PICNIC CINEMA BANDUNG #1 Nostalgia

6 september 2014 di Jl.Saparua, Bandung secara ajaib telah dirubah oleh segelintir orang menjadi sebuah tempat layar tancep dengan konsep piknik diiringi alunan musik, serta nuansa bioskop yang menjajakan aneka makanan ringan hingga berat sembari mengiringi para penonton yang sedang menikmati film-film berkualitas secara gratis.

Acara tersebut bernama Picnic Cinema dengan tujuan mengembalikan jiwa optimisme lokal melalui konsep layar tancep tersebut dengan mencoba membuka sebuah ruang publik dengan kota sebagai medium dalam meningkatkan kebersamaan, keeratan, kedekatan, dan kekeluargaan sebagai ajang kegiatan berkumpul yang biasa dilakukan masyarakat tempo dulu.

Picnic Cinema Bandung pertama ini menuai tema Nostalgia yang diharapkan mungkin dapat membuat orang-orang yang hadir merasakan sebuah kerinduan untuk kembali bercakap-cakap dengan orang-orang ramah yang bahkan sebelumnya belum pernah di temui. Menambah jaringan, teman, sahabat dan mungkin menemukan keluarga baru di dalam sebuah medium yang sebenarnya tidak asing ini.

PosterpicniccinemaBDG #1 Nostalgia

PosterpicniccinemaBDG #1 Nostalgia

Film-film yang unggulan yang akan diputarkan diacara ini adalah Whispering Box karya Rasamala Film, Haryo karya Zidny Ilman Nafian, Pohon Penghujan karya Andra Fembrianto, Anna&Ballerina karya Naya Anindita serta Epic Java karya Embara Films yang akan menjadi puncak acara ini.

Berikut ini review dari film-film tersebut:

 

#WHISPERING BOX

Sebuah kardus terdiam disebuah jalan kemudian seorang anak keluar dari dalam kardus tersebut tanpa basa-basi dia melakukan sebuah perjalanan. Disepanjang perjalanan yang ia temukan adalah kejadian-kejadian umum yang kemudian selalu dipertanyakan oleh dirinya kenapa harus dilakukan. Pada satu kegiatan dimana sekelompok anak-anak bermain dia menemukan seorang anak perempuan yang mengajaknya bermain, ditengah-tengah ketika mereka seorang bermain penari bertopeng muncul dan membisikkan sesuatu kepadanya. Sesuatu yang membuat anak tersebut berlari kembali kedalam kardus tempatnya berasal.

Whispering Box merupakan film pendek yang disutradarai oleh Irvan Aulia dengan rumah produksi Rasamala Film. Film pendek ini sebelumnya telah lolos di UI Film Festival, serta Ganesha Film Festival. Film ini bukan film yang mudah untuk dimengerti dan mungkin dapat menimbulkan sebuah multi tafsir dalam penyampaian pesannya. Ketika menonton film ini kebingungan melanda kepala saya dengan pertanyaan pertama ‘kenapa kardus?’, kemudian diiringi pertanyaan menggelitik ‘ada apa dengan anak itu?’ dan diakhiri dengan keruwetan ‘penari bertopeng?’. Ini film yang indah untuk saya.

Apa yang saya lihat dan saksikan dalam film pendek tersebut adalah seperti nuansa ‘out of the box’. Anak kecil tersebut bertanya kepada hal paling dasar “aku lahir mengapa?” dengan pernyataan sederhana “kekuasaan, kekuatan, harta, cinta” . anak tersebut seakan berusaha mengungkap kenapa dia mesti dilahirkan ketika ujung-ujungnya dia selalu terperangkap didalam sebuah kardus yang membuatnya tidak bisa bergerak walaupun pada akhirnya dia keluar dari dalam kardu tersebut ia harus kembali karena seakan-akan sebuah hukum paten telah membuatnya tidak dapat keluar dari kardus tersebut. “selanjutnya apa?”. Mungkin itulah yang harus kita jawab untuk apa kita lahir didunia ketika lagi-lagi kita harus kembali kedalam sebuah kotak tanpa berani untuk keluar sekalipun.

Whispering Box adalah sebuah film filosofis yang pendek namun penuh sarat makna dengan diperankan oleh Haidar Husain yang sangat baik.

#HARYO

Haryo diputar pertama kali di Festival Film Solo 2013 dan masuk kedalam nominasi ladrang yang ternyata mengantarkan film pendek ini terseleksi dalam rentetan festival film lainnya, dimulai dari GANFFEST 2014, PIALA MAYA 2013, PSYCHOFEST Surabaya 2013, UCIFEST 4 Tangerang 2013, hingga BANGKOK INTERNATIONAL STUDENT FILM FESTIVAL 2014, lalu memenangkan film favorite di JOGJA CINEPHILIA 2013.

Haryo menceritakan tentang seorang pemuda bernama Haryo yang mengalami kehausan di kost-nya dan berusaha meminta air kepada orang-orang yang dikenalnya namun ditolak dan menariknya orang-orang yang menolak tersebut menimbun air yang berlimpah dan enggan untuk membagikan air tersebut kepada dirinya hingga akhirnya ia nekat untuk meminum air keran yang kotor akibat dehidrasi yang teramat sangat.

Sama halnya dengan film Whispering Box, film pendek ini kental dengan nuansa keabsurd-an nya yang penuh dengan makna muti tafsir walaupun mungkin tidak sesulit dari whispering box. Haryo lebih menggambarkan tentang bagaimana kondisi sosial yang terjadi didalam masyarakat kita yang telah melupakan betapa saling membantu itu penting bahkan air sekalipun atau mungkin air diibaratkan sebagai harta benda yang begitu berlinang dan menggiurkan lalu membuat orang lupa akan hati serta orang-orang disekelilingnya.

Haryo itu sederha, luwes, dan kritis sehingga mungkin bagi orang awam dia adalah film yang tak penting berlalu tapi buat mereka yang mengerti, paham dan berniat menggali mungkin mendapatkan banyak pelajaran dari film pendek yang tak berdurasi lebih dari 15 menit ini.

#POHON PENGHUJAN

Sebuah cerita pendek fantasi yang dibaluk dengan komedi dan pertama kalinya menuai sukses yang sangat dari mulai cerita hingga eksekusi ini adalah sebuah karya dari sutradara Andra Fembrianto.

Pohon Penghujan menceritakan tentang seorang pemuda (diperankan oleh Petra Jebraw) yang sedang membaca buku Tapak Air disebuah pohon yang selalu hujan. Ditengah keasyikannya membaca dia diganggu oleh seorang anak perempuan (diperankan oleh Gabriella Putri) yang mengaku bahwa ia telah kehilangan buku Tapak Air miliknya dan meminta agar pemuda tersebut membacakan akhir ceritanya. Pemuda tersebut yang menginginkan kedamaian dalam membaca tersebut akhirnya merasa terganggu dengan tingkah kocak anak perempuan yang memintanya terus menerus untuk dibacakan cerita akhir Tapak Air.

Pohon Penghujan adalah sebuah film tersederhana di acara Picnic Cinema Bandung ini walaupun sebelumnya saya telah menontonnya di acara Cut Film tahun lalu. Film pendek ini sederhana hingga bahkan bisa dibilang klise tapi sebuah bumbu sederhana dalam nuansa fantasi tersebut mampu membawa kita tertawa lepas akan tingkah kocak film pendek ini.

Film pendek ini sendiri telah berkunjung dibeberapa film festival international, seperti International Children’s Film Festival Seattle (official selection & Best of Children’s Film Festival Seattle 2014), International Children’s Film Festival San Fransisco (winner audience choice), dan 9th Indonesian Film Festival Melbourne (1st winner & audience choice).

#ANNA & BALLERINA

Film pendek ini merupakan film besutan pertama dari Naya Aninditia yang sebelumnya telah terkenal lewat webseries Jalan-jalan Men bersama Petra jebraw. Anna & Ballerina menceritakan tentang drama futuristic seorang wanita bernama Anna yang mengabdikan hidupnya untuk menjadi penari ballet seperti ibunya, Anna Liunic.

Tidak cukup banyak yang perlu diceritakan dari film pendek ini, selain baru dan fresh serta masih dinanti pemutarannya film ini sendiri simple dari segi cerita, masih masuk kedalam katagori drama yang cheesy dibalut romantisme namun dihadirkan secara futuristic. mungkin yang paling menarik ini adalah film pendek yang membuka mata kepada para pembuat film di Indonesia bahwa tidak ada yang tidak mungkin dapat dibuat. Ego, semangat, dan optimism lah yang paling penting dalam pembuatan film.

Film pendek ini sendiri telah tayang perdana pada program pemutaran film dan workshop The Art of Futuristic Filmmaking di pusat kebudayaan Amerika Serikat, Pacific Place pada desember tahun lalu.

PosterpicniccinemaBDG #1 Nostalgia

PosterpicniccinemaBDG #1 Nostalgia

#EPICJAVA

Epic Java adalah film terakhir yang diputar dalam acara Picnic Cinema Bandung ini dimana tentunya menjadi sebuah film penutup yang sangat fantastis. Film dokumenter tentang pulau jawa yang dibuat selama satu tahun oleh Febian Nurrahman Saktinegara, Arie Naftali Hawu Dede, Denny Novandi Ryan dan Galih Mulya Nugraha ini akan mengekspolor Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa barat dengan menjadikannya tiga bagian, yaitu Surya, Sakral, dan Priangan.

Dokumenter yang indah ini dibuat dengan budget yang sangat terbatas sehingga dalam masa promosinya membutuhkan bantuan dan tergabung dalam proyek wujudkan.com dengan sistem crowdfunding. Time lapse dan slow motion footage menjadi visual yang ditampilkan didalam film ini. Menangkap tentang spirit, life, passion, mystery, dan nature adalah poin dari film ini yang tidak memperhatikan unsur cerita atau bahkan memberikan narasi sedikit pun. Film ini memperlihatkan bagaimana dari fajar hingga malam membentang tentang proses pulau jawa tercipta, kedatangan agama hingga menjadi sebuah hiruk pikuk kota seperti sekarang ini.

 

pada akhirnya, Picnic Cinema Bandung #1 Nostalgia adalah sebuah acara yang sederhana dengan konsep unik dan eksekusi yang cantik namun hal-hal kecil sebenarnya perlu diperhatikan untuk kedepannya agar dapat menjadi lebih baik lagi. hal yang cukup menganggu adalah ketika film belum berakhir dan memasuki credit tittle lampu segera dinyalakan dan itu sangat mengganggu karena disitulah poin dimana kita dapat menghargai para penciptanya.

 

semoga acara-acara seperti ini dapat terus dilanjutkan dengan penuh inovasi dan ide kreatif.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s