KICAUAN CANDA #2 “TAK TAHU DIRI”

Tak Tahu Diri

Kantor dengan warna biru terang yang hanya berbentuk rumah sederhana ini menjadi tempat peraduan untuk berlalu-lalang bagi pekerja yang katanya kreatif untuk mengais rezeki.

Ditambah ekspoitasi sumber daya murah pun tidak ada habis-habisnya dimanfaatkan hingga di peras habis ke sumsum tulang belakangnya. Mengeluh, mengeluh, mengeluh hingga tak karuan lagi sambil mengeruk tenaga para pekerjanya.

Bosan, jenuh, lelah terkadang mengisi pikiran orang-orang yang tengah duduk ditemani laptop serta kopi di atas meja. Mengulang kegiatan yang sama terus menerus, berputar akal cepat untuk menghindari kemacetan dengan alih-alih lembur dan bekerja padahal di peras tenaga serta pikirannya.

Saya duduk di barisan antrian orang yang katanya ingin menjadi pekerja kreatif namun terpasung oleh segepok kertas lembaran berwarna hijau yang dikerubungi oleh manusia berkepala tikus, manusia berkaki kecoa, manusia berbadan musang, bahkan banyak lagi jenisnya yang sama-sama memakan lembaran berwarna hijau dengan rakus dan ganas.

Saya yang sedang duduk di barisan antrian orang yang katanya ingin menjadi pekerja kreatif hanya bisu dan menutup mata serta telinga. Seakan-akan tidak mengetahui apa-apa. Terdiam – Termenung menunggu untuk disadarkan.

 “Tak tahu diri.”

“Masih mending dapat pekerjaan.”

“Jadi anak kok sombong.”

“Belagu.”

“Tidak berguna.”

“Tak tahu diri.”

 Ketika tersadarkan dan ingin lari dari belenggu yang mengikat diri karena ulah manusia berkepala tikus, manusia berkaki kecoa, manusia berbadan musang, dan jenis lainnya. Itulah kata-kata ciri khas yang didapatkan. Tak tahu diri. Masih mending dapat pekerjaan. Jadi anak kok sombong. Belagu. Tidak berguna. Tak tahu diri.

Diam.

Diam.

Diam.

Diam.

Diam.

Diam.

Duduk di atas daun seroja.

Saya menegak bir yang warnanya kuning seperti air kencing. Tak tahu diri.

Saya menegak pil yang katanya dapat membawa hingga ke nirvana. Tak tahu diri.

Saya berdansa di lantai hingga jantung saya berdetak seperti atom. Tak tahu diri.

Saya di atas ranjang bercinta dengan manusia berbadan tikus. Tak tahu diri.

Pusing dan mual rasanya. Menikmati hidup seperti sebuah bola yang terus menerus bergulir tanpa pernah berhenti sekalipun. Tak tahu diri.

Saya hanya duduk di depan laptop dengan secangkir kopi sambil menulis sebuah cerita pendek sederhana yang mungkin kelewat pendek tanpa mempedulikan pekerjaan yang kian menumpuk sambil mendengarkan manusia berkepala tikus, manusia berkaki kecoa, manusia berbadan musang, serta teman-temannya mengeluh atas kinerja pekerjanya yang lamban, lelet dan tak berguna. Tak tahu diri.

6 Februari 2015

Tebet Timur Dalam

Untuk sahabat saya, A

Advertisements

One thought on “KICAUAN CANDA #2 “TAK TAHU DIRI”

  1. OMG I READ IT JUST NOW!!!!!!!! SO MUCH FEELINGS IN ONE POST.
    ALL I CAN RELATE WHAT U FELT DUDE. SO CAN RELATE.
    sometimes a human can be so cruel to each other, not intentionally but still cruel.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s