ESSAI : SEKILAS TENTANG PROFESI KRITIK FILM

     Menjadi kritikus film di negeri ini ternyata sangat mudah. Tidak perlu prakualifikasi, tidak seperti pakar ekonomi yang minimal perlu gelar sarjana ekonomi atau pengalaman sebagai praktisi bisnis. Kredensial seorang kritikus film berkisar dari pemerhati film, kataloger film, penggiat film, hingga wartawan khusus film[1]. Kalimat tersebut dirasa cocok sebagai pembuka untuk membahas seputar permasalahan profesi kritik film di negeri ini yang tiada habisnya.

     Melalui tulisan Siapa Lagi Ingin Jadi Kritikus Film?, Richard Oh berkeluh kesah bahwa banyak ditemukan resensi film di beberapa media yang saling sahut menyahut dengan pembahasan hampir seragam dengan kemelut ujung apakah film itu layak ditonton atau tidak. Hal ini pun diamini oleh Martin Berheimer[2] bahwa kritik adalah pekerjaan yang paling gampang disalahgunakan. Siapa saja dapat didaulat menjadi seorang kritikus film asal ada kepercayaan publik dan memiliki banyak pengikut sehingga jadilah dia bisa dianggap dan menyakini bahwa dirinya adalah seorang kritikus film.

     Lantas berdasarkan hasil perdebatan diatas maka sah-sah saja bila selalu terlontar pertanyaan: Bagaimana sih indikator yang tepat untuk menyatakan seseorang sebagai kritikus film?. Padahal lebih dulu ada yang harus kita luruskan tentang kritikus film. Secara sederhana, kritikus film akan mengacu pada satu kegiatan, yaitu kritik film. Menurut KBBI Online[3] kritik film adalah kupasan dalam media massa mengenai film yang dipertunjukkan di sebuah bioskop, ditinjau dari segi kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya yang dilandasi alasan yang logis. Ada lagi yang bilang bahwa kritik film adalah sebuah kegiatan membedah suatu film secara mendalam dan detail yang nantinya melahirkan karya ilmiah mengenai film. Ujungnya kegiatan kritik film bermuara pada kata ‘apresiasi film’ melalui tulisan.

     Tetapi terdapat pembeda besar antara dua definisi tentang kritik film yang telah diungkapkan diatas bahwasanya kegiatan kritik film dapat dilakukan dengan hanya alasan logis penulis (subjektif) atau melalui serangkaian metode akademik (objektif). Mungkin inilah yang menjadikan kegiatan kritik film selalu berada di area debat, yang dapat dieksploitasi kemana saja karena tidak adanya metode tunggal dalam proses pengkritikan tersebut.

Profesi Kritik Film

     Berdasarkan pemahaman yang telah diutarakan sebelumnya maka apabila kita tinjau lebih lanjut terdapat tiga profesi besar yang aktif dalam melakukan kegiatan kritik film, yaitu Penulis resensi film, Kritikus Film, dan Peneliti Film. Ketiga profesi ini mempunyai fungsi yang berbeda-beda[4].

     Penulis resensi film biasanya orang-orang yang bekerja untuk majalah atau koran dan tugasnya memberikan penjelasan tentang mengulas film yang baru dirilis. Apabila membaca hasil tulisannya, kita dapat menilai bahwa tulisannya cenderung merekomendasikan film yang diulasnya layak atau tidak layak ditonton oleh pembaca, Tulisan mereka cenderung tidak membahas seni film itu sendiri atau mengkiritisinya, namun mayoritas bercerita tentang seputar permukaan pada filmnya saja, misalnya hanya memberikan komentar tentang pembuat film atau teknik-teknik lain, seperti musik, pencahayaan dan sebagainya. Mereka sering menempatkan dirinya sebagai penonton yang memberikan komentar terhadap film.

     Dibandingkan penulis resensi, kritikus film cenderung memandang film sebagai sebuah karya seni dimana bagus atau tidak bagusnya sebuah film tidak hanya didasarkan isi cerita belaka saja tetapi dikaitkan dengan luas lingkup lainnya, seperti komoditi politik, ekonomi, sosial, maupun budaya. Tetapi sama halnya dengan penulis resensi, kritikus film cenderung dengan tulisan yang bersifat subjektif. Apabila hatinya senang, dirinya akan menulis film tersebut lebih sebagai seni yang bagus dan apabila hatinya tidak senang dapat ditulis tentang kejelekan film tersebut. Tetapi perbedaan besarnya kritikus film tidak mewakili dirinya sebagai penonton tetapi dirinya sendiri dalam menjelaskan film.

     Beda halnya dengan peneliti film yang biasanya berada dalam ruang lingkup akademik. Mereka akan lebih objektif dalam analisanya karena tugasnya mengeksplikasi film dan menganalisa menurut standar metode yang berlaku dan analisisnya dapat berupa analisis instrinsik maupun ekstrinsik. Disinilah garis besar perbedaannya bahwa peneliti film lebih terpaku kepada metode yang digunakan sementara kritikus film lebih bersifat universal dalam menganalisis film.

 

Peran Kritikus Film

          Pauline menjelaskan tentang peran kritikus film kepada masyarakat, sebagai berikut[5]:

The role of the critics is to help people see what is in the world; what is in it that shouldn’t be, what is not in that could be. He is a good critic if he helps people understand more about the work than they could see for themselves; he is a great critic, if by his understanding and feeling for the work, by his passion, he can excite people so that they want to experience more of the art that is here, waiting to be sized. He is not necessarily a bad critic if he makes errors in judgement… he is a bad critic if he does not awaken the curiosity, enlarge the interest and understanding of his audience. The art of the critic is to transmit his knowledge of and enthusiasm for at to others.

     Berdasarkan pemaparan tersebut, Kael menjelaskan bahwa kritikus film berfungsi membantu orang melihat apa yang ada dalam sebuah karya, apa yang mestinya tidak ada dalam karya itu, dan apa yang mestinya hadir dalam karya itu. Kritikus yang baik, lanjut Kael, membantu orang memahami sebuah karya lebih dari saat orang itu melihatnya sendiri; kritikus yang hebat yakni jika ia, dengan pemahaman dan perasaannya atas sebuah karya, juga dengan hasratnya, bisa menarik orang untuk lebih menelusuri sebuah karya yang menunggu untuk disingkap. Ia bukanlah kritikus buruk bila penilaiannya ternyata keliru. Ia jadi kritikus buruk ketika kritikannya tak membangkitkan rasa ingin tahu, mengundang ketertarikan maupun memberi pemahaman pada pembacanya. Kael lantas berkesimpulan, seni dari kritisisme terletak pada penularan pengetahuan dan menggiring rasa antusias berkesenian pada orang lain.

     Dari sini kelihatan, fungsi kritikus adalah sebagai jembatan antara masyarakat dengan pembuat film. Ia membantu masyarakat mengapresiasi sebuah film. Dalam ungkapan Marselli Sumarno (1983) [6], kritikus film berguna untuk “menangkap dan menyampaikan kepada pembaca tingkat intelektual dan emosional sebuah film, memberi deskripsi kepada penonton film apa yang dibuat. Meski filmnya jelek, kritikus bisa menyebutkan pengalaman apa yang dapat dinikmati”.

     Pada posisi sebagai jembatan pula posisi perkawanan kritikus dan pembuat film harus diletakkan. Kritikus membantu sineas menyampaikan gagasannya pada penonton lewat penafsiran-penafsirannya. Kepada pembuat film, kritikus punya kewajiban untuk memberi evaluasi atas hasil kerja sang sineas.

 

SUMBER

[1] Artikel ‘Siapa Lagi Ingin Jadi Kritikus Film?’ dimuat oleh Kompas, Sabtu 26 November 2008 

[2] Kristanto, JB. 2004. Nonton Film Nonton Indonesia. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

[3] Pengertian Kritik Film pada website http://kamus.cektkp.com/kritik-film/ diakses pada 23 September 2015 pukul 16:43 WIB

[4] Adi, Ida R. 2011. Fiksi Populer: Teori dan Metode Kajian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

[5] Adi, Ida R. 2011. Fiksi Populer: Teori dan Metode Kajian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

[6] Tentang Peran Kritikus Film pada http:m.liputan6.com/showbiz/read/2273062/tentang-hubungan-kritikus-dan-pembuat-film-bagaimana-baiknya diakses pada Minggu, 23 Agustus Pukul 18:51 WIB 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s