatu yang dijualnya malah Anggalih enggan menolong karena tidak memiliki uang. Betapa miris perjalanan yang harus dihadapi olehnya.

Pada akhirnya mereka pun berhenti disebuah satu titik yang dimana Anjani yang akhirnya memutuskan untuk pergi bersama dengan bodyguard nya dan Anggalih yang masih dalam perjalanan mencari tahu apa yang diinginkannya. Kisah tidak berakhir seperti begitu saja dimana Anjani dan sang Bodyguard menghabiskan waktu bersama di sebuah cottage. Disitu saya merasa seperti melihat sebuah renungan-renungan bagaimana Anjani yang masih begitu muda dapat jatuh hati kepada seorang pria tua berperut buncit. Mungkin ini adalah sebuah rasa rindu akan kehadiran sosok pria dewasa dalam kehidupan Anjani terlihat bagaimana Anjani yang meminta agar ditemani tidur kepada Bodyguardnya.

Malam pun bergulir dengan Anjani tiba-tiba berjalan-jalan melihat pertunjukan perwayangan khas Jawa dia begitu senang, semangat dan seakan-akan bebas dan terkagum-kagum akan hal yang dilihatnya tapi mendadak dia hanya melihat hal tersebut dari balik jendelanya dan dengan Bodyguardnya dia hendak melihat pentas tersebut tetapi yang ada hanya sebuah kekosongan belaka tanpa ada satu pentas pun. Apakah ini tentang sebuah pengharapan dan kenyataan yang menyakitkan akan sebuah kekosongan yang diharapkan penuh dengan kegembiraan.

Hari pun berganti menjadi pagi tanpa perlu banyak percakapan yang begitu berarti antara Anjani dengan Bodyguardnya. Mereka pada akhirnya memutuskan untuk berjalan mengendarai mobil perjalanan disepanjang jalan yang kosong tanpa adanya lalu lalang kendaraan. sepi, sunyi, dan kelam sampai terdapat sebuah suara menggema. Anjani berteriak memanggil seorang penjual eskrim yang mengenderai sepeda. inilah satu titik dimana saya masih tidak terlalu paham apa maksud dari adegan ini, sepanjang jalan kenangan kah? tapi apa makna dan simbol dari penjual es krim tersebut. ini adalah sebuah film arthouse dan kita dapat menerkanya sesuka hati kita tanpa tuntutan apapun. entah penjual tersebut dilambangkan sebagai pemanis dalam hubungan Anjani serta bodyguard nya dimana pemanis tersebut adalah sebuah ancaman bagi hubungan mereka terlihat dari yang melakukan kontak komunikasi dengan penjual tersebut adalah bodyguard nya bukan Anjanji sendiri. Ataukah pemanis yang dilambangkan dengan penjual eskrim tersebut adalah sosok Anggalih yang kemudian eskrim tersebut dimakan oleh si bodyguard seperti tanda telah habisnya si Anggalih di hati Anjani. Kita semua hanya dapat menerka-nerka saja.

Perjalan terus berjalan hingga tiba disebuah hamparan pantai indah luas yang berwarna kebiruan. memancarkan kesederhaan karunia ciptaan Tuhan. Disanalah semua karakter berkumpul disatukan oleh penjaga kereta api diawal yang menutup sesosok mayat laki-laki dengan dahan pohon pisang. Bersamanya mereka semua duduk di depan sebuah makanan yang melingkari mereka. Lagi-lagi apakah ini hanya sekedar semata pelukisan akan kebersamaan sesama umat beragama atau sesama manusia semata?. Lucunya mereka tengah menikmati hidangan didepan sebuah toilet tanpa peduli bagaimana bau didalam toilet umum tersebut.

Hingga pada akhir kisah semua tokoh duduk dan saling memanjatkan doa atas pusi syukurnya kepada Tuhan yang telah memberikan mereka nitmat karunia hidup.

 

Dititik inilah saya tersadar bahwa sepanjang 85 menit saya menonton film Toilet Blues dia tidak menyajikan sebuah kisah perjalanan hidup manusia dengan keimanan tapi bagaimana bahwa kemanusian itu sendiri lebih dermawan dari keimanan. Bahwasanya tidak peduli sekotor apapun dirimu yang diibaratkan dengan sebuah toilet kamu akan tetap berwarna biru cerah seperti langit yang membentang pantai dengan sinar mentari hangatnya. Toilet Blues adalah film tentang sebuah arti kemanusian yang harus dijunjung tidak, kita tidak berbicara tentang perbedaan agama kita hanya berbicara tentang pola tingkah manusia yang begitu jenaka.

    Sumber: toiletblues.com

Sumber: toiletblues.com

 

07

Advertisements

One thought on “REVIEW “TOILET BLUES (2014)”

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s