REVIEW “LUCY” (2014)

Lucy (source: imdb.com)

Lucy (source: imdb.com)

Lucy (2014) menceritakan tentang seorang perempuan bernama Lucy (diperankan oleh Scarlett Johansson) dimana ia terjebak dalam perdagangan narkoba hingga memaksanya untuk mengantarkan barang tersebut dengan diselipkan di dalam tubuhnya. Dalam proses perjalanan secara tidak sengaja narkoba yang diselipkan di tubuhnya tersobek dan melebur hingga menyebabkan kemampuan otaknya berkembang sangat pesat dari manusia yang biasanya hanya menggunakan 10%, Lucy dapat meningkatkannya hingga kemungkinan menjadi 100%. Dalam waktu kurang 24 jam Lucy harus menyebarkan informasi apa yang dipunya dibantu dengan Professor Norman (diperankan oleh Morgan Freeman), dan Pierre Del Rio (diperankan oleh Amr Waked).

Film Lucy (2014) ditulis dan disutradarai oleh Luc Besson. Film ini berpacu dengan waktu dan sangat singkat, durasi film ini hanya 89 menit dengan genre sci-fic nuansa thriller. Luc Besson menyebut film ini sebagai gabungan dari Leon (1994), Inception (2010), dan 2001: A Space Odyssesy (1968). Tetapi nyatanya Lucy tak lebih sekedar dari film thriller – action murahan yang tanpa bumbu sci-fic pun dapat dieksekusi.

 Perjalanan panjang selama 89 menit mempunyai ekspektasi bagaimana Luc Besson menyampaikan tentang kemampuan otak manusia dan kemungkinan-kemungkinan apa yang dapat terjadi bila manusia mempunya kapabilitas otak yang sangat luar biasa besarnya tapi alih-alih ingin menerjemahkan itu yang ada malah jiplakan tiga film yang disebut olehnya yang dia buat.

 Lucy sebenarnya dibuat sekaan gambling apakah itu dapat dinikmati atau tidak tergantung penontonnya. Adegan dimana anak buah Mr.Jang (diperankan oleh Min-sik Joi) melayang akibat gravitasi langsung membuat pandangan mata seakan pudar dengan visual yang buruk ditambah dengan penciplakan shot Inception yang menuju murka.

Keanehan yang ada didalam film ini juga terlihat dari proses Lucy yang berkembang dari 20% – 100% sama sekali tidak terlihat seperti kemampuan yang berkembang namun malah seperti kemampuan mutant di film X-men dan lagi-lagi penuh dengan adegan yang memaksa.

Tidak banyak yang dapat diambil dari film ini, Lucy seperti uap yang hanya terlihat sesaat dan kemudian menghilang. Mengkutip dari perkataan lucy sendiri “Ignorance brings chaos, not knowledge.” Setidaknya Luc Besson harus mencerna dialog yang dibuatnya sendiri dengan membuat film yang tidak ignorant dan lebih mendalami tentang riset. Sepertinya satu-satu Sci-fic yang luar biasa risetnya adalah serial Fringe yang mungkin dapat menjadi referensi bagi para pecinta film Sci-fic.

 05

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s