ROOM : 2 Emosi 2 Karakter 2 Perspektif dalam 1 kisah

Room - Jacob Trembley (Jack) dan Brie Larson (Ma)

Room (2015) – Jacob Trembley (Jack) dan Brie Larson (Joy/Ma)

[2016 / Resensi Babi Film] – Room merupakan sebuah film yang padat isinya tetapi begitu bernyawa walau temponya lambat dia mampu bermain terhadap emosi setiap karakternya. Brie Larson dan Jacob Tremblay adalah nyawanya mereka mampu menciptakan sebuah chemistry menganggungkan antara kisah seorang ibu dengan anak yang terkurung bertahun-tahun dalam sebuah kamar sempit nan sesak .

Room adalah sebuah kisah cinta antara Joy/Ma dengan anak laki-lakinya Jack dalam sebuah kamar berbentuk persegi empat, tempat mereka dikurung oleh Old Nick. Joy telah terkurung setidaknya selama tujuh tahun hingga melahirkan Jack yang kini berusia lima tahun. Maka, Jack tiadalah pernah melihat dunia luar melainkan hanya realitas televisi saja yang menemaninya sehari-hari hingga melahirkan perspektif kalau dunia tidaklah lebih besar dari kamar tempat mereka bersemayam saja.

Maka, Joy mengambil keputusan bahwa Jack harus menerima kenyataan kalau mereka telah terkurung dari dunia luar dan kini saatnya mereka berjuang untuk mengambil kebebasan mereka kembali. Ini adalah sebuah kisah perjuangan dengan tempo lambat dan penuh pertimbangan – bukan saja pertimbangan plotnya namun juga pertimbangan segala emosi yang ada pada Joy. Seperti, ketika mereka akhirnya bisa lepas dari cengkraman Old Nick dengan menyamarkan kematian Jack.

Dua emosi dalam satu cerita

Room memang hanya berdiri sebagai satu film namun apabila kembali diperhatikan sejujurnya kisah yang hampir semuanya dipenuhi oleh dialog dan komunikasi non verbal ini memiliki dua alur yang sama seperti kisah-kisah perjuangan hidup lainnya namun diceritakan pada masa kini tanpa perlu mengumbar masa lampau milik Joy. Alurnya jelas linier.

Pertama, kisah mereka berdua selepas bebas dari cengkraman Old Nick. Joy berusaha bersikap normal dan berusaha memperkenalkan Jack kepada dunia yang luas. Seakan-akan memperlihatkan bahwa Jack sebagai tokoh anak kecil yang rentan dan tidak mengetahui dunia dia malah dapat beradaptasi begitu mudah tidak seperti Joy yang lambat laun menunjukkan depresi akibat rasa mendendam teramat sangat kepada Nancy, ibunya dan Robert, ayahnya.

Konflik membawa kepada permasalahan kedua orang tua Joy yang telah berpisah dan Nancy kini hidup bersama dengan Leo, kekasihnya. Joy merasa hidup kedua orangtuanya terbilang biasa-biasa saja hingga tanpa kehadirannya atau tidak semua tidak ada masalah. Sementara itu, Robert membawa pilu baginya karena tidak dapat menerima kehadiran Jack yang merupakan anak biologis dari Old Nick.

Kedua, kisah dimana Joy bisa mengalami penculikan. Dikisahkan melalui verbal dia hendak menolong Old Nick yang anjingnya tengah sakit nyatanya dirinya menjadi korban baik itu penculikan hingga pemerkosaan terus menerus. ‘be nice‘ adalah kata ternamam pada benaknya itulah yang menyebabkan dia mau menolong Old Nick. Disini hadir perspektif berbeda antara Joy dengan Jack yang melihat ruangan tempat mereka berada.

MV5BMTkzOTAxMjE0N15BMl5BanBnXkFtZTgwODQzMzU1NzE@._V1__SX1234_SY582_Cerita ini ternyata tidak hanya memfokuskan kepada kisah Joy namun Jack diam-diam hadir sebagai pemberi narasi dialog mencenangkan dengan bagaimana dia menggambarkan kamar tempat ia berada begitu besar hingga tidak dapat dijamah satu atau dua kali saja. Setiap sudutnya selalu penuh dengan ruang lingkup besar dimatanya. Imajinya begitu polos tidak seperti Joy.

Pilunya ketika ia menceritakan bagaimana ia harus tidur dalam lemari ketika Old Nick datang menghampiri Joy. Nancy hanya terdiam mendengarnya. Tanpa mengetahui satu ide pun apa yang telah dilalui oleh Joy. Di satu sisi keputusan Joy untuk menerima tawaran wawancara juga mengumbar perspektif ‘kerelaberkorbanan’ seorang ibu kepada anaknya. Ultimate sacrifice. Di titik inilah Joy ragu apakah dia merupakan Ma yang baik bagi Jack atau semua hanya keegosiannya saja.

Cerita Perjuangan Hidup yang Jujur

Saking banyaknya menonton film setipikal ini, jujur saya lupa film-film bertipe survival yang dapat membekas di hati saya maka untuk membandingkannya dengan berbagai macam film rasanya rumit juga karena Room jelas berbeda karena tidak berlebihan mengumbar-umbar emosi sang korban.

Ketegasan victim blaming pun sangat tersalurkan walau hanya melalui satu scene saja namun ternyata sangat efektif untuk menampilkan bagaimana awak media berusaha menampilkan isu tanpa perlu mempertimbangkan kenyamanan korban. Airmata jelas menjadi daya jual tersendiri bagi mereka. Kisah Joy diperdagangkan. Tak luput pula hukum dipermainkan.

Secara keseluruhan, ini adalah kisah yang sangat luar biasa. Leny Abrahamson selaku sutradara telah mengeluarkan performanya. Sebelumnya dia telah menunjukkan kepawaiannya dalam Frank (2014). Brie Larson juga sekali lagi membuktikan kemampuannya dalam seni peran – saya jatuh cinta dengannya petama kali pada Short Term 12 yang telah saya ulas disini.

Sinematografinya pandai sekali menipu ruangan sempit tempat Joy dan Jack di sekap. Memanfaatkan sudut sempit sebagai titik luasnya namun perlahan-lahan mempertunjukkan betapa tidak layak tempat tersebut untuk dihuni oleh sepasang manusia. Room sendiri diangkat dari novel berjudul sama karangan Emma Donoghue yang juga bertindak sebagai penulis naskah.

Secara keseluruhan, Room adalah film sempurna yang tidak hanya menonjolkan kisahnya tetapi juga elemen – elemen pada filmnya. Disamping sebagai sebuah kisah tragedi juga dia memiliki bumbu cinta yang murni kepada ibu dan anak yang saling menguatkan satu sama lain. Tak pelak, film ini merupakan salah satu film terbaik di tahun lalu.

Room | 2015 | Durasi: 118 menit | Sutradara: Leny Abrahamson | Negara: USA | Pemeran: Brie Larson, Jacob Tremblay, William H. Macy, Joan Allen, Sean Bridgers.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s