CERITA PENDEK RUMAHAN #2

SI SITI

 

Namanya siti. Siti ini remaja perempuan berusia 15 tahun yang berasal dari pedesaan pelosok jauh sana dia hendak berniat untuk mengubah hidupnya lantas setujulah ia untuk pergi ke negeri jiran mencari rezeki untuk keluarganya. Ditentang oleh keluarganya, si Siti lantas tak menyerah begitu saja kaburlah dia bersama dengan baju-bajunya tanpa uang seper sen pun.

Ketika si Emak melihat kamar Siti terkaget-kagetlah dia anak perempuan satu-satunya telah hilang entah kemana tanpa bersua pula. Ditemukanlah sepucuk surat diatas kasur kapuk kotor berdubu dan kusam. Diambillah itu surat sama si Emak. Emak cuman geleng-geleng kepala ngeliat kelakuan anak perempuannya satu ini.

“oalah.. Siti anakku… semoga kau lekas pulang tanpa kena derita apapun”, pekik si Emak yang ternyata sedang membaca surat dalam keadaan terbalik.

Sementara itu jauh disana Siti sedang naik mobil pickup bersama dengan puluhan perempuan lainnya yang disembunyikan dibawah terpal biru yang mengangkut aneka sayuran pula. Rupanya Si Siti dengan puluhan perempuan lainnya ditipu oleh orang yang mengaku dari LSM dan berniat menjadikan mereka TKW. Sambil berdoa dan bercucuran air mata Siti berkeluh kesah ditengah isak tangis perempuan lainnya.

“ya allah gusti … aku toh minta maaf… kualat sama emak…”, isaknya perlahan-lahan.

Mobil pick up berwarna hitam tersebut melaju kian cepat ditengah-tengah hujan dan petir yang menggelegar sambil membawa puluhan wanita yang kemungkinan besar kualat karena tidak mendengar nasihat orangtuanya. Niat mencari rezeki agar hidup lebih baik malah dibawa ke antah berantah membuat hidup semakin pusing menjadi.

“siti.. siti…”, keluh Emaknya yang tiada berhenti berdoa setiap hari untuk keselamatan Siti.

 

#####

Dua tahun sudah berlalu, si Siti sudah jadi remaja dewasa bertubuh gempal, dada besar dan pantat bahenol. Si Siti yang memakai baju serba minim sedang merajuk mesra kepada om-om ibu kota yang mencari pecun. Dipegang lah si dada Siti sama si om-om yang sedang digodanya, diremas-remas pula itu dada.

“aduh… om jangan nakal dong”, kata Siti dengan mesra.

Om tersebut memberikan kode kepada si Siti untuk masuk kedalam mobilnya. Menurutlah si Siti. Tak apa-apa ujarnya dalam hati asal bisa dapat uang lima puluh atau seratus ribu pun sudah cukup asal bisa makan sehari-hari. Sambil mobil melaju sembari pula Siti memajukan kepalanya. Maju – mundur – maju – mundur menghisap batang si om-om ganjen itu.

Didepaklah Siti dari mobil setelah lava keluar terpaksa pula ditelan olehnya. Kurang asem mungkin pikir Siti. Sudah dibuat senang dilempar sahaja lah dia keluar dari mobil tak kurang-kurangnya dilempar uang dua puluh ribuan sama si Om dari balik kaca mobil. Melajulah dia meninggalkan si Siti sendirian di tempat antah berantah.

Terpekiklah si Siti sambil menghujat-hujat, memaki-maki, menyumpah serapah si Om tersebut. Sesaklah hatinya sambil memungut uang dua puluh ribuan. Belum sempat dia tuntas marah disekap si Siti sama tiga preman kampung entah berasal dari mana. Terkaget-kagetlah si Siti ini yang tak bisa berontak sama sekali. Pasrah sudah Siti diperkosa ramai-ramai. Biarkan saja nanti kalau sudah selesai juga bubar. “Nasib…”, katanya dalam hati.

“ya allah… kemanakah kau bawa Siti anak perempuan ku satu-satunya itu? Ku berdoa tiap malam biar kau kembalikan Siti kepadaku gusti…. Siksalah hambamu ini yang lalai mengingatkan anaknya… gusti allah…. Jagalah anakku baik-baik”, doa si Emak sambil menangis berucucuran air mata.

 

#####

 

Sudah tiga tahun berlalu dari kejadian pemerkosaan itu. Siti sudah kapok jadi pecun dengan bayaran tak manusiawi atau mungkin tak berkepecunan pikirnya dalam hati. Siti kini jadi pembantu rumah tangga disebuah keluarga kaya raya. Aji mumpung dari jadi pecun naik jabatan jadi pembantu rumah tangga dengan penghasilan tetap dan hidup nyaman tidak usah tinggal di gubuk reot ditemani serangga dan hewan menjijikkan.

Majikan Siti datang. Si Bapak rupanya. Datang dengan muka masam sambil marah-marah enggak jelas. Teriaklah ia memanggil si Siti.

“SITIIIIIIIIIIIIIIIIIIII !!!”, teriaknya dengan muka marah.

“iya, paaaaak”, pekik Siti sambil berlari-lari ketakutan tumben-tumbenan si Bapak yang biasanya ramah dan baik hati ini marah-marah dengan menyeramkan. “ada apa pak?”, tanya Siti dengan ketakutan.

“APA ! APA !, PEMBANTU BEGO, BIKINKAN SAYA KOPI”, teriak si bapak didepan muka Siti. Siti yang ketakutan pun langsung berlari ke dapur membikinkan bapak kopi sambil gemetar. Diam-diam si Siti berpikir tentang kasus-kasus pemerkosaan, penganiyayaan bahkan pembunuhan terhadap para pembantu. Merindinglah dia mengingat peristiwa-peristiwa tersebut.

“ya allah.. lindungi saya..”, doa Siti dengan lirih.

Siti membawa segelas kopi dengan gemetar menuju bapak yang sedang duduk diruang tengah tak sengaja terpeleset lah ia sehingga menumpahkan kopi tersebut ke baju bapak. Si bapak yang terkaget-kaget dan berteriak kepanasan. Dipukullah si Siti di pipi hingga berdarah.

“TOLOL KAMU”, geram si bapak.

“pak… saya gak sengaja pak.. gak sengaja… maaf pak”, melas si Siti sambil meringkuk dan memegang kaki si bapak.

“sudah kesana kamu ke kamar”, ujar si Bapak lebih tenang. Siti pun berjalan tertatih-tatih sambil memegangi pipinya yang berdenyut kesakitan sementara si bapak duduk diruang tamu termenung diam.

Nan jauh tempat disana si Emak sedang sakit keras karena rindu sama si Siti. Sebentar lagi mati kata kebanyakan orang. Tak mau makan apapun cuman meringkuk di dalam kamar mengigau melihat Siti dan mengandai-ngandai Siti pulang kerumah. Berkhayal lah si Emak setiap kali ada anak perempuan datang ingin membantunya, dianggapnya mereka itu si Siti.

 

Sudah tiga hari Siti ketakutan karena sikap Bapak di hari itu. Sembari tertidur setelah berdoa dengan lirih kepada Tuhan. Tiba-tiba pintu berdecit, takutlah si Siti. Dimalam hari ini hanya dia dan si bapak yang ada dirumah. Ingat-ingatlah dia sama kasus pemerkosaan yang sering terjadi sama pembantu. Untungnya setelah peristiwa dia dan si bapak dia selalu siap membawa pisau yang ditaruh dibawah bantalnya.

“siti.. kamu udah tidur? Saya mau bicara sama kamu..”, ujar si bapak sendu.

“belum, pak…” kata Siti dengan gemetaran. Perlahan-lahan dia menarik pisau dari balik bantalnya. Dengan modal nekat berteriak lah dia sambil menerjang bapak yang hendak berucap sesuatu.

“saya mau minta…”, belum selesai si Bapak berbicara terkagetlah si Bapak tiba-tiba Siti menerjangnya. Tertusuklah dia di perutnya oleh Siti yang bertubi-tubi menusuk perut si Bapak dengan pisau berkali-kali.

“maaf…”, lirih si Bapak.

 

######

 

Si emak tiba-tiba dikejutkan oleh seorang tetangganya yang tergesa-gesa memasuki rumahnya. Tetangganya ini berteriak-teriak menyebutkan nama Siti. si Emak yang menyangka Siti telah pulang berusaha bangkit dari tempat tidurnya dengan senyum cerah. Tetangganya kini telah didepannya.

“siti mak, siti…”, jerit tetangganya.

“siti.. pulang? Alhamdullillah gusti allah…”, panjat syukur si Emak.

“bukan mak… siti di tipi mak, di tipi. Masuk tipi karena bunuh orang mak”, jerit tetangganya.

“oalah.. gusti allah…”, tersungkurlah si Emak mendengar berita tersebut.

“siti.. siti…”, menangis tersedu-sedulah si Emak.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s