The Little Prince: Menjadi Dewasa Yang Menyenangkan

The Little Girl (The Little Prince)

The Little Girl (The Little Prince)

Seorang gadis kecil (The little girl) bersama ibunya (The mother) terdiam di sebuah ruang tunggu. Momen itu menjadi hal penting bagi mereka berdua karena si gadis kecil akan mempresentasikan dirinya dihadapan para petinggi akademi agar dapat masuk di sebuah sekolah terkenal. Ketika proses presentasi, satu pertanyaan terlontar mengenai keinginan apa yang hendak dicapainya ketika dewasa kelak. Bingung sang gadis jatuh pingsan saat itu juga.

Akibat kegagalannya sang ibu bersikeras untuk mengatur hidup anaknya dengan membuat ‘plan life‘, jadwal hidup anaknya selama setahun ke depan agar dapat masuk menjadi siswi di akademi tersebut. Sementara, si gadis kecil hanya terdiam bingung melihat papan besar yang telah disusun rapih oleh sang ibu. Setiap jam telah diatur untuk segala aktivitasnya, dimulai dari makan, mandi, hingga belajar yang dilakukan terus menerus. Tanpa mengeluh dia pun mulai melakukan apa yang telah direncakan oleh sang ibu.

Kisah Perjalanan Sang Pangeran Kecil 

Suatu ketika, ia terganggu oleh tetangganya, seorang kakek tua yang menyalakan pesawat di halaman rumah hingga salah satu badan pesawat  terlempar ke rumah si gadis kecil. Karena rasa sesal, sang kakek memberikan  satu lembar kertas berisikan cerita. Sang gadis kecil tidak menggubrisnya malah membuangnya tetapi lambat laun karena rasa penasaran dia mulai membuka secarik kertas tersebut yang berisikan sebuah cerita mengenai seorang pangeran kecil.

Perlahan sang gadis bergumam, “Once upon a time there was little prince who lived on a planet that was scarcely bigger than himself…..

Sekarang perjalanan kisah naratif ini baru saja dimulai. Sang gadis kecil dengan seksama menelan semua cerita tersebut, lalu menyampaikan kritik mengenai logisnya cerita tersebut kepada si sang kakek. Cerita hanyalah sebuah cerita, itulah yang tidak dipahami si gadis kecil. Dia dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya, mimpinya tidak ada bahkan abstrak karena dia hanya mengetahui tujuan hidupnya sama dengan tujuan ibunya.

little-prince-cannes-film-festival-7

The Little Prince and The Rose

Pergeseran perspektif mulai bermain disini. Melalui cerita The Little Prince yang merupakan sebuah bentuk nyata petualangan imajinasi anak-anak yang begitu besar hingga melebih besarnya sebuah planet. Sang gadis kecil mulai terkesima dengan perjalanan sang pangeran kecil. Ironinya, ada sebuah sekuntum mawar merah mekar pada planet si pangeran. Mawar tersebut lambat laun mengkonsumsi pikiran sang pangeran hingga diputuskan olehnya untuk segera meninggalkan planet tersebut.

Terdampar. Kata paling tepat disini. Akibat sifat kekanak-kanakannya dia mendarat di sebuah gurun pasir. Disitu dia melihat mawar yang begitu berlimpah tidak seperti di planetnya. Dia pun mulai mempertanyakan apa bedanya mawar dia dengan mawar ini. Pertemuannya dengan sang rubah (The fox) membawa beragam perspektif mengenai hidup. Berbagai pertanyaan mengalir dengan sendirinya selama jejak perjalanannya di gurun pasir hingga bertemulah dia dengan sang pilot (The aviator) yang juga terdampar. Bersama, mereka membenarkan pesawat sang pilot agar dapat mengantarkan sang pangeran kecil kembali ke planetnya untuk berjumpa dengan sang mawar – kekasih hatinya.

Kisah Naratif Yang Tidak Sederhana

Kisah dalam The Little Prince tidaklah sederhana karena banyak mengandung multitafsir. Sebagai sebuah film animasi tampaknya apabila ditujukan kepada anak-anak rasanya sungguh berat untuk dicerna.

Sang gadis kecil adalah simbol kuasa atas orang tua kepada anaknya. Dia tidak memiliki imaji sama sekali untuk hidupnya, value atas dirinya pun juga mungkin tidak ada. Berbeda dengan sang pangeran kecil yang merupakan simbol kebebasan. Sang gadis kecil belajar dari dirinya mengenai konsep berjuang untuk meraih mimpi tetapi ternyata sang pangeran kecil telah melupakan semua impiannya dan menjadi dewasa yang tidak menyenangkan.

Permainan dalam bercerita ditekankan disini dengan membuat sebutlah ‘dunia paralel’ karena sang gadis kecil berusaha menemukan pangeran kecil. Ia berkendara dengan pesawat sang kakek lalu akhirnya menemukan sang pangeran yang telah menjadi dewasa dan berprofesi pegawai rendahan, ditekan oleh kepentingan pribadi seorang penguasa.

Salah satu tangkapan yang menarik untuk dibahas adalah mengenai bintang yang diambil oleh sang penguasa untuk digunakan sebagai energi cahaya. ‘Bintang’ disini bisa diarikan sebagai simbol kebebasan. ‘Dunia paralel’ tanpa bintang disini begitu gelap, muram dan menyedihkan. Para orang dewasa hanya bekerja terus menerus dan melupakan konsep hidup sebenarnya.

Apabila diambil dari salah satu lirik lullaby terkenal, “Twinkle, twinkle, little star, How I wonder what you are! Up above the world so high, Like a diamond in the sky.

Mungkin senada dengan apa yang dimaksudkan pada The Little Prince, bahwa kala kita masih kanak-kanak, selalu saja kita dibuat penasaran tentang hal-hal yang luar biasa hingga selalu ingin menggapainya penuh usaha. Tetapi kala dewasa semua sirna, yang dilihat bukan lagi angan atau mimpi belaka melainkan realitas semata. Ini adalah kritik pedas kepada mereka yang menjadi dewasa dan melupakan masa kanak-kanaknya.

Kritik lain  disampaikan mengenai  konsep hubungan orang tua dan anak. Sang gadis kecil tidak pernah berjumpa dengan sang ayah karena selalu berkeliling dunia, sang ibu selalu menghabiskan waktu bekerja dan memberikan perintah. Dia kesepian sehingga menjadikan sang kakek tua sebagai teman dekatnya.

Lucunya, si pangeran kecil juga tidak digambarkan memiliki orang tua. Dia sendirian pada sebuah planet sampai sebuah mawar muncul tiba-tiba. Jelas kalau The Little Prince ini kelam dan gelap walau terkadang juga bisa menjadi begitu hangat dan penuh harapan.

Bila disandingkan dengan kisah terkenal Peterpan mungkin The Little Prince lebih dewasa karena dengan jelas-jelas memaparkan bagaimana kenyataan dunia lalu berjuang melawannya sementara kisah Peterpan malah melarikan diri dari itu semua dengan membuat sebuah dunia khalayan, NeverlandThe Little Prince adalah sebuah wujud sederhana untuk berjuang menjadi dewasa yang menyenangkan.

The Little Prince | 2015 | Durasi: 108 menit | Sutradara: Mark Osborne | Produksi: Paramount Pictures | Negara: Paris | Pemeran: Rachel McAdams, Paul Rudd, Marion Cotillard, James Franco, Benecio Del Toro, Mackenzie Foy, Jeff Bridges  | Bahasa: Paris/Inggris

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s