Film 3 : Kisah Masa Depan Yang Sarat Akan Isu Moral Berbalut Futuristik Yang Tidak Begitu Penting

Poster film 3 karya Anggu Umbara

Poster film 3 karya Anggy Umbara

Sepenggal Kisah Tentang Film Futuristik di Indonesia

Banyak film bertemakan futuristik dan fiksi ilmiah memberikan gambaran akan  masa depan tentang kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi pada kehidupan di Bumi setelah ratusan atau bahkan ribuan tahun dari sekarang. Bagian terbaik dari genre film tersebut adalah dengan menawarkan penggambaran bagaimana kemajuan teknologi dan perkembangan kehidupan manusia — Dalam banyak kasus, film jenis ini lebih sering menggambarkan kehidupan manusia yang telah kacau balau, seperti The Terminator (1984), Jurrasic Park (1993), dan The Matrix (1999). Pada ketiga film itu setidaknya digambarkan bagaimana Bumi hancur akibat keserakahan manusia sendiri.

Tetapi konsep futuristik sendiri tidak selalu melulu dekat dengan kisah masa depan secara luas. Dalam konsep lebih sempitnya bisa saja digambarkan bagaimana kondisi sebuah negara atau kota. Tidak ada hukum pasti bagaimana sebuah film dapat dikatakan sebagai film futuristik. Saya sendiri pertama kali menonton Film Indonesia yang agak futuristik itu dilayar televisi dalam format sinetron, sebut saja Anak Ajaib (1999 – 200), sinetron yang menjadi tonggak awal kepopuleran Joshua Suherman. Sinetron ini mengawali trend film anak-anak lokal bertema robotik. Diceritakan Joshua adalah hasil robot penemuan imuan yang memiliki kemampuan ‘kesadaran’ atau memiliki perasaan emosi. Ada lagi Lorong Waktu (1999 – 2006), bercerita tentang ustadz yang menemukan mesin waktu dan mampu membawanya berkelana ke masa lalu dan masa depan. Pada sinetron-sinetron itu konsep futuristik tidak begitu dijelaskan secara detail bahkan hanya sekedar bumbu saja berbalut nilai moral keluarga tetapi ini adalah rekam sejarah kalau kita pernah membuat film ala-ala futuristik. Saya sendiri sejujurnya tidak tahu apa film pertama bertema futuristik yang pernah dibuat di Indonesia.

Mirisnya, film bertemakan itu lambat laun mulai menghilang dari peredaran. Entah karena dianggap tidak laku atau takut untuk menggarapnya karena masalah budget yang mungkin cukup besar. Saya tidak bilang benar-benar menghilang karena masih ada karya-karya independen, seperti Anna & Ballerina (2014), film pendek garapan sutradara muda Naya Anindita ini menceritakan sepenggal kisah hidup Anna, sebuah robot ciptaan ayahnya yang terobsesi untuk menjadikan dirinya penari balet. Atau sebuah webseries berjudul Terang Malam (2015 – ), menceritakan tentang Key seorang Vlogger yang terobsesi dengan keberadaan mahluk luar angkasa akibat yakin bahwa ayahnya menghilang karena kasus penculikan ekstraterrestrial. Setidaknya, kini ada lagi hembusan angin segar untuk layar perak Indonesia pada tahun 2015 dengan menayangkan film berjudul 3.

Representasi Indonesia di Masa Depan ala Film 3

Diceritakan pada tahun 2036, Indonesia telah banyak terjadi perubahan. Paham Kesatuan dan Republik telah berubah menjadi Liberal. Hak Asasi Manusia (HAM) menjadi prioritas pemerintah dan aliran kepercayaan, dalam hal ini agama, menjadi dipandang sebelah mata. Penggunaan peluru tajam sebagai senjata kini menjadi ilegal. Tetapi, permasalahannya ada pada kelompok radikal yang kembali bangkit dan berjuang melawan pemerintah sehingga aparat mengandalkan kemampuan bela diri yang tinggi untuk menumpas para pelaku kriminal. Dibalik itu semua ada beberapa orang yang memiliki kemampuan tinggi bela diri diatas rata-rata. Itulah garis besar film 3 yang bertemakan action – futuristic. Begitu luar biasa padatnya untuk sebuah film berdurasi kurang lebih 125 menit.

Pertama, isu yang berusaha diangkat adalah tentang paham liberalisme di Indonesia. Liberalisme atau liberal adalah sebuah ideologi, pandangan, dan tradisi politik yang didasarkan pada pemahaman bahwa kebebasan dan persamaan hak adalah nilai politik yang utama. Munculnya ideologi ini disebabkan karena ketatnya peraturan sehingga membuat kekuasaan bersifat otoriter, tanpa memberikan kebebasan berpikir kepada rakyatnya. Ada tiga hal yang mendasar dari paham liberal, yakni Kehidupan (Life), Kebebasan (Liberty), dan Hak Milik (Property).

Maka kita akan berkenalan dengan tiga karakter utama yang saya anggap dapat merepresentasikan ketiga hal tadi. Pertama, adalah Alif (diperankan oleh Cornelio Sunny) dia adalah bentuk dari ‘kebebasan’. Kebebasan disini dimaksudkan bahwa ia menjadi sebuah cerminan kebebasan yang telah terjadi di Indonesia. Bisa kita lihat dari ketidakpercayaannya terhadap agama bahkan tidak ada sekalipun adegan memperlihatkan ia beribadah kecuali hanya melafalkan ucapan doa salam dalam Bahasa Arab. Tetapi disisi lain kebebasan yang dia rasakan adalah fana karena diam-diam sang jenderal militer — saya lupa namanya siapa tetapi diperankan oleh Piet Pagau memanipulasi dirinya dan membuatnya bertindak sesuai kepentingan pribadi dan negara. Padahal pemerintah tidak boleh bertindak menurut kehendaknya sendiri melainkan menurut kehendak rakyat (Goverment by the Consent of The Pople or The Governed) dan Pemusatan kepentingan adalah Individu dan Negara hanyalah alat (The Emphasis of Individual and The State is Instrument), negara adalah suatu mekanisme yang digunakan untuk tujuan-tujuan lebih besar dibandingkan negara itu sendiri. Jelas Alif sebagai individu tidak lagi memiliki kebebasan bertindak dan berpikir secara kritis karena dikontrol oleh pemerintah secara tidak sadar.

Selanjutnya kita berjumpa dengan tokoh Lam (diperankan oleh Abimana Aryasatya), seorang jurnalis yang dibungkam opininya oleh tempatnya bekerja. Dia adalah penggambaran dari ‘kehidupan’ yang tidak selaras dengan hak kebebasan berpendapat bagi masyarakat atau kesempatan yang sama (Hold the Bacis Equality of All Human Being): bahwa manusia mempunyai kesempatan yang sama didalam segala bidang kehidupan, baik politik, sosial, ekonomi dan kebudayaan namun kualitas manusialah yang menentukan kesempatan itu. Terlepas dari semua penghargaan-penghargaan yang telah diterima olehnya  sebagai jurnalis tetapi tetap saja pimpinan redaksi tidak mengizinkan dia membuat artikel tentang pemboman oleh pemeluk agama islam karena ditakutkan menuai kecaman. Kebebasan pers jelas tidak ada dan media massa juga diperlihatkan dikontrol oleh negara.

Terakhir adala  Mim (diperankan oleh Agus Kuncoro), seorang ustadz di Padepokan Al-Ikhlas dituduh sebagai anggota kelompok ekstrimis karena memeluk dan menyabarkan syariat ajaran agama islam. Ada beberapa adegan yang bisa ditinjau, seperti di Padepokan Al-Ikhlas yang dihuninya dan para santri tengah disergap secara paksa oleh aparat hukum tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Disini seolah-olah Mim tidak menerima perlakuan yang sama (Treat the Other Reason Equally) serta tidak berjalannya hukum negara (The Rule of Law).  Padahal dalam paham liberal, setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengemukakan pendapatnya dan fungsi negara adalah untuk membela dan mengabdi pada rakyat. Ini merupakan representasi hak milik yang dilanggar.

Lalu apakah Indonesia di masa 2036 yang hendak digambarkan oleh Anggy Umbara ini?. Saya merasa 2036 adalah sebuah bentuk lain dari masa Orde Baru. Lihatlah betapa paham liberal dianggungkan selayaknya Orde Baru oleh masyarakat karena merupakan bentuk negara yang stabil dan mampu mencapai kemajuan ekonomi dan infrastruktur luar biasa canggihnya —- terlihat dari gedung-gedung pencakar langit atau gadget yang serba kaca transparan tetapi dibalik itu semua malah itu adalah rezim yang paling buruk karena banyak konspirasi terkuak di penghujung film.

Konspirasi  dan Futuristik yang Nanggung

Maka dari itu isu kedua yang ada di 3 adalah konspirasi yang dilakukan oleh pemerintahan Indonesia. Saya meninjam Teori Konspirasi untuk berusaha memahami apa yang sedang direkonstruksi pada film ini. Teori ini berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organiasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh.

Ini sangat relevan dengan melihat adegan-adegan akhir pada 3 yang mengungkap bahwa semua tindakan pemboman atau kekerasan mengatasnamakan agama islam adalah buatan pemerintah belaka dan sistem itu telah terjadi sejak dahulu kala tanpa siapapun menyadarinya. Dan itu adalah usaha untuk menyeimbangkan antara jahat dan baik karena semua yang di dunia ini tidak boleh dominan.

Penggunaan konspirasi ini seringkali ditemukan pada film-film futuristik dan fiksi ilmiah. Sebut saja The Matrix yang mengangkat paham David Icke, penganut teori konspirasi di Inggris yang mengatakan kita selama ini hidup di dalam sebuah Matrix — dia percaya apa yang sedang kita jalani sekarang hanyalah sebuah ilusi. Atau Terang Malam yang menceritakan ketika terjadi Gestapu (gerakan tiga puluh september), itu adalah tanda bahwa Indonesia siap bekerja sama untuk proyek rahasia demi kepentingan konsorsium yang melibatkan penyelidakan atas mahluk ekstraterestrial tanpa diketahui oleh publik.

Dua contoh film diatas memiliki tingkat konspirasi yang jelas melibatkan tingkat intelegensi tinggi maka sah-sah saja apabila dalam berbagai adegan film itu digambarkan sebuah konstruk masa depan berteknologi tinggi yang jauh dari nalar logika. Tetapi sayangnya, konspirasi yang ada di 3 malah ‘memble‘ dan membuat saya sebagai seorang penonton malah menjadi unbelieveable atas dunia yang tengah dibangun oleh Anggy ini. Kalau memang dia sengaja men-setting Indonesia tahun 2036 lantaran konflik yang terjadi begitu pelik, saya tidak begitu setuju. Semua kisah yang diceritakan pada 3 setidaknya masih bisa untuk digambarkan pada masa kini karena itu tengah terjadi pada masyarakat modern baik disadari atau tidak. Inilah yang menyebabkan setiap unsur futuristik pada 3 tidak relevan dengan isu atau masalah yang diangkat ke permukaan.

Ditambah lagi pembagian wilayah kota Jakarta yang didasarkan pada bilangan angka layaknya gambaran masa depan berbentuk distopia ala The Hunger Games karya Suzanne Collins. Saya tidak bisa bilang apakah ini murni menjiplak atau memang sekedar murni kebetulan tetapi yang perlu digarisbesarkan adalah hilangnya esensi dari kota Jakarta, seakan-akan dunia telah begitu jauh berputar. Maka disinilah kerancuan futuristiknya. Ditambah embel-embel ‘kemampuan bela diri diatas rata-rata’ yang membuat saya agak tercengan dan gagal paham, terutama pada adegan saat Mim menghentikan tembakan peluru dengan kekuatan tenaga dalam serasa seperti menonton para mutant dalam X-Men yang memiliki kemampuan telekinesis.

Kemudian, pertanyaan lainnya adalah kemana agama yang lain?, sepanjang film berputar saya bertanya-tanya apa yang terjadi pada agama, seperti Kristen, Buddha, Hindu, dan atau ajaran kepercayaan adat lain. Rasa-rasanya film ini memang mengkritisi bagaimana pemberitaan media massa terutama mancanegara terhadap pemeluk agama Islam yang kini serba identik dengan ISIS (The Islamic State of Iraq and Syria), kelompok ekstremis islam yang mengikuti ideologi garis keras Al-Qaidah dan menyimpang dari prinsip-prinsip Jihad. Lucunya lagi diam-diam katanya sih ISIS buatan Amerika walau tidak tahu secara pasti kebenaran tersebut. Lagi-lagi konspirasi.

Ciri Khas Anggy Umbara

Sebelum menikmati 3 saya sudah dua kali menonton film karya Anggy, yaitu Comic 8 (2014) dan Comic 8: Casino Kings Part 1 (2015) serta sempat juga melihat cuplikan dari film Mama Cake (2012). Ada kreativitas seni dan visi yang jelas diberikan oleh Anggy pada setiap film-filmnya. Keselarasan dalam setiap karyanya bisa dilihat dari pengguanaan dialog pada setiap karakter yang campur aduk antara penggunaan Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Atau juga penggunaan tone warna yang begitu variatif bahkan terlihat coba-coba. Jangan lupakan tatanan sinematografinya ala ala 300 (2006) yang komikal, penuh slow mo, dan kekerasan vulgar. Serta pembagian jalan cerita yang terbagi-bagi berdasarkan chapter, seperti pada 3 yang terbagi atas empat chapter, yaitu Chapter ALIF, Chapter LAM, Chapter MIM dan Chapter ALIF LAM MIM.

Bagi saya yang paling kentara dari ciri khas setiap film Anggy adalah tutur cerita yang selalu memberikan detail penjelasan berbentuk dialog pada karakter. Kesimpulan yang vulgar ini cenderung seolah-olah menyatakan penonton adalah ‘orang bodoh’ yang tidak mengerti jalan cerita pada filmmnya. Pesan tersampaikan pun akhirnya bertindak tunggal, hanya murni dari penuturan kontennya tanpa sempat memberikan celah bagi penonton untuk menginterpretasikan dunia yang tengah dikonstruksi pada film buatan Anggy. Namun di luar permasalahan itu, satu kontribusi besar Anggy dalam industri perfilman Indonesia adalah gaya membuat film komersil tanpa perlu kehilangan idealismenya sendiri.

3 | 2015 | Negara: Indonesia | Sutradara: Anggy Umbara | Produksi: Multivision Plus | Pemeran Utama: Cornelio Sunny, Abimana Aryasatya, Agus Kuncoro, Ika Bravani, Donny Alamsyah, Verdi Solaiman, Piet Pagau, dan Tanta Ginting | Durasi: 125 menit

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s