REVIEW “INTERSTELLAR” (2014)

“Love is the one thing that transcends time and space”.

Teori relativitas adalah teori yang dikemukan oleh Albert Einstein yang terbagi menjadi dua teori, yaitu relativitas umum dan relativitas khusus.

Relativitas umum menjelaskan bahwa gravitasi bukanlah gaya tarik menarik antar dua atau lebih objek yang bermassa. Namun gravitasi adalah akibat dari kelengkungan yang dibentuk oleh massa objek terhadap ruang dan waktu atau disebut juga dengan ruang-waktu. Sedangkan relativitas khusus terbagi atas dua postulat, yaitu:

  1. Hukum fisika dapat dinyatakan dalam persamaan yang berbentuk sama dalam semua kerangka acuan yang bergerak dengan kecepatan tetap satu sama lain.
  2. Cepat rambat cahaya di dalam ruang hampa ke segala arah adalah sama untuk semua pengamat, tidak tergantung pada gerak sumber cahaya maupun pengamat.

Berdasarkan teori relativitas tersebutlah nolan bersaudara, yaitu Jonathan Noland dan Christopher Nolan membuat sebuah film kolaborasi kelima mereka, yaitu Interstellar (2014). Sebelumnya Jonathan dan Christopher telah membuat film bersama, yaitu The Dark Knight Rises, The Dark Knight, The Prestige, dan Memento dimana mereka bekerja bersama sebagai screenplay atau penulis naskah dan hal itupun kembali mereka lakukan di film Interstellar.

Interstellar menceritakan masa tentang apocalypse di bumi dengan waktu yang semakin sempit untuk bertahan hidup hingga NASA akhirnya mengurus para penjelajah untuk berpergian di luar galaksi untuk mengetahui apakah masih ada sebuah tempat atau universe yang layak untuk dijadikan tempat hidup oleh para manusia.

Cooper (diperankan oleh Matthew McConaughey) diberikan sebuah mandat oleh Professor Brand (diperankan oleh Michael Caine) untuk memimpin perjalanan ke luar angkasa mencari galaksi lain melalui sebuah lubang cacing (worm hole). Lubang cacing adalah sebuah jalan pintas melintasi ruang. Benda apapun yang memiliki massa akan menciptakan lengkungan dalam ruang, artinya ruang dapat diperlebar, dibelokkan atau bahkan dilipar. Sebuah lubang cacing adalah suatu lipatan dalam bidang ruang (dan waktu) yang menghubungkan kedua wilayah angkasa yang sangat jauh. Dengan bantuan lubang cacing tersebutlah professor Brand berharap bahwa Cooper bersama dengan rekanannya dapat menemukan sebuah dunia baru. Amelia (diperankan oleh Anne Hathaway), Doyle (diperankan oleh Wes Bentley), dan Romily (diperankan oleh David Gyasi) adalah rekanan dari Cooper yang bersama mereka betriga memecahkan tentang teori relativitas serta gravitasi yang menjadi dunia lima dimensi agar para manusia dapat bertahan hidup di galaksa lain.

Interstellar (2014) - Cooper, Amelia, Romily dan Dr.Mann (source: imdb.com)

Interstellar (2014) – Cooper, Amelia, Romily dan Dr.Mann (source: imdb.com)

Mereka berempat diutus untuk ke galaksa lain dan menggali tiga planet yang dianggap memiliki struktur yang sama dengan bumi atau dengan kata lain tiga planet ini mempunyai probability membuat manusia dapat hidup didalamnya. Namun sayangnya teori relativitas akan ruang – waktu membuat Cooper meragu untuk menjelajah ketiga planet karena masing-masing planet memiliki waktu yang sangat berbeda dengan bumi bahkan di salah satu planet satu jam memiliki persamaan lebih dari 70 tahun. Cooper yang memiliki keluarga serta anak peremuan Murph (diperankan oleh Mackenzie Foy [young] dan Jessica Chastain [adult]) tidak mampu untuk kehilangan hingga bepuluh-puluh tahun lamanya.

Film Interstellar (2014) merupakan film sci-fic yang mungkin memiliki keakuratan sangat luar biasa dalam memaparkan teori tentang luar angkasa dengan menghadirkan worm holes, dunia lima dimensi, teori gravitasi, dan dilasi waktu yang semuanya terangkum dalam kesederhanaan teori relativitas waktu milik Einstein mungkin tanpanya kita tidak akan pernah menonton film milik Nolan bersaudara ini.

Amelia (Anne Hathaway) dan Cooper (Matthew McConaughey)

Amelia (Anne Hathaway) dan Cooper (Matthew McConaughey). Source: imdb.com

Jajaran pemain luar biasa pun turut ambil peran dalam film ini. Sebut saja Matthew McConaughey telah mendapatkan penghargaan Oscar sebagai aktor terbaik dalam perannya di film Dallas Buyers Club (2013), Anne Hathaway mendapatkan penghargaan Oscar sebagai pemeran pendukung terbaik dalam filmnya Les Miserables (2012), Jessica Chastain mendapatkan nominasi Oscar sebagai aktor terbaik dalam film Zero Dark Thrity (2012), Matt Damon mendapatkan nominasi Oscar sebagai aktor terbaik dalam film Good Will Hunting (1997) serta Michael Caine memenangkan Oscar sebagai aktor pendukung terbaik dalam film The Cider House Rules (1999) dan Ellen Burstyn memenangkan Oscar sebagai aktor terbaik dalam film Alice Doesn’t Live Here Anymore (1974). Diantara mereka pun telah bermain sebagai aktor dibawah arahan Nolan, yaitu Anne Hathaway dan Michael Caine.

Selain pemain pula, jangan lupakan composer Hans Zimmer yang telah akrab pada film-film Nolan sebelumnya untuk mengisi scoring pada film ini. Zimmer diberikan arahan kepada Nolan untuk membuat scoring yang unik dimana dia sama sekali tidak memberikan naskah maupun plot detail dalam menulis musik untuk filmnya tetapi malah memberikan satu halaman komposer yang lebih menceritakan tentang filmnya bukan plot pada filmnya.

Interstellar merupakan sebuah film dengan performa luar biasa dimulai dari cerita hingga directing yang membuat penonton mampu merasakan kenyataan apa yang ada di luar angkasa sana. Christopher Nolan mendeskripsikan film ini sebagai “an ode to human spaceflight”; 2001: A Space Odyssey (1968), Star Wars: Episode IV – A New Hope (1977), Close Encounters og the Third Kind (1977), Alien (1979), dan Blade Runner (1982) dikatakan olehnya sebagai referensi atas film ini.

Blackholes - Interstellar (2014) Source: http-_rack.3.mshcdncom

Blackholes – Interstellar (2014) Source: http-_rack.3.mshcdncom

Film Interstellar (2014) mempunyai ketajaman warna yang sangat luar biasa dan mempu memaparkan kemegahan luar angkasa, diakui sendiri pun oleh Nolan dibandingkan dengan film sebelumnya, Interstellar memiliki lebih banyak gambar yang diambil dengan kamera IMAZX bahkan muntuk menciptakan wormhole dan black hole, Dr. Kip Thorne berkolaborasi dengan VFX Supervisor Paul J. Franklin dan timnya di Double Negative. Kolaborasi tersebutpun menghasilkan sebuah program CGI terbaru yang meraih 800 data tetrabytes. Bahkan beberapa frames pun mengambil waktu hingga 100 jam render. Tidak salah dikatakan bahwa Interstellar menjadi sebuah proyek ambisius bagi Christopher Noland dimana sebelumnya film ini sendiri dipegang kendali oleh Steven Spielberg yang akhirnya mengundurkan diri dari proyek ini.

Storytelling pada film ini sebenarnya cukup dapat dinikmati mungkin bagi para penonton yang memiliki pengetahuan dasar tentang fisika namun bagi para penonton awam mungkin pada akhirnya hanya mengkerutkan dahi tanpa tahu maksud apa yang berada pada film ini. Interstellar mampu membuat sebuah pondasi yang kokoh dan memaparkan tentang pengalaman baru, yaitu dunia lima dimensi yang menambahkannya menjadi sebuah bumbu cerita heroik tentang perjalanan penjelajah yang berusaha menyelamatkan bumi tetapi jangan sampai membandingkannya dengan semacam film Armageddon (1998) dan Deep Impact (1998) yang sama-sama menceritakan penjelajahan luar angkasa untuk menyelamatkan bumi. Film ini tidak semurahan itu, Interstellar begitu rendah hati dalam memaparkan ceritanya serta visualnya – menikmati setiap momen dan di penghujung akhir film seakan otak terngiangkan “Keep Calm We Trust Nolan”. Film ini adalah masterpice lagi bagi Nolan bersaudara.

Jessica Chastain (murp). source: imdb.com

Jessica Chastain (murp). source: imdb.com

Mungkin salah satu referensi film ini sendiri adalah Gravity (2013) yang mengambil teknik serupa dalam memvisualkan luar angkasa terlepas dari proyek film ini yang telah ada sejak 2006 tetapi rasa akan ‘Gravity’ itu sendiri begitu ada dalam film ini dari shot serta atmosfer ketenangan menjadi sebuah bahan untuk mengkaji otentik dari referensi film ini. Tetapi apabila ada yang membandingkan atau mungkin mengatakan bahwa film ini sebanding dengan 2001: A Space of Oddyssey (1968) milik Stanley Kubrick tampaknya hal itu sangat mustahil. 2001 adalah sebuah film yang tak dapat disentuh ataupun disandingkan mungkin hingga saat ini dengan film apapun bahkan Interstellar sendiri. 2001 mempunyai kekayaan yang tak dapat disandingkan dengan film-film lainnya, dia adalah film asli murni yang tak dapat di ganggu gugat.

Interstellar unik, menarik tetapi tidak dapat dibilang orisinil. Pada akhirnya semua cerita akan berakhir dari inovasi cerita-cerita sebelumnya begitu pula Interstellar tetapi kemewahan yang dihadirkan dalam film ini menjadi pionir penting kenapa film ini begitu akan sangat dipuja, disanjungkan, dan diingat layaknya film-film nolan sebelumnya.

09

Advertisements

10 thoughts on “REVIEW “INTERSTELLAR” (2014)

  1. Semalem saya baru aja nonton Interstellar, setelah nonton entah mengapa badan saya merasa melayang dan pikiran saya mengambang. Takjub dan mumet dengan segala komplesitasnya. Honestly saya bukan pencinta film sci-fic tapi setelah menonton ini saya tertarik untuk nonton lebih banyak film bergenre ini seperti yang kamu sebutin. Film ini mampu membuat saya kagum akan Sang Pencipta dan percaya bahwa manusia adalah makhluk sempurna diantaran ciptaan-Nya.

    Thanks buat reviewnya. ^^

    1. Gravity dan Interstellar jelas sama2 luar biasa tapi sayang nih Interstellar malah gak masuk list Best Pictures :”) academy award

  2. Ajibb interstellar,tpi jdi pertanyaan ,emang ruang 5 dimensi bener ada?
    kok gk mati pas masuk black hole?
    tpi jempol buat interstellar

  3. Jujur tanpa merusak review dari yang punya blog, saya tertipu dengan efek interstellar ini. Kagum dengan cgi yg menipu Mata, terhapus oleh alur cerita yg rumit dan intinya hanya film romantis dibalut efek sain fiksi yg memanjakan Mata. Pantaslah film ini belum bsa menembus ajang film seperti Oscar, berbanding dengan film gravity. Jalan cerita yg ngejelimet, akhirnya terkesan film ini hrus dituntaskan dgn jalan cerita seperti dipaksakan. Ayolah mending bikin sperti film dunia Thor sekalian, si aktor harus bisa terbang krena menurut sya, film ini mencoba mendekati pendekatan secara realita, tpi malah berkesan seperti khayalan atau boongan.

    Satu dri berjuta kekesalan saat closing film ini, adalah yakin si Amelia berada di Edmund planet? Lah kita aja ada 9 planet Besar yg terlihat di tata surya kita. Saya akui, saya tertipu. Ya sudahlah. Obatnya sudh disembuhkan oleh keinginan tau saya mengenai kondisi bumi kita yg sudh mulai rusak oleh manusia. Terima kasih sudh mulai mampir.

    1. halo halo maaf baru bales komentar Anda 😀 saya rasa jalan cerita yang ngejelimet ini memang ciri khas Nolan banget, porsi antara gravity dan interstellar jelas berbeda sih menurut saja. Interstellar sendiri menurut saya pribadi lebih kepada usaha untuk menjawab dunia lima dimensi sedangkan gravity lebih kepada survival. Kenapa Gravity lebih menyenangkan ketimbang Interstellar? karena ceritanya ringan, sederhana dan gampang dicerna :D.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s