REVIEW “THE FAULT IN OUR STAR” (2014)

TFIOS: This Is The Truth

 

Hazel Grace Lancaster (diperankan oleh Shailene Woodley) adalah penderita kanker paru-paru yang mengharuskannya selalu menggunakan tank oksigen dan dalam masa-masa sekaratnya dia diharapkan bergabung kesebuah support group for cancer yang membantu pencerahan terhadap para penderita kanker. Disanalah dia bertemu dengan Augustus Waters (diperankan oleh Ansel Elgort) penderita kanker yang telah kehilangan kakinya. Bersama mereka menjalin sebuah hubungan walaupun disatu sisi Hazel tidak ingin ada hubungan yang lebih diantara mereka berdua namun Gus dengan terang-terangan menyatakan bahwa dia jatuh cinta kepada Hazel. Hazel yang menganggap dirinya like a granat ingin agar Gus menjauh darinya tapi petualangan mereka memaksa mereka harus tetap bersama.

Hazel and Gus in Amsterdam. spending time together when they discover they didnt have a long time to be together

Hazel and Gus in Amsterdam. spending time together when they discover they didnt have a long time to be together.  Source: imdb.com

The Fault In Our Star yang berikutnya akan disingkat sebagai TFIOS adalah sebuah film yang diangkat dari novel berjudul sama dikarang oleh John Greens. Pada review kali ini saya akan membahasnya hanya dari segi ‘film’ tanpa perlu memperhatikan ‘novel’nya karena saya sendiri belum membaca novel tersebut.

TFIOS sebagai sebuah film jelas adalah sebuah film bergenre drama romantis yang dikhususkan dengan sasaran remaja berusia 13 tahun keatas. Secara keseluruhan, tidak ada yang istimewa dari film ini. Lagi-lagi hanya diselingi cerita kasmaran seorang remaja dengan dibumbui penyakit ganas menggerogoti tubuhnya dengan bayang-bayang kematian menghampirinya sehingga lagi-lagi film bertemakan seperti ini hanya mengangkat betapa waktu sedikit yang dipunyai oleh para penderita kanker dan betapa waktu yang sedikit tersebut menjadi sangat berharga lebih dari apapun didunia. Well, see it boring than!.

Terlepas dari fakta keboringan tersebut tampaknya ada sesuatu yang sangat kuat didalam film ini maupun novelnya yang membuat orang-orang betah menonton filmnya dan bahkan hingga tears is coming like a rain sepanjang film diputar terutama bagi wanita yang menontonnya (tidak ini bukan rasis akan gender).

Hazel and Gus

Hazel and Gus. source: imdb.com

 

Dengan pemeran utama Shailene Woodley yang sebelumnya telah bermain dalam Divergent dan The Spectacular Now dapat dengan cantik memerankan karakter Hazel hingga bahkan ia merelakan rambutnya untuk dipangkas pendek padahal rambut panjangnya yang indah tersebut akan sangat dibutuhkan untuk film dia selanjutnya, yaitu Insurgent. Pengorbanan seperti ini lah yang mungkin menyebabkan dia tampil sangat total memerankan tokoh penderita kanker ini. Bukan hanya Woodley saja yang tampil penuh Kharismatik jangan lupakan Ansel Elgort yang memerankan Gus sebenarnya dia tidak terlalu memerankan sangat baik karakter Gus bahkan terlihat jomplang dengan tokoh-tokoh lainnya tapi yang sangat membantu dia dalam film ini adalah chemistry yang dberhasil ia bangun bersama dengan Woodley sehingga karakter Gus dan Hazel dapat hidup. Mungkin bagi mereka berdua tidak terlalu berat membangun chemistry tersebut mengingat sebelumnya mereka telah dipertemukan lewat film Divergent uniknya dalam film tersebut mereka berdua berperan sebagai sepasang saudara sedangkan di TFIOS mereka sebagai kekasih.

Karakter kuat lainnya yang muncul disini adalah Frannie, ibu Hazel (diperankan oleh Laura Dern) dan Michael, ayah Hazel (diperankan oleh Sam Trammell). Walaupun porsi mereka sedikit tapi mereka dapat mampu menghidupkan suasana orang tua yang akan kehilangan anak mereka satu-satunya. Tapi sayang tidak terlalu banyak cukup porsi untuk mereka berdua disini. Bukan berarti dengan porsi yang banyak harus dibumbui dengan adegan kasihan, sedih, atau termehek-mehek mungkin kekuatan dan ketegaran orangtua akan menjadi bumbu yang manis dalam film ini. Entah bagaimana porsi orangtua Hazel didalam bukunya seperti apa tapi apa salahnya bukan jika ada sedikit tambahan cerita yang tentu mungkin dapat membuat cerita semakin lebih hidup dan bernyawa daripada sekedar kisah dua pasangan mabuk di asmara yang menuju kematian masing-masing. Karena sedikit janggal ketika dalam perjalanan di Amsterdam, Frannie terkesan mendadak menghilang (off to screen) lalu dunia hanya milik Hazel dan Gus. Disini porsi tokoh menjadi sangatlah penting untuk meningkatkan balance antar karakter dalam penguatan ceritanya.

Tapi entah kenapa sebuah adegan sangat menganggu itupun datang. Adegan seks antar Hazel dengan Gus sejujurnya terlalu terbuka dan vulgar untuk sebuah cerita sederhana yang seharusnya penuh dengan gambar yang indah dan manis. Entah apakah ini faktor Woodley yang mungkin menyukai bagian tubuhnya terekspos mengingat adegan seks yang dilakoninya juga di The Spectacular Now yang cukup berani dengan memperlihatkan buah dadanya sehingga hal itupun dilakukan pula di film TFIOS ini walaupun hanya terlihat bagian punggungnya saja cuman karena diambil dengan Extreme Long Shot tentu sangat cukup jelas memperlihatkan lekukan tubuhnya yang terang saja cukup menganggu untuk film sejenis drama romantis remaja ini. Adegan seks tidaklah dijadikan permasalahan karena intimacy itu pasti dibutuhkan namun gambar yang disajikan mungkin tentu harus dipilih lebih bijak kembali. Terlepas dari sebenarnya memang harus diakui tubuh Woodley sangat menarik.

Hazel and Gus. the time when Hazel asked Gus to be just a friend. not more than that.

Hazel and Gus. the time when Hazel asked Gus to be just a friend. not more than that. Source: imdb.com

 

Karakter yang cukup menyenangkan dan punya kekuatan yang cukup terlihat dari tokoh Isaac yang diperankan oleh Nat Wolff serta Van Houten (diperankan oleh William Dafoe), seorang penulis yang disukai oleh Hazel yang menyebabkan kepergian dia ke Amsterdam. Jenakanya, disini lah terasa bahwa TFIOS ini bukan juga sebuah cerita drama romantis yang dipenuhi dengan kisah bayang-bayang semu tentang dunia yang indah tapi dia juga menghadirkan realita yang cukup menghancurkan hati seseorang tanpa pandang bulu. Dititik ini lah mungkin bagi para pemerhati film drama merasa TFIOS menjadi sebuah film yang cukup diperhitungkan dari film-film bergenre sejenis lainnya. Terlepas dari dialog-dialog pasaran yang umumnya ditemukan di film bergenre sejenis, seperti dialog:

But, Gus, my love, I cannot tell you how thankful I am for our little infinity. I wouldn’t trade it for the world. You gave me a forever within the numbered days, and I’m grateful.”

Itu adalah sebuah dialog pasaran yang selalu kita temukan di film-film sejenis ini. A Walk To Remember adalah salah satu film yang mungkin menjadi sebuah referensi yang baik untuk film TFIOS ini walaupun secara pribadi saya lebih memilih TFIOS ketimbang film tersebut.

Sepanjang waktu selama 120 menit lebih tersebut kita selaku penonton tidak akan terasa waktu bergulir begitu cepat walaupun auditorium anda dipenuhi segukan dan tetesan air mata yang cukup mengganggu tapi jelas film ini dapat sangat dinikmati karena performa yang hebat dari setiap pemainnya. Soundtrack nya pun tidak kalah ciamik sehingga hal-hal kecil yang sebenarnya besar tersebut mampu membuat penonton berlinang air mata dengan deras.

Hazel and Isaac after Gus Funeral.

Hazel and Isaac after Gus Funeral.

The Fault In Our Star membuktikan bahwa walaupun cerita yang dibungkus dengan sederhana tapi memiliki jajaran pemain yang luar biasa dapat menjadikannya sebuah film yang sangat luar biasa. Beruntunglah baginya apabila para pemain tersebut salah pilih itu akan menjadi sebuah granat bagi film ini, seperti perkataan hazel “im like a granat”. Well, pada akhirnya TFIOS pun tidak menjadi sebuah granat yang menghancurkan filmnya tapi menjadi sebuah granat yang menghancurkan hati setiap penontonnya hingga bercucuran air mata kala menontonnya.

Tapi kembali lagi, film ini adalah sebuah film yang mungkin cukup lama dikenang tapi bisa jadi akan dengan mudah dilupakan oleh orang-orang. Setidaknya mereka berhasil balik modal.

 07

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s