ESSAI : PEMAPARAN SINGKAT TENTANG FILM DAN MUATANNYA

     Bila berbicara tentang film maka mau tidak mau kita akan berbicara tentang fotografi karena pada perkembangannya film berasal dari kumpulan gambar bergerak. Pada tahun 1895, Robert Paul dari Inggris mendemonstrasikan kepada masyarakat di London mengenai kebolehan proyektor film yang membuat serangkaian gambar statis (still photos) disorot ke layar dan serta merta menjadi gambar hidup (moving images)  diikuti pula oleh Alpha Thomas Edison di Atlanta AS yang memamerkan gambar hidup (vita-scope) tentang kenaifan dan kekonyolan tingkah laku seseorang kepada pengunjung Pameran Kapas sementara itu Lumiere bersaudara mengadakan pertunjukan gambar hidup (cinematographe) dan membawanya keliling ke Londong pada Mei 1896. Itulah sejarah singkat awal mula film ada hingga saat ini (Tjasmadi, 2008).

     Secara harfiah, film (sinema) adalah cinematographie yang berasal dari kata cinema (gerak), tho atau phytos (cahaya), dan graphie atau grhap (tulisan, gambar, citra). Jadi, pengertiannya adalah melukis gerak dengan cahaya. Agar dapat melukis gerak dengan cahaya, harus menggunakan alat khusus, yang biasa disebut kamera. Itulah mengapa seperti yang telah diutarakan tadi bahwa film tidak akan jauh dari kata ‘kamera’.

     Dalam Tjasmadi (2008 : 1) terdapat beberapa pandangan tentang definisi film dari tokoh dunia, yaitu:

  1. Lenin, salah satu tokoh utama komunis rusia menyatakan bahwa film adalah alat propaganda yang sangat ampuh, maka film adalah alat politik.
  2. Reagan, Presiden AS ke-40 yang juga mantan aktor mengatakan bahwa film adalah alat komunikasi massa yang mampu mengubah pikiran orang lain menjadi seperti apa yang dipikirkan oleh sutradara pembuat film itu.
  3. Alvin Toffler mempertegas bahwa barang siapa menguasai informasi (media komunikasi massa termasuk film) dia menguasai dunia.

     Sementara menurut UU nomor 33 tahun 2009 tentang perfilman, film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan.

     Dalam UU yang sama pada Bab 2 Pasal 4, film sebagai media massa memiliki berbagai fungsi, yaitu: penerangan, pendidikan, pengembangan budaya bangsa, hiburan, dan ekonomi. Film sebagai media massa dilihat dari empat elemen tersebut dengan penjelasan bahwa sebagai penerangan, film merupakan media yang bisa mempromosikan nilai-nilai keragaman budaya dan kepribadian bangsa kepada masyarakat internasional. Dalam fungsi pendidikan, disebutkan bahwa film merupakan media yang mampu menjadi sarana pendidikan bagi khalayak melalui pesan-pesan di dalamnya. Film juga sebagai media yang mampu memantapkan dan mengembangkan nilai-nilai budaya bangsa melalui gambar dan pesan yang terdapat dalam film, hal ini merupakan fungsi pengembangan budaya bangsa. Untuk fungsi hiburan, film menjadi media yang mampu memberikan hiburan bagi masyarakat secara umum. Dan pada fungsi ekonomi, bahwa perkembangan film sebagai sebuah industri berdampak pada strata ekonomi dan sosial dalam masyarakat.

     Berdasarkan pemaparan definisi film diatas maka jelas bahwa film tidak hanya dapat dipandang sebagai media hiburan saja tetapi dapat ditelaah sebagai seni maupun film sebagai komoditi ekonomi, maupun film sebagai produk sosial, politik, dan budaya.

     Dalam Tjasmadi (2008 : 44) terdapat tiga fungsi film, yaitu: 

  1. Film sebagai medium ekspresi seni peran yang berkaitan erat hubungannya dengan seni.
  2. Film sebagai tontonan yang bersifat dengar-pandang (audiovisual) atau bisa dibilang sebagai hiburan.
  3. Film sebagai piranti penyampaian pesan apa saja yang bersifat dengar pandang, oleh karenanya film berkaitan erat dengan informasi.

     Dari ketiga manfaat film tersebut masih ada yang perlu dijabarkan lebih lanjut, yaitu fungsinya sebagai muatan informasi yang dimaksud oleh pembuatnya. Dengan menetapkan muatan apa, maka kegunaan film secara maksimal dapat terpenuhi. Berikut ini pemaparan tentang muatan isi informasi pada film:

Fungsi film dan Muatannya dalam Tjasmadi (2008 : 45)

Fungsi film dan Muatannya dalam Tjasmadi (2008 : 45)

     Seiring perkembangannya, film yang dulu hanya berupa kumpulan gambar kini telah terdapat dua pengklasifikasian atas sebuah film, yaitu film theatrikal, yang terdiri atas film cerita panjang (fulllength feature films) dan film cerita pendek (short-lenghth feature films) dan film non theatrikal, yang terdiri atas film dokumen (documentary), film pendidikan (instructional), film penyuluhan (informational), film propaganda (propaganda and agitation), film dokudrama (artifial arranged scene to back up documentary), dan film informasi-hiburan (infotainment) (Tjasmadi, 2008 : 46).

SUMBER

Tjasmadi, Johan HM. 2008. 100 Tahun Sejarah Bioskop di Indonesia. Bandung: Pt. Megindo Tunggal Sejahtera.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s