REVIEW “TABULA RASA” (2014)

Poster Tabula Rasa (2014). Source: http://www.tabularasafilm.com/id/

Poster Tabula Rasa (2014). Source: http://www.tabularasafilm.com/id/

Tabula Rasa merupakan film pertama di Indonesia yang mengangkat kuliner dan menjadikannya sebagai food film Indonesia. Tabula Rasa sendiri disutradarai oleh Adriyanto Dewo dimana ini adalah debut film panjang pertamanya. Selain itu, nama besar yang menggusung film ini adalah Sheila Timothy yang menjadi produser film ini dan sebelumnya telah mencetak film Pintu Terlarang (2009) dan Modus Anomali (2012). Kali pertama Sheila Timothy membuat film bernuansa drama dimana sebelumnya dua filmnya bernuansa Thriller yang dikemas oleh Joko Anwar. Dua film Thriller yang dibuat olehnya berhasil mengusung nama di kancah festival film internasional sudah barang tentu untuk filmnya kali ini ekspekstasi sangat besar dan taruhan besar untuk dia selaku produser yang out of the genre dari film-film sebelumnya.

Mengusung nama Tabula Rasa dengan fokus cerita kearah kuliner tentu menimbulkan pertanyaan besar apa arti maksud dari pemberian judul tersebut. Filosofi Locke, Tabula Rasa adalah teori tentang pikiran manusia yang ketika lahir berupa kertas kosong dalam artian bahwa pikiran individu ‘kosong’ saat lahir, dan juga ditekankan tentang kebebasan individu untuk mengisi jiwanya sendiri. Setiap individu dikatakan bebas mendefinisikan isi dari karakternya. Pengertian ini membawa pagar-pagar yang pada akhirnya mengarahkan Tabula Rasa lebih kearah film yang mungkin filosofis ketimbang food film.

Menonton Tabula Rasa seperti seakan menikmati setiap sajian atau hidangan yang divisualisasikan didalamnya sehingga keluar dari theater pun lapar mata akan hidangan masakan Padang menjadi menggebu-gebu tapi ternyata hanya sebatas itu tidak lebih dari itu. Seakan sebuah film yang hanya ingin membuat penontonnya lapar mata saja.

Hans ditemukan oleh Mak. Source: http://www.tabularasafilm.com/id/

Hans ditemukan oleh Mak. Source: http://www.tabularasafilm.com/id/

Tabula Rasa menceritakan tentang Hans (diperankan oleh Jimmy Kobogau), seorang pemuda dari Serui, Papua yang memiliki impian untuk menjadi seorang pemain bola professional. Namun ternyata takdir membawanya kepada nasib yang tidak beruntung – menjadikannya seorang gelandangan di pinggir kota besar. Lelah akan nasibnya membuatnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Mak (diperankan oleh Dewi Irawan), pemilik dari rumah makan Padang menemukan Hans yang tergeletak di jembatan penyebrangan. Berawal dari situ, Hans, Mak beserta Natzir (diperankan oleh Ozzol Ramdan) dan Parmanto (diperankan oleh Yayu Unruas) berusaha untuk menghidupkan kembali rumah makan Padang bersama atas dasar kesukaan mereka akan makanan dan memasak.

Tabula Rasa mengangkat tentang kuliner masakan Padang yang meng-visualisasikan rendang, ayam, dendeng, cincang, kepala ikan kakap secara extreme close up sehingga membuat kita lapar mata. Jangan lupakan remah-rempah yang tengah digilling dan membuat kita nyaris menghirup aroma tersebut. Namun, ketika kita membicarakan tentang food film sudah tentu seharusnya masalah yang dihadapi dan karakter utamanya adalah si makanan itu sendiri.

Apabila dibilang sebagai film kuliner pertama – Tabula Rasa mungkin bisa dikatakan demikian tetapi apabila sebagai food film pertama tampaknya kita harus menengok sebuah film yang diangkat dari novel berjudul Madre (2013). Baik Tabula Rasa maupun Madre sama-sama mengangkat isu tentang sebuah makanan namun perbedaan jelas terlihat, Madre mengangkat Biang Roti sebagai sebuah masalah yang menimbulkan konflik antar karakter tetapi Tabula Rasa tidak menyebabkan makanannya sebagai konflik tetapi hanya bumbu semata yang tidak terlalu sedap.

Hans - Parmanto - Natsir. Source: http://www.tabularasafilm.com/id/

Hans – Parmanto – Natsir. Source: http://www.tabularasafilm.com/id/

Film ini hanya berfokus kepada perjalan Hans serta Konflik Mak dan Parmanto yang tengah merintis bisnis dan menuju kebangkrutan akibat didirikannya rumah makan padang di sebelah rumah makan mereka. Akibatnya film sekedar tak lebih dari masalah pribadi dan persaingan bisnis semata. Tak salah, apabila mau tentang masakan Padang atau masakan Tegal sekalipun diangkat tidak akan menjadi masalah yang begitu berarti karena apapun masakannya dia bukanlah penguat dan karakter utama di film itu sendiri.

Tabula Rasa bahkan memiliki banyak pertanyaan seperti kenapa pemilihan karakter Hans yang seorang pemuda dari Papua?; mengapa menaruh konflik Hans dengan bola?; hingga lagi-lagi jelas bahwa tidak ada relevansinya akan cerita ini sendiri. sebagai penguat tidak, sebagai penambah tidak, namun hanya sekedar barang bumbu penyedap instan semata.

Kalaupun berbicara filosofis maka makna Tabula Rasa itu sendiri mungkin – film ini berusaha untuk menyingkap bahwa setiap manusia memiliki karakternya sendiri, berkembang secara alami berdasarkan pengalaman yang dihadapinya sehingga tidak peduli dari suku, bangsa, maupun ras apapun setiap orang memiliki kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri, untuk mengisi dirinya sendiri yang ketika lahir adalah sebuah ‘kertas kosong’ yang siap untuk diisi oleh pribadi masing-masing.

Walaupun berbicara filosofis sekalipun tetap tidak ada suatu hal yang secara jelas kenapa, mengapa, serta bagaimana film ini bisa mengangkat sebuah cerita drama biasa dengan embel-embel kuliner yang ternyata tidak tersaji secara mantap dan bijak. Ibarat sedang meracik rempah-rempah untuk sebuah masakan, film ini kekurangan satu hal yang sangat berarti, yaitu garam sebagai pelengkap rasa. Garam yang harusnya menambah rasa lalu membuat lidah semakin mengecap rasa malah terlupa sehingga yang ada hanya hambar yang terasa.

Tabula Rasa sendiri memiliki keunggulan dimana berhasil pastinya membuat semua penonton menjadi lapar mata. Selain itu, banyak hal-hal yang menarik diangkat olehnya tentang bagaimana rempah lokal dan impor begitu mempengaruhi rasa maupun kritik tajam tentang harga impor yang lebih murah ketimbang lokal. Kritikan pedas itu akan semakin tajam sebenarnya apabila berhasil diramu dengan benar.

Ibarat sedang memasak rendang, film ini masih lama kurang diaduk dan dimasak, terlalu terburu-buru tanpa melihat sudah matang atau belum dan sudah meresap atau belum bumbunya. Tetapi masih ada beberapa hal yang dapat diambil dari film ini, asal kita mau membuka mata tentang sebuah judul yang begitu berarti dan besar maknanya untuk kita semua.

06

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s