REVIEW “ANABELLE” (2014)

Boneka Anabelle. Source: gopixpic.com

Boneka Anabelle. Source: gopixpic.com

Mengusung nama James Wan yang sebelumnya telah sukses membuat The Conjuring (2013)  berhasil membawa brand image yang besar untuk film Anabelle walaupun sebenarnya Wan sendiri tidak duduk di kursi sutradara namun produser. Untuk pertama kalinya, Wan terjun sebagai produser dan nama besar itupun haruslah sebesar filmnya kali ini.

Anabelle sendiri disutradarai oleh John R. Leonetti yang sebelumnya telah bekerja sama dengan Wan yang dikala itu sebagai Director of Photography sehingga walaupun tidak untuk pertama kalinya duduk sebagai sutradara (sebelumnya adalah film The Butterfly Effect 2 [2006]) ini adalah film besar pertama untuk dirinya yang disandingkan dengan Wan.

Anabelle sendiri merupakan spin-off dari The Conjuring dimana menceritakan tentang sebuah boneka yang dikutuk serta dirasuki oleh Anabelle Higgins. Anabelle Higgins yang terjaring dalam sekte sesat dan berniat untuk membangkitkan iblis dengan membuat orang-orang tak berdosa menyerahkan nyawanya tersebut pun memaksa Mia untuk menyerahkan jiwanya dengan mengancam keselamatan putrinya.

Film ini sendiri pastinya masuk kedalam must-watch list pada akhir pekan kebanyakan orang karena pengharapan akan scary – gore – thrill nya tersebut tetapi sayang semua ekspekstasi itu seakan musnah dan pudar. Film ini tidak lebih sebuah banyolan belaka dan parodi dari The Conjuring.

Dimulai dari pembukaan film akan pasangan bahagia Mia (diperankan oleh Anabelle Wallis) dan John (diperankan oleh Ward Horton) yang tengah menanti bayi pertama mereka mengalami kejadian naas dimana tetangga mereka dibunuh secara brutal oleh putri mereka sendiri, yaitu Anabelle. Mia yang mengalami trauma akibat teror dirumahnya yang menyebabkan kematian Anabelle tersebut memutuskan untuk pindah dari rumah mereka.

Teror horror yang dihadirkan dirumah Mia sebelumnya pun hanya sekedar selintas, bermain-main dengan psikologis penonton, menyuruh penonton untuk sabar dan berusaha menaikkan intens film yang seharusnya akan segera menampar para penonton dengan teriakan yang gila. Namun nyatanya, film yang berdurasi nyaris 100 menit ini menimbulkan kebosanan dan sayu mata yang hendak tidur.

Mia. Source: imdb.com

Mia. Source: imdb.com

Adegan-adegan yang dihadirkan tidak lebih sekedar mengagetkan bukan untuk menakutkan bahkan mirisnya akibat mungkin menyadari kekurangan intens yang menegangkan ditambahlah bumbu-bumbu audio yang mencekam serta visual yang mendramasitir, seperti petir yang menggelegar. Mengangetkan? Tentu saja, menakutkan? Jangan harap. Alhasil semua menjerit karena kaget bukan ketakutan.

Membandingkan dengan The Conjuring tentunya sah sah saja karena terdapat dua orang besar yang juga turut andil dalam pembuatan film itu. The Conjuring berhasil memainkan psikologis penonton dan lebih parahnya bermain-main dengan kesabaran penonton dan sepertinya Anabelle berusaha mengikuti hal tersebut namun ternyata gagal paham dan sepertinya baik produser maupun sutradaranya sendiri hanya ingin membuat jiplakan dari film sebelumnya dengan ciri khas yang sama dan teknik yang sama dan sekali lagi gagal total.

Anabelle seperti seakan kehilangan fokus cerita. Cerita yang dihadirkan tidak lebih dari sekedar perjuangan sepasang suami-istri yang berjuangan menyelamatkan jiwa anaknya dengan dibantu oleh pastor dan berakhir dengan happy ending. Bosan dan basi bahkan mungkin akan menyesal telah membuat beberapa lembar ribuan untuk sekedar film popcorn dengan ekspektasi besar ini.

Anabelle. Source: imdb.com

Anabelle. Source: imdb.com

Permasalahan terbesar mungkin akibat posisi sutradara yang dipegang oleh Leonetti yang sebelumnya selalu akrab dengan cinematography sehingga mungkin fokus dia pun lebih kepada visual bukan cerita. Visual dalam Anabelle tidak bisa dibilang murahan bahkan sangat baik cuman sayang lagi-lagi mungkin akibat sebuah ego untuk menandingi atau sekedar menyamakan pamor filmnya banyak shot yang tidak perlukan malah divisualisasikan.

Hingga pada akhrinya, film ini tidak lebih dari sekedar film ambisi yang ternyata kekuatan ambisinya tidak berbanding lurus dengan hasilnya. Anabelle adalah satu dari banyak film horror yang mengecewakan penontonnya. Kuncinya, horror adalah sesuatu yang dapat dirasakan tanpa bumbu apapun yang dapat menaikkan bulu kuduk hingga merinding hanya dengan mendengar kisahnya.

04

Advertisements

One thought on “REVIEW “ANABELLE” (2014)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s