SUPERNOVA: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh

Tahun 200 silam sebuah buku menjadi buah bibir membicarakan tentang sebuah novel laris yang banyak membuat remaja dan penulis berdecak terkagum-kagum sehingga begitu fenomenal dan bahkan membuat banyak fans jatuh cinta terhadap buku serial yang masih berkelanjutan hingga saat ini.

SUPERNOVA: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh - www.kgiaji.wordpress.com

SUPERNOVA: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh – http://www.kgiaji.wordpress.com

Supernova: Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh adalah buku yang tengah dibicarakan saat itu. Menceritakan gabungan konstruksi antara roman, sastra dan sains begitu memabukkan hingga daya hayal masing-masing pembaca akan sering menderu. Begitu banyak pertanyaan bahkan terlalu banyak untuk menunggu akhir dari kisah Supernova ini bahkan hingga memasuki awal tahun 2015 buku ini baru menyelesaikan buku ke limanya.

Pada akhirnya, gebrakan besar pun terjadi buku fenomenal tersebut akan diadaptasi menjadi sebuah film panjang. Dewi Lestari selaku penulis yang bukunya telah di filmkan (Perahu Kertas, Rectoverso, Madre) akhirnya mengizinkan Sunil Soraya Production (5 cm) untuk memproduksi kisah klasik hubungan manusia dan sains ini ke layar lebar pada tahun 2014.

 Film Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh

Menceritakan tentang roman bergabung menjadi sains menjadi premis awal dari film ini. Rueben dan Dimas bertemu di New York dan pertemuan singkat pertamanya membuahkan sebuah konspirasi dengan janji bahwa sepuluh tahun dari masa tersebut mereka akan membuat sebuah masterpiece – karya tentang roman dan sains yang tanpa mereka sadari tengah terjadi di kehidupan nyata.

Supernova: Ksatria Puteri dan Bintang Jatuh - www.kgiaji.com

Supernova: Ksatria Puteri dan Bintang Jatuh – http://www.kgiaji.com

Rueban dan Dimas memulai sebuah kisah di kota yang disebut pseudo Jakarta menceritakan tentang seorang eksekutif muda yang kelak dikenal sebagai ksatria bertemu dengan seorang pemimpin redaksi muda, yang kelak dikenal sebagai Putri. Mereka mengkonstruk cerita antara ksatria dan putri dengan ditengah-tengahnya terdapat sebuah cyber avatar yang kelak disebut sebagai supernova.

Ksatria yang di dunia nyata bernama Ferre (Herjunot Ali) jatuh cinta dengan Putri bernama Rana (Raline Shah) dimana memiliki status Istri dari Arwin (Fedi Nuril). Hubungan kompleks cinta segitiga tersebut menimbulkan banyak pertanyaan tentang testoron serta turbulensi yang ada disemua diri manusia sehingga dibutuhkan penjawab bernamakan Supernova.

Kisah semakin dibangun oleh Rueben dan Dimas dengan memperkenalkan sebuah tokoh yang memilki kekuatan kharismatik, moral yang besar, dan tanggung jawab serta idenpendensi diri luar biasa bernamakan Diva – seorang pelacur kelas atas yang memiliki usaha besar dan hidup lebih dari berkecukupan.

Tanpa disadarai Ferre yang bertetangga dengan Diva telah diperhatikan sekian lama tentang ‘orang yang mabuk cinta’ disebut oleh Diva. Ferre yang begitu memiliki perasaan dalam kepada Rana merasa hancur berkeping-keping ketika dirinya akhirnya tidak dipilih namun dibuang disitulah sosok Diva muncul sebagai seorang penyelamat yang membimbing Ferre melihat dunia dengan cara pandang berbeda.

Hingga akhirnya, Ferre menyadari bahwa Supernova adalah Diva yang tengah menjalankan situs website untuk menjawab pertanyaan orang sekitar – mengamati dan berusaha memahami. Diva yang mempunyai misi lain menganggap bahwa Ferre telah siap untuk melanjutkan kisahnya dan diberikanlah situs website tersebut untuk dikelola oleh Ferre.

Dilain kisah Rueben dan Dimas meresa terkaget mengetahui bahwa cyber avatar mereka sesungguhnya benar-benar hidup bernamakan Supernova dan kemudian menyadari kisah-kisah yang mereka bangun memiliki potensi untuk nyata juga.

Kisah pun ditutup dengan Diva yang tengah berpetualang dan berakhir mengamata kehidupan Rana bersama Arwin.

 Film vs Buku

Sebagai seorang pembaca buku ini tentu ada rasa kekhawatirkan bahwa sutradara dan penulis – Rizal Mantovani akan memiliki kesalahan dalam menginterpretasikan cerita didalam buku pertama ini apalagi melihat kabar bahwa Dee sendiri tidak memilik campur tangan pada film ini dan hanya menjadi jasa konsuling script saja itupun hanya satu kali. Tetapi ketika melihat trailer yang berdurasi 5 menit tersebut tampaknya potensi film ini menjadi sebuah blockbuster terasa amat ada sehingga dengan ekspektasi tinggi film ini akan berhasil mengadaptasi bukunya.

Kenyataannya, tampaknya keterburu-buruan membaca dan deadline menjadi penyebab interpretasi yang sangat gagal terhadap bukunya sendiri sehingga buat saya pribadi, film ini berdiri sendiri tanpa campur tangan bukunya.

Pemilihan peran dalam karakter di film ini sangat tidak cocok. Terlebih lagi pemilihan Herjunot Ali sebagai Ferre dengan karakter seorang eksekutif kelas atas berhidup gaya mewah, dingin namun hangat. Nyaris semua pemilihan peran disini bisa dinyatakan gagal memerankan karakternya terkecuali karakter pasangan gay – Reuben dan Dimas yang berhasil menghidupkan karakterk intelektual muda, ambius, cerdas dan open minded.

Kesalahan lain terlihat pula dari alur cerita. Alur cerita sangat datar dan bahkan nyaris menimbulkan rasa bosan teramat sangat apalagi pengurangan karakter Reuben dan Dimas dimana menjadi pionir gerbang dan pondasi cerita malah difilmnya sebagai ujung kuku kecil semata. Cerita pun semakin pelik tak ayal mengesalkan ketika dialog-dialog bodoh serta voice over dalam hati yang membuat gelegak tawa tidak karuan memecah di teater.

Supernova: Ksatria Puteri dan Bintang Jatuh - www.kgiaji.wordpress.com

Supernova: Ksatria Puteri dan Bintang Jatuh – http://www.kgiaji.wordpress.com

Tetap ada menampilkan sains yang begitu mempesona bahkan terlalu sering disebutkan turbulensi yang nyaris membuat bosan. Dialog menelan mentah-mentah pada buku namun tidak dapat diberikan secara maksimal oleh para pemain terutama Herjunot yang malah seperti memerankan karakter terdahulunya Zainuddin pada film Tenggelamnya Kapar Van Der Wick. Miris dan suram adalah suasana yang tepat untuk menggambarkan film ini.

Animasi tentang cerita Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh ini pun cukup memiliki inovatif walau pun terasa tidak memiliki relasi hubungan antar gambar yang cukup membuat pusing dan bengong. Terlepas animasinya bagus sekalipun apabila di combine dengan sinematografi film yang begitu mewah malah akhirnya berujung berantakan.

Hingga akhirnya, jati diri kisah Supernova pun semakin berantakan ketika reveal ending sosoknya adalah internet – sebuah mega super kekacauan yang membuat nyaris tak ayal terbengong-bengong tidak karuan. Ini adalah bukti otentik ketika teknis memadai namun nalar bercerita tidak memadai menjadi sebuah fil yang tak kasat mata.

 

Akhirnya menonton film ini serasa tidak menonton film namun hanya sebuah video klip atau mungkin iklan karena terlalu banyak scoring yang nyaris mengisi adegan pada setiap film. Apalagi sinematografi yang begitu kuat sangat condong ke arah iklan malah membuat bingung tak karuan. Anggaplah film ini sebagai hiburan belaka bukan sebagai adaptasi dari bukunya. Karena mau tak mau film yang memiliki daya nalar jauh ini hanya akan merusak originalitas cerita aslinya.

 

06

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s