Surat dari Praha : Cerita Cinta Pahlawan Terasingkan

Surat dari Praha - Julie Estelle (Larasati)

Surat dari Praha – Julie Estelle (Larasati)

[2016/ Resensi Babi Film] - Angga Dwimas Sasongko sekali lagi membuktikan bahwa dirinya bukan hanya sekedar aktor saja namun juga sutradara yang mampu bertutur indah dan cerdas. Surat dari Praha merupakan film yang mampu membakar semangat nasionalisme Indonesia melalui semangat jiwa para pemuda yang terasingkan akibat ideologinya. Cerita sederhana penuh paradoks akan sejarah masa orde lama.

Saya ingat betul dulu ada sebuah film Indonesia yang meminta saya selaku penonton untuk berdiri dan menyanyikan lagu nasional sebelum cerita dimulai. Pertunjukkan rasa nasionalisme dan kebanggaan akan Tanah Air ini cukup menarik perhatian banyak kalangan, ada yang mengatakan berlebihan tetapi tidak sedikit juga yang menyanjung dan memuji-muji film berjudul Soekarno arahan Hanung Bramanyto itu. Saya sendiri tidak merasa terkesan baik terhadap filmnya maupun pembukaan semacam itu tetapi malah untuk pertama kalinya harus saya akui Surat dari Praha arahan Angga Dwimas Sasongko ini mampu membuat saya bergidik mendengar lagu Indonesia Raya dinyanyikan oleh sekelompok orang tua yang terasingkan karena ideologinya. Seperti perkataan Soe Hok Gie, “lebih baik terasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan”.

dari Praha untuk Jakarta yang Ambigu

Kisah ini berangkat dari kala Larasati hendak meminta wasiat harta almarhum ibunya, Sulastri namun ternyata ia diminta terlebih dahulu mengemban tugas mengantarkan sebuah kotak dan sepucuk surat untuk Jaya di Praha yang belum dikenalnya sama sekali. Akhirnya, dikarenakan kekurangan finansial untuk proses perceraian ia memutuskan menjumpai pria itu tanpa mengetahui apa sebenarnya paradoks yang ada antara Sulastri dan Jaya di masa lampau. Sebuah tabir percintaan yang rumit dengan bumbu sejarah indonesia terkelam, orde lama terkuak perlahan demi perlahan diiringi sebuah lagu-lagu merdu yang dikumandangkan baik oleh Laras maupun Jaya. 

Jaya ternyata adalah kisah cinta masa lalu Sulastri yang tidak dapat terlupakan hingga membuat kehidupan masa kecil Larasati tidak bahagia. Masalah ada kepada surat-surat yang dikirimkan untuk sulastri tidak kunjung berbalas hingga akhirnya Jaya menyerah dan mengikhlaskan semua yang terjadi kepadanya. Dirinya sendiri terpaksa berada di Praha karena diasingkan oleh pemerintah akibat dikira sebagai penganut komunisme padahal nyatanya tidak, ia hanya orang yang percaya kepada kemerdekaan dan demokrasi. Dirinya lebih memilih terasingkan ketimbang mengorbankan prinsip ideologi yang dianutnya.

Di sisi lain, Laras yang telah hidup di dunia berbeda menganggap semua kisah Jaya sekedar membual saja karena tiada tindakan berarti yang dilakukan olehnya untuk merebut Sulastri dan ia adalah penyebab hancurnya rumah tangga antara ibu dan ayahnya. Benci mengalir di hati Laras tetapi diam-diam juga terpesona kepada Jaya, sosok pria yang pandai membuat lirik lagu, bermain piano hingga bersenandung merdu.

Jelas, Surat dari Praha mengambil jalan cerita dengan menggunakan pihak orang ketiga, yaitu Laras yang menjadi penutur kisah tokoh utamanya, Jaya, seorang pahlawan yang terasingkan dari negaranya sendiri. Tetapi apabila dikulik lebih jauh sesungguhnya banyak ambiguitas pada film ini, terutama drama percintaannya.

Pertama, fase romantismenya. Dalam film tergambarkan Laras bukanlah anak dari Jaya melainkan lelaki lain yang sempat mengisi hati Sulastri. Memang wajar dan sah-sah saja apabila akhirnya ada bumbu romansa antara dia dan Laras namun rasa-rasanya agak cukup aneh apabila diakhir cerita Sulastri bertutur mengenai betapa miripnya Jaya dan Laras, sama-sama ahli bermain piano, keras kepala, dan pandai bernyanyi. Kemiripan yang serba nyaris sama itu malah yang menimbulkan ambiguitas. Kenapa Sulastri mengirim Laras untuk berjumpa dengan Jaya?, paradoks ini yang membuat saya cukup was-was juga menafsirkannya. Apakah memang Sulastri hanya sekedar ingin mempertemukan anaknya atau malah menjodohkannya dengan Jaya?, lucu jadinya. Salah satu adegan membuat geli adalah dimana Laras dan Jaya bermain piano bersama tidak berlebihan rasanya apabila saya bilang tatapan mata mereka berdua mengisyaratkan cinta diam-diam. Cinta terpaut usia yang bikin was-was juga. Belum lagi penutupan adegan berakhir tidur bersama di sofa sempit, rasanya tidak logis juga semalaman tidur di tempat sesempit itu.

Aspek yang terkesan tidak logis juga apabila melihat rentang waktu kisah dalam Surat dari Praha berlangsung. Memang, Jaya tidak bisa lagi kembali ke Indonesia bukan karena peraturan namun egonya yang membuat dia bertahan di Praha tetapi di sisi lain Sulastri sebenarnya dapat mengunjungi Jaya, menjalin kembali hubungan mereka atau sekedar bercerita sambil menikmati kopi Tora Bika dengan sebungkus permen Kiss. Lantas kenapa tidak dia lakukan?. Padahal dengan melibatkan tokoh Sulastri lebih dalam membuat film ini semakin dalam dan menyentuh. Laras pada akhirnya hanyalah sebuah bayang-bayang imaji kehadiran Sulastri bagi Jaya.

Kedua, fase sejarahnya. Cerita ini berangkat dari pengalaman para pelajar Indonesia yang dikirim atau lebih tepatnya diasingkan tanpa uang sepersenpun di Praha sehingga harus bekerja keras untuk menghidupi diri sendiri. Jaya dan teman-temannya adalah korban nyata bagaimana ketidakadilan pada masa presiden Soeharto. Dalam film ini tergambarkan melalui verbal Jaya kepada Laras mengenai kisah masa lalu yang kian menghantuinya tetapi cintanya kepada Indonesia tidak kurun memudar malah semakin besar. Perjuangan dia dan teman-temannya tidaklah sepenuhnya sia-sia.

Aspek ini yang paling saya sanjung sebagai penonton karena sejatinya sebuah film ‘nasionalis’ tidaklah selalu melulu hanya dapat digambarkan melalui kisah heorik penuh pidato sekelas Soegija atau Guru Bangsa: TjokroaminotoSurat dari Praha justru film yang paling menggambarkan nasionalisme warga Indonesia karena direpresentasikan melalui sejarah pemudanya, dimana sejujurnya aktor dari setiap langkah perjalanan bangsa Indonesia adalah milik pemuda/i yang turun di lapangan.

Secara keseluruhan, Surat dari Praha bukanlah fim yang sempurna namun setidaknya mampu untuk menggugah dan mengkritik masa orde lama melalui kisah dengan jalan yang berbeda. Sebagai sebuah film semi musikal juga dia masih dapat dinikmati malah cukup mengharu biru mendengar dentuman merdu para aktor yang menyanyikan secara langsung melalui lagu-lagu yang merepresentasikan kisah mereka. Tetapi diatas itu semua, film ini bukanlah sebuah film yang hendak untuk mengupayakan membongkar sejarah yang tersembunyi rapat selama ini tapi dia hanyalah sebuah film yang bertutur mengenai kisah pertemuan dua anak manusia dengan sejarah mereka masing-masing. Tidak lebih dari itu.

Surat dari Praha | 2016 | Durasi: 93 menit | Sutradara: Angga Dwimas Sasongko | Produksi: Visinema Pictures, Tinggikan Production, dan 13 Entertainment | Negara: Indonesia | Pemeran: Julie Estelle, Rio Dewanto, Tio Pakusadewo, Chicco Jerikho, Widyawati, Jajang C. Noer dan Shafira Umm.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s