REVIEW “ALL CHEERLEADERS DIE” (2014)

“Black – Horror Comedy?” – It’s not really comedy after all. Another L things.

 

Seorang gadis bernama Maddly Killian (diperankan oleh Caitlin Stasey) berniat untuk menjatuhkan pemimpin cheerleders disekolah mereka, yaitu Tracy Bingham (diperankan oleh Brooke Butler) yang dianggapnya memanfaatkan kesempatan ketika sahabatnya Alexis Grace Anderson (diperankan oleh Felisha Cooper) pemimpin cheerleaders terdahulu tewas mengenaskan akibat kecelakaan fatal. Tracy yang kemudian berpacaran dengan Terry Stankus (diperankan oleh Tom Williamson) dimana Terry sendiri adalah kekasih Alexis terdahulu pula membuat Maddly menyakinkan dirinya untuk membuat kehidupan mereka berdua menjadi rusak tapi sayang ditengah-tengah rencana liarnya tersebut malah membawa semua orang yang terlibat kedunia paranormal yang gelap dan dipenuhi dengan darah akibat ulah kekasih wanitanya, Leena Miller (diperankan oleh Sianoa Smit-Mcphee).

All Cheerleaders Die (2014). Source: imdb.com

All Cheerleaders Die (2014) [dari kiri Hanna, Tracy, Martha, Maddly) . Source: imdb.com

*****

All Cheerleaders Die (2013) menyuguhkan bingkisan awal polemik asmara dengan persahabatan yang menuai genderang perang. Demulai dengan gaya ala documentary atau footage tentang kehidupan Alexis membuat seakan-akan film ini akan berfokus kepada dia sebagai tokoh utamanya namun dalam hanya sekejap saja terpelintir ketika retakan leher Alexis memecah sunyi lapangan ditengah-tengah latihan para cheerleaders.

Cukup menjanjikan menampilkan sebuah awal yang cukup ngilu mendengar retakan yang mendengung memecahkan lapangan namun sayang cerita yang bertele-tele dengan daya tutur yang sangat lemah pada akhirnya membuat film ini menjadi rusak poranda dengan awal yang membuat bergidik ngeri.

Dimulai dengan keputusan Maddly untuk membalas dendam kepada Tracy dan Terry sehingga membuat kekasihnya Leena merasa kehilangan dirinya (ya, Maddly seorang gay). Kisah-kisah awal dimana Maddly berusaha mendekati Tracy dan membuat Terry cemburu sangat membuat waktu dan menjenuhkan hingga waktu terasa bergulir padat dengan mungkin epic failed nya film ini berfokus kepada kematian para cheerleaders akibat ulah para pemain football dan mereka dibangkitkan kembali hidup dalam bentuk vampire dan berusaha membalas dendam. Untuk sampai ketahap inti cerita saja memakan hingga durasi mungkin nyaris lebih dari 30 menit dengan tambahan another 30 menit lebih yang mungkin bisa membuat geleng-geleng kepala dengan film ini.

Maddly Killian (diperankan oleh Caitlin Stasey) dalam All Cheersleaders Die. Source: imdb.com

Maddly Killian (diperankan oleh Caitlin Stasey) dalam All Cheersleaders Die. Source: imdb.com

Semua salah. Film ini menjadi serba salah ketika mereka memulai dengan bagus dan menengahi dengan sangat brilian bodohnya hingga mengakhirinya dengan super wasting time. Ditambah efek-efek Leena sebagai seorang witch yang merupakan tokoh sentral membangkitkan hidup para cheerleaders malah seakan-akan terlihat bodoh dengan bebatuan ajaibnya yang terbang melayang berwarna hijau memasuki tubuh mereka yang mati dan sebuah batu berpenjar ungu menancap di leher Leena and im just gonna said, “how can be it’s so f*cking freaking crazy?!”.

Well, apalagi dengan tambahan bumbu Hanna Popkin (diperankan oleh Amanda Grace cooper) dan Martha Popkin (diperankan oleh Reanin Johannink) yang bertukar tubuh atau jiwa yang menyasar ditubuh yang berbeda. Another madness diciptakan film ini kembali. Okay! Ini bisa dimaklumi akibat keinginan Hanna memiki Manny (diperankan oleh Leigh Parker) yang dimana ia adalah kekasih Martha. Dengan konsekuensi yang siap diterimanya ketika meminta bantuan Leena maka voila! Jiwa Hanna dan Martha bertukar. Crazy, right?.

MV5BMTY4MjkyOTAyOF5BMl5BanBnXkFtZTgwNjMLeena Miller (diperankan oleh Sianoa Smit-Mcphee) dalam All Cheerleaders Die. Source: imdb.com

Leena Miller (diperankan oleh Sianoa Smit-Mcphee) dalam All Cheerleaders Die. Source: imdb.com

Disamping itu selain membangkitkan hidup mereka batu berpenjar hijau tersebut ternyata memiliki efek samping lain yaitu dimana mereka haus akan darah atau sebutan sederhananya menjadi vampire tidak bukan hanya itu saja batu tersebut ternyata membuat mereka saling terkoneksi satu sama lain merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain yang memiki batu tersebut ditubuhnya. Cuman kejanggalan itu pun ada kembali, yaitu :

ketika Hanna yang berada ditubuh Martha melakukan hubungan seks dengan Manny semua cheerleaders merasakan kenikmatan orgasme namun ketika satu orang meminum darah mereka tidak meraakan satu sama lainnya akan rasa puas dahaga begitupula dengan rasa sakit hanya masing-masing tubuh yang menerima. Hanya seks saja? Well, its weird dude!. Apalagi dengan batu menyangkut dileher Leena yang dapat dilihat oleh semua orang and no one having attention about that ?. hal-hal kecil ini lah yang pada akhirnya diluputi oleh si pembuat naskah dan sutradanya sehingga film yang lagi-lagi dimulai dengan baik malah menjadi totally mess!.

Pada kesimpulannya ini bukanlah film kelas horor atau thriller dengan bumbu dark comedy brilliant ditambah twist yang sama sekali tidak relevan namun ini hanya sebuah film yang membuang waktu dengan cukup ditonton bersama-sama dan diakhiri dengan membuang popcorn beserta dvd nya.

Terry Stankus (diperankan oleh Tom Williamson). Source: imdb.com

Terry Stankus (diperankan oleh Tom Williamson). Source: imdb.com

 

04

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s