CERITA PENDEK RUMAHAN #1

RUMAH BARA

 

Sepi dulu rasanya hati menyayat hingga dikandung badan tak ayal hingga remuk hati tak terkandung badan. Bara kecil dulu suka mengkhayal punya rumah besar hingga tak bisa dikandung badan serasa mimpi tak ayal jatuh terbentang.

Bara punya rumah tapi tak sebesar badan bahkan seringkali terasa sesak hingga badan sakit tak terbayang apalagi bila si empu-nya rumah datang menghampiri Bara untuk ditindih badannya tak ayal remuk badan serta hatinya. Sakit rasanya bila si empu-nya rumah mendatang sudah tak tahu diri dengan berkata kasar di kasari juga tubuh si Bara. Benci Bara sama si empu-nya rumah yang tak tahu diri suka senonoh sama dirinya.

Tapi Bara cuma bisa diam takut berbicara sama orang rumah takut dicaci dan dimaki lantas dianggap anak tak tahu diri serta dianggap lelaki banci yang tak bisa jaga diri. Padahal usianya saat itu baru menginjak lima tahun sudah bisa dianggap jaga diri dan tahu diri. Padahal, Bara lemah tak berdaya dipaksa dipukul ditampar dan dicaci sama si empu-nya rumah ditengah-tengah orang rumah pergi hilang entah kemana. Ditindih lagi ditindih lagi. Bara cuma bisa diam kalau sudah ditindih. Meringis pilu harga dirinya sebagai seorang lelaki kala ingat saat itu dia yang tak tahu mana benar mana salah mana hina mana dosa mana senang mana kesal mana marah mana benci mana sayang mana cinta. Dimana-mana yang Bara tahu kalau pulang kerumah disaat orang rumah tak ada si empu-nya rumah datang menghampiri untuk mendidih badannya.

Kala orang rumah datang melihat Bara tertidur dikamar sambil menangis dianggapnya sedang merajuk manja karena tak diajak bermain atau dibelikan mainan padahal saat itu Bara menangis karena tubuhnya sakit terutama saluran pembuangannya yang dipaksa untuk dipakai hal yang tidak sepantasnya. Bara cuman meringis dalam diam sambil berdoa berharap si empu-nya rumah mati mendadak terkena serangan jantung alih-alih bermimpi si empu-nya mati dibikin mati lah si Bara kalau berani-berani bilang sama orang rumah dirinya suka dipukul ditampar dan dicaci sama si empu-nya rumah ditengah-tengah orang rumah pergi hilang entah kemana. Ditindih lagi ditindih lagi.

Tiap hari disekolah Bara selalu tertidur merajuk takut pulang kerumah dipaksa bercerita namun terbayang-bayang akan kematiannya lantas dia memilih dalam diam berharap pulang kerumah yang dimimpinya. Sebuah rumah besar yang dipenuhi oleh perabotan mewah atau terkadang rumah minimalis yang sarat akan hidup sederhana dan kebahagian. Tapi lagi-lagi itu cuman mimpi karena rumah dihadapannya adalah rumah dimana tempat dia ditindih atau dimaki maupun dicaci sama si empu-nya rumah.

Lantas nilai turun serta peringkat terjun bebas. Orang rumah pikir Bara menjadi bodoh dan nakal tak ayal dipukulnya dia tiap malam karena dianggap anak durhaka dan tak tahu diri. Dimaki serta dicaci dirinya sama si orang rumah karena dianggap banci yang tak bisa jaga diri. Sakit hati Bara yang sering memimpikan rumah. Sebuah rumah besar yang dipenuhi oleh perabotan mewah atau terkadang rumah minimalis yang sarat akan hidup sederhana dan kebahagian.

Kini orang rumah sudah tidak ada begitu pula empu-nya rumah sudah semakin jarang datang ke rumah. Bara senang bukan kepalang tak lagi ditindih atau dimaki maupun dicaci sama si mereka. Bara lebih sering tertawa lepas melihat rumah-rumah besar di jalanan yang sering dilewatinya. Rumah-rumah yang sering menghampiri mimpinya. Sebuah rumah besar yang dipenuhi oleh perabotan mewah atau terkadang rumah minimalis yang sarat akan hidup sederhana dan kebahagian. Bara sering tertawa lepas sendirian melihat rumah-rumah dimimpinya walaupun terkadang diseret untuk dipukuli serta lagi-lagi dihina dicaci-maki bahkan diludahi karena dianggap orang gila. Bara lagi-lagi cuman diam takut berbicara sama orang rumah yang sebenarnya telah mati karena dibunuh oleh dia yang dulunya takut dicaci, dimaki serta sering dianggap anak tak tahu diri karena dianggap banci yang tak bisa jaga diri.

 

 

untuk mereka yang masih belum bisa menemukan rumah

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s