REVIEW TV SERIES “SENSE8 (2015)” – SEASON 1

 Seorang wanita bernama Angelica (Daryl Hannah) hanya memiliki waktu terbatas maka dengan ditemani oleh Jonas Maliki (Naveen Andrews), ia dengan entah bagaimana caranya menampakkan dirinya di berbagai tempat di belahan dunia pada waktu yang sama. “They’ll be hunted…born or unborn. You can give them a fighting chance”, ucap Jonas kepada Angelica. Delapan orang terpilih telah dilihatnya dan mereka pun mampu melihat sosoknya. Tidak beberapa lama kemudian sesosok laki-laki berjanggut putih muncul di belakangnya berlanjut dengan Angelica menembak kepalanya sendiri dan seketika hilanglah sosok Jonas maupun pria misterius di sampingnya. Dengan scoring intensei thrill ini adalah enam menit tiga puluh tiga detik pertama pembukaan pada episode pilot serial Sense8 dengan judul episode ‘Limbic Resonance’.

 The Wachowskis (Andi dan Lana) kembali bergulat dengan produksi cerita bertemakan science fiction setelah sebelumnya dikenal karena film The Matrix (1999). Serialnya kali ini menceritakan tentang kedelapan orang yang secara misterius melihat sesosok wanita didepannya. Sejak saat itu mereka semua dapat ‘terkoneksi’ dengan satu sama lain, tidak hanya bertukar pikiran namun juga mampu mengendalikan tubuh pihak lain, memiliki intelegensi yang terikat bahkan mampu hadir dalam bentuk nyata. Hal ini dibagi menjadi dua perumpaan, yaitu ‘Visiting’ dan ‘Sharing’.

 ‘Visiting’ adalah kemampuan setiap ‘orang’ untuk berada di tempat lain pada waktu yang sama di tempat yang berbeda pula dalam bentuk nyata dan hanya bisa dilihat serta dirasakan oleh pemilik kemampuan yang sama. Sementara ‘sharing’ adalah kemampuan yang hanya dapat diakses pada setiap ‘cluster’ saja, mereka dapat mengakses pengetahuan, bahasa, dan kemampuan apapun setiap orang yang berada di ‘cluster’nya.

 Diceritakan pada sense8 mereka memiliki delapan orang yang saling ‘ter-transcendence satu sama lain’, yaitu Will Gorski (Brian J. Smith) yang berada di Chicago, Riley Blue (Tuppence Middleton) yang berada di London/Iceland, Nomi Marks (Jamie Clayton) yang berada di California, Sun Bak (Doona Bae) yang berada di Seoul, Capheus (Aml Ameen) yang berada di Nairobi, Kala Dandekar (Tina Desai) yang berada di Mumbai, Wolfgang Bogdanow (Max Rimelt) dan Lito Rodriquez (Miguel Angel Silvestre) yang berada di Mexico.

THE TRANSCENDENCE

 Konsep utama yang ditawarkan pada serial Sense8 adalah topik tentang Transendensi (atau dalam bahasa inggris:// Transencendence). Penafsiran untuk istilah Transendensi sendiri dapat berhubungan dengan makna: lebih unggul, melampaui, superlatif, melampaui pengalaman manusia, berhubungan dengan apa yang selamanya melampaui pemahaman terhadap pengalaman biasa dan penjelasan ilmiah.

POSTER SENSE 8 (source: http://cdn.x2n.com.br/)

POSTER SENSE 8 (source: http://cdn.x2n.com.br/)

 Penawaran penafsiran ini bisa dikaitkan pada kemampuan delapan orang yang memiliki kekuatan unik, yaitu ‘visiting’ dan ‘sharing’ tadi. Atau Transendesi bisa bermakna teologis, yakni konsep ketuhanan dimana makna transendensi bertujuan menambahkan dimensi transendental dengan cara membersihkan diri dari arus hedonisme, materialisme, dan budaya yang dekaden. Pemahaman teologis ini berdekatan dengan kisah Kala Dandekar yang berada di Mumbai dimana terjadinya kekacuan antara politik dan keagamaan atau budaya masyarakat setempat. Pada episode  7 berjudul ‘WWN Double-D’, Kala berkata, “My love for Science doesn’t preclude my faith. For me science is another language we use to talk about same miracles that faith talks about.” kepada Wolfgang yang jelas-jelas tokoh ini dekat dengan materialisme dan atheisme.

 Secara matematik juga, Transendensi bisa merujuk kepada bilangan yang tak terhingga atau memiliki pecahan yang tak dapat didefinisikan. Sama dengan pembulatan ‘3,14’. Sebuah bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan sembarang persamaan polinomial dengan koefisien-koefisien bilangan bulat disebut bilangan transenden, artinya tak terhitung atau tak terhingga.

 Penafsiran melalui mathematical ini bisa kita temukan pada film Trancendence (2014) yang dibintangi oleh Johnny Deep. Dimana teknologi menguasai satu dunia atau dengan kata lain secara teologis juga, teknologi adalah tuhan. Tetapi secara penafsiran ini masih belum ditemukan pada Sense8 kecuali berbicara tentang arah cerita ‘future’ yang sempat diulas pada episode keenam ‘Demons’ ketika Sun berbincang kepada ibunya dan atau Angelica. “Remember to be careful, child. They are afraid of you, and they will hurt you if they find out.” ucap Angelica.

Find out?” tanya Sun.

What you are

What am i?

The Future” jawab singkat Angelica.

PERSONAL STATMENT

 Kembali lagi kepada pembuatnya, yaitu The Wachowskis. Sense8 bisa terbilang adalah karya paling personal untuk mereka dari segi ceritanya. Secara lebih luasnya, serial ini mengeksplore pembicaraan tentang politik, identitas diri, sexuality, gender dan agama. Sense8 sendiri berasal dari kata sensate  /ˈsɛnseɪt/, yang berarti aware atau sadar /kesadaran/.

 Salah satu tokoh yang merepresentatifkan Lana Wachowski adalah Lito Rodriguez dan Nomi Marks yang seorang transgender. Lana (atau yang sebelumnya lebih dikenal dengan Laurance ‘Larry’ Wachowski) ini menerima penghargaan Human Rights Campaign Visibilty Award pada Oktober 2012. Dalam pidatonya, dia mengungkapkan bahwa semasa mudanya, ia sering melakukan tindakan bunuh diri karena perasaan kebingungannya terhadap identitas gendernya. Pidatonya saat itu adalah penampilan publiknya terpanjang karena dia selama ini dikenal sebagai sesosok tertutup.

There are some things we do for ourselves, but there are some things we do for others. I am here because when I was young, I wanted very badly to be a writer, I wanted to be a filmmaker, but I couldn’t find anyone like me in the world and it felt like my dreams were foreclosed simply because my gender was less typical than others. If I can be that person for someone else, then the sacrifice of my private civic life may have value.” – Lana ketika menerima Freedom Award dari Equality Illinois pada bulan Oktober 2014 silam.

 Kegelisahan ini pun diutarakan olehnya pada adegan dialog antara Lito yang belum melakukan ‘coming out’ karena posisinya sebagai seorang aktor papan atas di Mexico serta takut akan kehilangan semua karir yang telah dibangunnya dan Nomi yang telah menerima dirinya sebagai seorang transgender walau ditengah-tengah penolakan keluarga dan dirinya beberapa tahun silam.

But at certain point, i realize there’s a huge difference between what we work for and what we live for.” – Nomi kepada Lito.

My Whole life. All i wanted to be was an actor. But you can’t be actor and get the parts i want…and be gay.” – Lito kepada Nomi.

CONCLUSION

 Serial Sense8 sangat saya rekomendasikan untuk kalian para penikmat serial sci-fic. Walau sebenarnya bisa dikatakan cerita dalam season pertama ini sangat lambat dan pada akhirnya hanya sebaris menceritakan tentang kedelapan tokohnya, baik permasalahan hidupnya dan bagaimana konsep ‘koneksi’ yang terjadi pada mereka. Sementara itu tentang ‘siapa mereka’ belum jelas diceritakan, terutama tentang ‘cluster’ dan siapa yang berusaha mengejar bahkan membunuh mereka. Semuanya pada akhirnya masih tanya jawab besar tetapi entah kenapa serial ini masih sangat bisa dinikmati.

 Setiap karakter mampu memiliki keunikan dan ciri khasnya masing-masing terlepas dari berapa porsi besar cerita dia dalam season pembukanya. Ditambah serial ini memiliki tingkat explicit adegan yang luar biasa (kalau Anda telah menontonnya maka paham apa yang saya maksudkan). Baik adegan sexual intimacy hingga pembunuhan dan sebagainya. (ALERT: SPOILER)

 Serial ini memiliki jumlah dua belas episode dengan masing-masing running timenya berkisar antara 40 sampai 45 menit. Final season nya yang berjudul ‘I Can’t Leave Her’ adalah semua penutup yang sungguh berkesan dan berkelas serta penuh campur aduk. Saya kasih rating 10/10 untuk itu karena berhasil dibuka dan ditutup dengan luar biasa.

 Sementara salah satu adegan terkuat menurut saya pribadi adalah pada episode keempat ‘What’s Going On’ dimana semua tokoh bersama-sama merasakan perasaan kebingungan, sedih, amarah yang campur aduk dengan menyanyi satu lagu berjudul What’s Up by 4 Non Blondes dipimpin oleh Riley.

and I try, oh my God do I try

I try all the time

in this institution

and I pray, oh my God do I pray

I pray every single day

for a revolution

09

RATING

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s