Victoria: Perampokan bank dan 134 menit pelarian tanpa lelah

VICTORIA (2015)

VICTORIA (2015)

Baru setahun lalu kita dihadirkan dengan karakter Riggan Thomson (diperankan oleh Michael Keaton), seorang aktor panggung Broadway yang berusaha menghidupkan popularitasnya pada film Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) disutradarai oleh Alejandro González Iñárritu. Film tersebut mampu membuat decak kagum saya sebagai penonton dengan gaya sinematografi tidak biasa, yaitu film yang hampir menyerupai adegan tanpa cut sama sekai dengan genre magical realism. Tata sinematografinya sendiri diarahkan oleh Emmanuel Lubezki (sebelumnya terlibat dalam proyek Gravity). Tetapi apa jadinya bila kali ini ada benar-benar ada film yang dibuat dengan proses pengambilan gambar tanpa cut sama sekali?

Victoria si gadis kesepian

Kebanyakan film yang bertemakan crime selalu tidak jauh-jauh dengan adegan baku hantam tembakan berbalut kisah tragis pelarian para tersangkanya dari kejaran mata rantai hukum. Terlebih lagi apabila mengambil tema cerita tentang perampokan bank, sebut saja The Town – seringkali film-film jenis hanya unggul dalam memberikan nuansa suspense dan thrill hingga terkadang selalu saja melupakan cara membangun realista nyata. Penonton seringkali terpadaya dengan adengan action belaka tanpa memperdulikan ceritanya yang telah dipenuhi cacat logika. Tetapi tidak demikian dengan Victoria.

Film yang diarahkan oleh Sebastian Schipper ini menceritakan tentang perjalanan satu malam sekelompok pemuda/i berumur dua puluh tahunan ala-ala 21&over. Babak pertama pada film ini menceritakan tentang pribadi Victoria – seorang gadis berasal dari Madrid yang baru saja pindah ke Berlin dan tidak memiliki sama sekali kenalan.

Kesendiriannya digambarkan ketika dia berada di bar dimana tengah berdansa sendirian dan ketika hendak membeli Vodka/Schapps, ia menawari penjaga bar untuk minum bersamanya, ketika permintaan tersebut ditolak ada guratan kebingungan sambil melihat sekitarnya seakan mencari kawan atau setidaknya teman berbicara.

Tidak lama kemudian adegan bergulir mempertemukan antara dirinya dengan Sonne ketika hendak keluar dari bar. Perkenalan singkat pun terjadi antara ia dan Sonne, Boxer, Blinker, juga Fuß. Disini film dibawa pada adegan-adegan pergulutan umat manusia yang kesepian, saling berbagi cerita dan sedikit rahasia. Intens perasaan ada pada Victoria dan Sonne.

Salah satu adegan yang membuat mereka intim adalah ketika Victoria menceritakan tentang dirinya yang menyerah untuk menjadi seorang pianis professional kepada Sonne di kafe, tempat ia bekerja. Selama sekitar lima puluh menit pertama cerita ini dibawa antara romansa malu-malu mereka berdua yang tahu-tahu langsung dihajar habis ketika telepon dari Boxer membuyarkan romansa sesaat mereka.

Disinilah cerita langsung berubah secara ajaib hingga seratus delapan puluh derajat. Boxer ternyata terlibat masalah dengan kelompok mafia jerman. Dirinya diminta membawa empat orang namun akibat Fuß mabuk berat ia kekurangan satu orang, akhirnya Sonne dipaksa oleh Boxer meminta bantuan pada Victoria untuk hanya sekedar menjadi pengendara mobil curian mereka. Victoria pada akhirnya menyetujui untuk membantu mereka tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi sesungguhnya karena kala itu dialog yang terjadi antara Sonne dan Boxer menggunakan bahasa jerman.

Cerita lalu bergulir menjadi mereka berempat melakukan perampokan bank dan bersama melarikan diri dari kejaran polisi. Satu demi satu para tokoh perlahan tiada hingga akhirnya menyisakan Victoria dengan uang sebesar 50.000 grand.

Selamat tinggal “Birdman”

Secara garis besar film Victoria tidaklah lebih dari cerita bergenre drama-crime dengan nuansa thriller biasa – tidak terlalu ada yang begitu spesial darinya kecuali pengambilan adegan di dua puluh dua lokasi berbeda dengan pengambilan gambar tanpa proses cut selama seratus tiga puluh empat menit tanpa henti.

Naskah aslinya sendiri begitu singkat hanya berjumlah dua belas halaman (sumber: imdb.com), kebanyakan percakapan terjadi adalah improvisasi para pemain. Film arahan Schipper ini begitu tidak biasa bahkan begitu liar dan terbilang berani. Kadang-kadang ada saja yang begitu gelap, atau terlalu over lighting dengan kamera berputar-putar begitu absurd tetapi jenakanya ini yang membuat film dapat hidup dan menjadi begtu spesial.

Menonton Victoria tidak serasa seperti menonton sebuah film yang menceritakan tentang perampokan tetapi memang ada sebuah adegan perampokan bank secara nyata. Film ini diambil dari pukul 4:30 am sampai 7:00 am secara nyata dan dibutuhkan tiga kali pengulangan pengambilan gambar selama proses berlangsungnya produksi film

Memang tidak sah kalau kita bilang film ini lebih ‘jagoan’ dari Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) karena dari sisi konten cerita, film arahan Alejandro González Iñárritu ini lebih menang dan bahkan tata gambar pun sebenarnya lebih menawan dan eksotis ketimbang Victoria yang begitu implusif. Tetapi kesan ‘hidup’ lebih dapat tersalurkan pada Victoria.

Secara sederhanya kita tahu bahwa ada beberapa adegan pada Birdman yang ada proses cut dan juga kita tahu kalau itu hanya lah sebuah film menuturkan cerita sebaliknya Victoria menang disini – ia lebih memberikan tawaran untuk ‘hidup’ dengan tidak bermain-main dalam imaji penonton ketika menikmatinya. Film ini apa adanya, memberikan cerita secara real time kepada penonton tanpa ada proses bertele-tele belaka.

Victoria | 2015  | Durasi: 134 menit | Produksi: A Match Factory presentation of a Monkeyboy production in co-production with Deutschfilm and Radicalmedia in association with WDR, Arte | Sutradara: Sebastian Schipper| Penata Gambar: Sturla Brandth Grøvlen|Pemeran Utama: Laia Costa, Frederick Lau, Franz Rogowski, Burak Yigit, Max Mauff, Andre M. Hennicke, Anna Lena Klenke, Philipp Kubitza, Eike Frederick Schulz, Hans Ulrich Laux | Negara: German | Bahasa: German-Inggris| Film Info by Rotten Tomatoes: Victoria’s single-take production is undeniably impressive, but it’s also an effective drama in its own right — and one that juggles its tonal shifts as deftly as its technical complexities.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s