A Copy of My Mind: Nikmatnya Sekeping DVD Bajakan

A Copy of My Mind - Tara Basro (Sari) dan Chicco Jerikho (Alek)

A Copy of My Mind – Tara Basro (Sari) dan Chicco Jerikho (Alek)

[2016/ Resensi Babi Film] - Joko Anwar memang pandai bermain-main tidak hanya dari sisi cerita namun teknis pula setelah sebelumnya bermain cantik melalui Modus Anomali kini dengan lebih berani ia membawa gaya sederhana dan natural bersama Ical Tanjung, A Copy of My Mind  menjadi film paling minimalis dan tidak mengada-ada selama rekam jejak karirnya.

Sekitar mungkin dua tahun lalu layar lebar Indonesia sempat mendapatkan satu kisah paling jujur dan romantis mengenai Jakarta, kota megapolitan yang sesak akan isu moral dan sensitif hingga tak dapat disentuh oleh siapapun. Lewat Selamat Pagi, Malam, Lucky Kuswandi menyindir mengenai kehidupan one night stand, politik, kekuasaan, agama, LGBT hingga persoalan sepele seputar perselingkuhan semata. Di tahun ini, kembali terdapat satu cerita semu tentang polemik realitas Jakarta yang keras, diutarakan oleh Joko Anwar melalui A Copy of My Mind yang menceritakan dua manusia berbeda antara Sari, seorang terapis kecantikan hendak mengubah nasibnya dengan berpindah tempat kerja dan Alek, seorang pemuda tanpa identitas bekerja sebagai pembuat teks terjemahan dvd bajakan. Di tempat penjualan dvd bajakan area glodok nasib mempertemukan mereka, melalui film hingga bercinta mencapai bencana.

Sari, seorang wanita dua puluh tahunan bekerja sebagai terapis (pemijat) di salon kecil adalah penggemar film dengan selera sangat buruk, ia juga gemar menjadi pribadi lain, bersikap seolah-olah kaya raya dengan berpura-pura hendak membeli televisi flat yang harganya saja bahkan tidak bisa dibayar dengan cicilan hingga sepuluh tahun melalui gajinya. Sementara itu, Alek adalah penjudi balab liar yang arogan namun memiliki sifat lembut dengan mengurusi ibu kostnya yang bahkan anak kandungnya enggan untuk merawatnya. Pertemuan mereka diawali dengan keluhan Sari di toko dvd bajakan perihal film yang dibelinya memiliki teks terjemahan bahasa indonesia buruk, geram sang pemilik toko memintanya menyampaikan sendiri keluhan itu kepada Alek yang sedang ngaso merokok. Seperti kisah cinta pada umumnya, Alek sang pria jatuh hati dan berusaha memikat hati Sari yang kedapatan mencuri satu dvd sepulangnya menggerutu.

Tetapi, bukan Joko Anwar namanya kalau ini hanya sekedar cerita cinta biasa. Sepanjang mungkin enam puluh menit dia membuat filmnya ‘bermain-main’ dan ‘bereksperimental’ untuk mendapatkan chemistry mengenai kehidupan dua sosok manusia melalui film sebagai penyatunya. Romansanya terbilang sederhana bahkan bisa dikatakan tidak ada manisnya sama sekali malah terkesan begitu nyata tidak seperti Durable Love, film pendek buatannya yang begitu ceria maupun The New Found yang begitu penuh warna sedangkan A Copy of My Mind justru tampil apa adanya  serta dewasa bukan karena ada adegan seks peluh keringat antara Sari dan Alek tetapi diakibatkan sepanjang film tidak ada sebuah adegan pernyataan cinta melainkan bagaimana sepasang dewasa memiliki ketertarikan satu sama lain akhinya bersatu mejalin percintaan mereka. Alek begitu peduli dengan Sari mulai dari menjemputnya sepulang kerja hingga tak lagi bermain di arena balap liar. Kepingan-kepingan dvd tertempel di dinding kamar Alek merupakan rekam jejak kisah roman mereka.

Mungkin sepanjang Anda membaca ulasan ini belum ditemukan apa yang menjadi titik spesial pada film A Copy of My Mind melainkan hanya sebuah cerita cinta membosankan dengan tempo lambat ala film Eropa. Sepertinya itulah yang dirasakan kebanyakan penonton yang memutuskan memilih melangkah keluar karena diterjang rasa kantuk di dalam studio ketika saya sedang menonton padahal tidak berapa lama kemudian bagai dihantam sebuah asteorid, Sari mencuri sebuah dvd film milik tahanan penjara yang merupakan langganan salon kecantikan tempatnya bekerja yang isinya adalah materi barang bukti mengenai kasus korupsi besar melibatkan calon Presiden Indonesia. Panik, Sari bergegas kembali ke penjara namun sang sipir tidak mengizinkannya karena tidak memiliki janji. Dengan arogannya ia malah melapor ke Bandi, pemilik salon lantas dipukulilah dia karena tindakan tercoreng tersebut. Sambil memegangi perutnya ia berjalan menuju tempat Alek. Hingga akhirnya, pilu memang karena cerita selesai dengan Alek hilang tidak diketahui keberadaannya sementara Sari memutuskan untuk menyebarluaskan isi rekaman itu malah berujung pada kesia-siaan. Tetapi apakah benar film ini hanya bertutur demikian?.

Arena Kekuasaan dan Ragam Perspektif Mengenai Isu Pembajakan

A Copy of My Mind bisa dibilang cukup berani dalam menuturkan cerita dan cerdik dalam menyampaikan kritik pedas akan isu sosial yang sering digadang-gadang sebagai permasalahan terbesar di Indonesia, yaitu menjamurnya para koruptor dan belum adanya tindakan berarti hingga saat ini bahkan kepiawaiannya disampaikan melalui makna-makna yang sangat membuat saya berdecak kagum menontonnya.

59f05cd5343a118e43f6bed13038b8d2Ada dua kubu di dalam film ini yang dibiaskan melalui tempat permukiman penduduk, Sari yang tinggal di dekat masjid dengan kata lain lingkungan yang condong islami dan Alek yang tinggal jauh dari masjid karena bermukim di lingkungan warga cina. Menariknya, kumandang adzan kerap terdengar dan menjadi titik pergantian waktu pada film ini. Lebih jenakanya, tokoh yang digadang sebagai pelaku koruptor adalah wanita beragama muslim, Artalyta Suryani tahanan rutan dengan penjara ala hotel yang berkhayal naik haji namun ingin mengitari ka’aba dengan tandu padahal secara fisik masih dapat mengitarinya dengan kedua kaki sendiri. Bisa jadi kedua kubu ini memang kebetulan saja dihadirkan oleh Joko Anwar tanpa perlu melihat geliat politik di Jakarta yang saat ini dipimpin oleh seorang warga cina, beragama ‘non muslim’, gemar memaki dan habis-habisan menolak korupsi. Mungkin memang kebetulan. Namun cukup menampar juga. Tetapi untuk saya sendiri letak permasalahan bukan di sini tetapi malah terselip, yaitu isu pembajakan film yang kerap kali membuat para pelaku industri geram.

Indonesia digadang sebagai negara salah satu negara terbesar di dunia yang memiliki tingkat aktivitas pembajakan film sangat besar dan bahkan bisa dibilang terkesan sebagai legal untuk dijalankan. Terbukti menjamurnya toko dvd bajakan yang beredar di segala penjuru kota di Indonesia, tidak sekalipun Jakarta yang identik sebagai kota metropolis gaya hidup kelas atas. Nyatanya, di pelosok area glodok masih banyak rakyat-rakyat mengadu nasib mencari sesuap nasi dan berusaha kabur dari sesaknya hidup melalui film-film berkualitas rendah. Permasalahannya salah siapa sebenarnya ini?, pemerintah yang tidak urung berusaha menyelesaikan perkara besar ini atau tuntutan masyarakat pula yang menyebabkan naiknya permintaan kepingan-kepingan dvd ilegal ini. A Copy of My Mind dalam pandangan saya sebagai penonton tidaklah berusaha menyelesaikan permasalahan ini atau memberikan solusi namun justru memberikan dua perspektif berbeda yang menggelitik juga.

Pada satu adegan pertemuan antara Sari yang menyampaikan keluh kesahnya mengenai teks terjemahan film yang sangat buruk, Alek menimpali untuk membeli dvd asli saja apabila dia ingin mendapatkan kualitas film yang bagus. Ada harga ada barang, begitu kira-kira. Sari kembali ngomel mau bajakan sekalipun tetap saja ada harga yang harus dikeluarkan olehnya. Melalui sekelibat adegan ini, harga bukanlah sebuahlah permasalahan utama sejujurnya karena tokoh Sari sendiri tampaknya cukup kesulitan untuk membeli satu keping dvd bajakan. Tetapi, di sisi lain tetap saja ini adalah perbuatan hukum yang melanggar undang-undang hak cipta. Pespektif lain pun dihadirkan tidak melalui adegan yang jelas tetapi cukup tersirat. Rasanya tidak mungkin hanya satu kebetulan menempatkan kisah Sari dan Alek diantara gelutan kampanye presiden. Disini saya melihat, Indonesia hanya sibuk mengurusi ‘peristiwa besar’, seperti arena kekuasaan politik yang begitu haus diterkam media setiap harinya. Bisa dilihat melalui tontonan ibu kost Alek yang selalu termenung menontoni berita-berita korupsi atau mungkin memang memiliki gangguan jiwa. Padahal dengan hanya jarak sejengkal saja permasalahan ekonomi terbesar di Indonesia, yaitu pembajakan yang merugikan banyak kalangan nyaris tidak dilirik sama sekali oleh pemerintah. Sungguh prihatin sekali.

Ironi memang, dengan mudahnya pembuatan dvd bajakan dapat dilakukan layaknya membuat mie instan yang terus dikonsumsi oleh Sari setiap harinya. Atau memang pembuatan mie instan itu adalah representatif dari begitu sederhananya melakukan tindakan ilegal di Indonesia, karena saya sendiri sampai cukup prihatin melihat Sari yang gemar makan mie instan rebus. Untungnya, di penghujung film dia membuat mie instan goreng. Ah, rasanya berlebihan memang mengkaitkan antara mie instan dengan pembajakan. Karena sejatinya, A Copy of My Mind cukup banyak menghadirkan komedi gelap yang membuat decak tawa saya sepanjang menonton film berdurasi 114 menit ini. Jelas memang, masalah sentralnya menurut saya sepertinya adalah isu pembajakan yang diselipkan melalui kisah konspirasi besar di Jakarta kala masa kampanye presiden.

A Copy of My Mind | 2016 | Durasi: 114 menit | Sutradara: Joko Anwar | Produksi: Lo-Fi Flicks dan CJ Entertainment | Negara: Indonesia | Pemeran: Tara Basro, Chicco Jericho, Paul Agusta, Maera Panigoro

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s