SEGELAS KOPI KALOSI TORAJA

Oleh Kukuh Giaji

Tiga puluh empat ribu lima ratus empat puluh lima rupiah adalah harga jual termurah kedua yang diberikan untuk segelas kopi hitam dengan tagline Indonesian’s Premium pada salah satu kedai kopi yang dikunjunginya. Kalosi Toraja namanya. Kopi dari Sulawesi Selatan itu sering diduga berasal dari Kabupaten Toraja padahal aslinya dari Kabupaten Enrekang. Sudah lumrah memang ditemukan penamaan kopi sebagai representasi identitas daerah penghasil namun sayang kadang banyak pedagang memberikan nama pada kopi secara arbitrer dengan mengacu pada tempat dijual bukan dihasilkan. Maka, wajar banyak kedai kopi sekarang gemar bermodifikasi dalam menamai merek kopinya sebagai kamuflase untuk menarik perhatian para konsumen. Tiga puluh empat ribu lima ratus empat puluh lima rupiah harus dibayarnya untuk indignitas dan lebih sialnya, belum termasuk biaya pajak dan pelayanan yang harus dikeluarkannya untuk perihal regulasi semata.

Dia meminum kopi yang memiliki keasamaan tinggi itu dengan hati-hati terlihat uap panas mengepul dari cangkir putihnya. Matanya sayu berpadu dengan kantung hitam langsung melek segera. Rasa pahit mampu membikin nyawanya sadar seketika. Langsung teringatlah segala kisah yang dialaminya beberapa hari ini. Bahkan wajah kagetnya tidak dapat ditutupi kala menyadari waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Tampaknya baru saja dia mengalami ketidaksadaran sesaat.

Suara getaran telepon selular di meja dihiraukannya. Ada empat belas panggilan masuk tidak terjawab terpampang pada layar. Diletakkannya cangkir dengan perlahan lalu merenung mengamati hitamnya warna cairan kopi Kalosi Toraja. Begitu pekat dan suram. Sama seperti suasana yang sedang menggebu pada sanubarinya. Sebuah dialog menggema dipikirannya.

“Kamu tuh jadi laki-laki harus tahu diri! mau apa coba dikatakan orang nanti kalau begini terus?”. Suara serak basah perempuan tua kini terngiang-ngiang di isi kepalanya.

Sedikitnya dia mulai menyadari bagaimana lampu neon panjang berwarna kekuningan temaram mendominasi kedai kopi ini ditambah bau khas berbagai paduan biji kopi menimbulkan aroma eksotis tersendiri bagi para pengunjungnya. Suasana hangat nan romantis adalah salah satu kelebihan tempat ini. Tak ayal banyak berbagai pasangan muda muda hinggap untuk sekedar berbasa basi menghabiskan akhir pekan.

“Kamu tuh yah bahagiakan orangtua. Jangan egois sama diri sendiri, malukan kamu kalau gini terus?”. Suara perempuan tua itu kini bernada tegas merendahkan dalam pikirannya.

Kemudian karena sedikit sempoyongan dia lalu menyandarkan punggungnya pada kursi berbahan jatibelanda berlapiskan bantal empuk abu-abu tua. Pelipisnya diurut dengan pelan-pelan. Tidak sengaja diliriknya dinding kedai kopi yang dicat hitam legam mengkilap. Ada sebuah kutipan kalimat tergores di dinding tersebut, Coffe and Love are best when they are hot dari German Proverbs. Dengan seksama dikajinya setiap baris kata tersebut begitu dalam hingga memunculkan sebuah senyuman tipis dingin dan sinis dari bibirnya.

“Itu adalah kebahagian orangtua yang terakhir, nak…”. Kembali suara perempuan itu terngiang di kepalanya namun kali ini melembut dan pilu serta juga ada kesedihan didalamnya.

Dia menyilangkan kakinya sambil menatap etalase kaca kedai kopi. Dilihatnya berbagai pasangan muda mudi sedang menghabiskan waktu bersama saling bergenggaman tangan atau terkadang melempar senyum nakal memberi kode atau makna khusus yang hanya mereka sendiri ketahui.

“Cobalah kenalan sama dia dulu, anaknya baik. Sarjana lagi, pinter. Dari keluarga terhormat. Lulusan ekonomi!”. Suara perempuan tua itu kini terdengar gembira, semangat dan antusias bahkan sedikit memaksa.

Suara getaran telepon selularnya berdering kembali. Terpampang pada layar seseorang bernama Wamena Timur meneleponnya. Dihiraukan kembali panggilan masuk tersebut. Diseruputnya kopi Kalosi Toraja yang telah mendingin karena lamumannya tadi. Setidaknya telah habis waktu selama sepuluh menit bersamaan dengan kumpulan cerita panggung dramaturgi yang juga menemaninya di kedai kopi.

“Kita adalah kesia-siaan dalam keputusasaan….”. Kali ini pikirannya ditemani dengan suara perempuan muda yang renyah dan dingin namun begitu menenangkan.

Bibirnya mulai memancarkan senyuman sesaat

“Terlepas dari kesia-siaan itu, kita sendiri sebenarnya masih bisa memilih untuk berada dalam keputusasaan atau ketiadaan….”. Dialog itu berlanjut menjadi runtunan kalimat pasti.

Dia benar-benar tersenyum karena kini ada sebuah suara gitar kecil menghampiri pikirannya. Jentikan senar bertabrakan dengan jemari yang manis mulai memenuhi isi kepalanya. Sensasi endorphine masa lalu tampak menggelora kembali hingga mampu menghadirkan rasa damai nan tentram pada relung hatinya walau sejujurnya kala itu amfetaminnya tidak begitu besar namun tetap saja senyawa  lain begitu mendominasi hingga menggebu-gebu begitu deras. Rasa yang lama semacam dirindukan kembali. Tetesan air mata jatuh membasahi kemeja putihnya.

Disekanya lalu dilanjutkan dengan nafas berat. Seberapa besar dia berusaha menutupinya terlihat jelas bahkan oleh seorang dungu sekalipun ia tengah kesepian pada tengah malam yang dingin dan lara ini.

“Bukannya kamu enggak mau nikah, yah?”. Mendadak suara seorang laki-laki muda yang tegas dan keras mulai mengacaukan ketenangan pikirannya.

Dia mulai mengeram kesal disahut dengan jambakan pada rambutnya sendiri. Teriakan kecil tertahan terdengar keluar dari kerongkongannya. Kepalan tangannya memperlihatkan urat-urat otot serta tonjolan tulang. Dipukul meja hingga cangkir kopi terangkat satu sentimeter hingga menumpahkan sedikit cairan ke piring kecil yang dijadikan tatakan. Beberapa pelayan dan pengunjung kedai kopi mulai mengamati tingkah lakunya.

“Kamu dan idealisme kamu itu konyol tahu gak!”. Suara teriakan perempuan muda itu terdengar kembali di kepalanya. Membentak serta menghardik.

Dia mulai terlihat resah dan mengucurkan keringat dingin. Ada rasa tidak nyaman mulai merasukinya. Bisikan-bisikan kecil menggema di kupingnya. Dilonggarkan dasi sambil membuka kancing kerahnya. Berlanjut diminumnya kopi Kalosi Toraja hingga setengah dengan gemetaran.

“Kamu itu malu-maluin orangtua! enggak percaya ibu sama kelakuan kamu!, tega kamu!”. Terngian kembali suara perempuan tua itu yang ternyata ibunya,  Menangis dalam pekikan tertahan dengan penyesalan tiada terkira.

Jemari tangannya mengetuk-ngetukkan meja. Konsentrasinya mulai memudar. Seorang pelayan wanita hendak menghampiri namun akhirnya urung dilakukan. Beberapa pengunjung mulai memperhatikan gerak-geriknya sembari bergumam pelan membuat praduga-praduga terhadap dirinya.

“Memang apa sih susahnya menikah?”. Kembali menghampiri suara laki-laki yang khas dengan ketegasan. Namun kali ini jauh lebih melembut.

Dia menaikkan kedua lengan kemejanya hingga sebatas siku.

“Ini itu bukan tentang masalah pernikahan semata doang!, lebih dari itu!”. Suara lain mulai menggema dalam pikirannya. Suara merdu begitu lembut berpadu serakan basah dengan ironi terpinggirkan namun begitu personal pada dirinya. Suara itu adalah suaranya.

“Lantas apa?, kamu ingin bersamanya tetapi kamu juga tidak ingin bersamanya, mau kamu itu apa sih?”. Perdebatan sengit mulai terjadi dalam pikirannya.

“Kalau aku menikah maka aku kalah!”. Ucapnya tak terbendung lagi.

“Kamu itu jangan seolah-olah merasa dirimu itu korban!”. Suara laki-laki itu terdengar menggugatnya.

“Aku enggak pernah kok merasa sebagai korban. Disini jelas aku sebagai seorang terdakwa!”. Timpalnya.

Yah sudah, akhiri saja semuanya sebelum akhirnya menuju kesia-siaan”. Kini suara laki-laki itu seakan-akan menyalahkannya pada sesuatu.

“Bahkan sejak awal itu telah berada di ujung keputusasaan!”. Bentaknya.

Sepersekian detik dia mulai menyadari tengah memegang cangkir kopi dengan kedua tangannya serta menatap lekat-lekat dalam kecemburuan. Lihatlah betapa apatis kopi Kalosi Toraja ini. Walau banyak orang telah salah mendeklarasikan nama padamu tetapi kau tetap diam tidak berusaha untuk melakukan deposisi. Tersirat dari mata lelahnya.

Suara dering telepon selular terdengar kembali. Lagi-lagi dari orang yang sama. Diletakkan kembali cangkir kopi dengan ogah-ogahan. Sudah tidak ada lagi rasa hormat sama sekali kini tumbuh rasa iri dan dengki. Dilihatnya tajam layar itu. Wamena Timur. Digesernya garis berwarna hijau ke arah kanan dengan jempolnya. Suara perempuan muda dan renyah dipikirannya mulai mengudara secara nyata.

“Kamu itu maunya apa sih?” tanya Wamena dingin.

Dia terdiam dalam seribu bahasa. Diseruputnya Kopi Kalosi Toraja  yang telah dipandang hina itu.

“Saat ini bukan kamu aja yang menderita tapi juga aku!, keputusan kamu!, Idealisme kamu! Ideologi kamu! Kamu! Kamu! Kamu!” teriak Wamena marah.

Kakinya disilangkan. Bersandar pada bangku dengan tenang tanpa mengeluarkan sedikitpun suara. Menanti dan menimbang-nimbang waktu yang tepat untuk membalas semua perkataan Wamena.

“Kamu itu cuman orang yang sok tahu! Berbekal rasa sakit hati masa lampau lalu mengganggap bahwa tiada orang mengerti tentangmu!” isakan kecil keluar dari setiap pernyataan Wamena.

Dia mendesah pelan. Tersenyum dingin serta bertampang merendahkan walau dia tahu tiada berarti bertampang seperti itu tanpa berada langsung di depan lawan bicaranya.

“Kadang aku berharap tidak pernah datang untuk berjumpa denganmu. Hari itu. Waktu itu. Mulut manismu yang seharusnya sudah kuhantam dahulu hingga tak tersisa.” jerit Wamena ditambah makian kasar kepadanya.

“Kamu enggak capek bertindak seolah-olah jadi korban terus?” Sahutnya tiba-tiba begitu dingin.

Suasana mendadak sunyi senyap dari balik telepon. Terdengar suara klakson mobil saling bersahut-sahutan berselimutkan siaran radio interaktif anak muda yang sedang didengar oleh lawan bicaranya. Samar-samar terdengar suara penyiar yang tertawa dengan patnernya membicarakan gaya hidup anak muda masa kini.

“Berlaga sok intelektual padahal tidak lebih dari sekedar otak udang.” Sindiran sarkasnya mulai keluar sampai-sampai membuat lawan bicaranya diam membisu.

“Dasar wanita jalang!” diputuskan telepon itu seketika lalu dilempar telepon selularnya ke meja. Suara benturan dengan meja terdengar lantang memecah sunyi sesaat di kedai kopi. Lagi-lagi para pelayan dan pengunjung bergumam membuat simpulan-simpulan dangkal tentang kehidupannya.

“Hukumnya menikah itu wajib loh, nak. Lagipula apa mau dikata orang nanti anak ibu enggak menikah. Banyak nanti kamu diomongin orang yang jelek-jelek. Kamu kan malu nanti….”. Ada desiran pelan merajuk dalam ukiran kata yang dikeluarkan oleh ibunya kini diisi kepalanya.

“Aku enggak malu kok kalau enggak menikah!”. Bentaknya kepada ibunya dengan gamblang. Pecahan-pecahan memori mulai tersusun satu persatu dalam sebuah angan diingatannya.

Jantungnya mulai memburu tidak karuan. Kemurkaan mulai hadir merasuki sanubarinya. Amarah serta dengki mulai merajai pikirannya. Efek kafein tidak boleh dianggap tidak berkontribusi pada emosinya saat ini. Peningkatan detak jantung dan tekanan darahnya tidak bisa dianggap hanya mainan belaka.

“Aku udah bilang enggak akan menikah. Dia dan aku cuman sebatas teman tidak lebih!, kamu boleh bilang teman tidur kek, apa kek. yang jelas aku enggak akan menikah. Itu keputusanku bukan milikmu!”. Bentaknya kepada seseorang. Isi kepalanya mulai padat akan perdebatan sengit.

“Dasar manusia berkepala batu!, yang bisa kamu lakukan itu cuman menyakiti hati orangtua saja!, begitu terus dari dulu!”.  Suara laki-laki itu kembali menggema. Begitu kuat dan menakutkan. Hingga membuat kupingnya pengang.

“Lantas buat apa sih aku hidup kalau kerjanya hanya selalu menyenangi orang lain saja?” tanyanya kepada laki-laki itu. Isi kepalanya mulai berkecamuk.

“Kamu itu selalu saja mempersoalkan dirimu sendiri. Lihat orang lain. Jangan anggap dirimu spesial!, kamu itu sama aja kayak manusia-manusia lainnya!, apa bedanya?”. Tanya laki-laki itu dengan sinis.

Kegelisahan menyambangi dirinya. Kedua tangannya dikepal lalu ditempelkan ke dada. Badannya mulai membungkuk hingga wajahnya menempel di paha kaki. Giginya terkatup rapat. Berusaha sebisa mungkin untuk tidak memekik seperti orang gila.

“Manusia-manusia yang lacur pikiran maksudmu?”. Jeritnya kepada laki-laki itu. “Hidupku tidak sepicik itu!, kebebasanku adalah harkatku. Persetan dengan segala macam norma sosial!” tambahnya. Isi kepalanya kini bagaikan bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Tik. Tok. Tik. Tok. Bunyi detikan jam di dinding kedai kopi kini begitu sensitif pada gendang suaranya. Tekanan berbagai macam suara menyebabkan nyeri tak tertahan. Refleks, kedua tangannya menutup telinga.

“Hidup kita itu untuk dan atas nama keluarga. Persetan sama pemikiranmu, ideologimu, keyakinanmu, atau keidealisanmu!”. Bentak kembali laki-laki itu dengan bengis.

Dalam satu persekian mili detik isi kepalanya terdiam. Membisu dalam keheningan tak wajar. Pikirannya mulai bermain-main. Mengingat kenangan bagaimana pertamakali ketika dia melihat bayi dilahirkan diikuti pecahan tangis dengan air mata kebahagian sang ibu. Ada desir dalam darahnya yang menimbulkan tawa pecah begitu saja. Tawa pilu dan kasihan kepada setiap bayi yang telah dilahirkan ke dunia ini karena sebelum lahirpun tiada pernah mereka mempunyai pilihan dalam hidupnya.

“Jadi anak yang berbakti kepada orangtua yah nak….” kata ibunya dengan pelan bersambutan dengan suara detakan jantung kecil. Begitu damai dan hidup. Itu adalah suara yang pertama kali didengarnya. Lembut, menenangkan, dan hangat. Padahal tidak lebih dari tipu muslihat belaka yang telah terpasung jelas diisi kepalanya.

Diminumnya sekali lagi kopi Kalosi Toraja untuk terakhir kalinya. Setiap tetesan jatuh masuk ke dalam kerongkongannya. Suara hembusan nafas berat keluar dari mulutnya. Jakunnya naik turun. Cangkir kopi itu diletakkan kembali diatas piring kecil berbentuk lingkaran Tangannya melambai ke arah pelayan sambil memberikan kode untuk membawakan struk tagihan pesanannya.

Tiga puluh delapan ribu rupiah adalah keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan olehnya dan sudah termasuk biaya pajak dan pelayanan seharga tiga ribu empat ratus lima puluh empat rupiah. Lantas diberikannya uang sebesar empat puluh ribu rupiah dengan estimasi kembalian dua ribu rupiah. Setidaknya dengan kembalian itu dia dapat membayar biaya parkir liar untuk kendaraan pribadinya.

Struk diberikan beserta kembalian dan terdapat tulisan:

Terimakasih atas kunjungan anda.

Silahkan datang kembali.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s