Humoria Menulis di Tahun 2015

Menulis buat saya adalah sebuah tragedi. Kenapa?, karena tidak pernah terpikirkan dalam benak saya kalau kegiatan semacam ini dapat menjadi sebuah aktivitas yang begitu menyenangkan walau terkadang menyebalkan.

Menulis di blog sudah saya mulai sejak mengenyam di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), dimana mulai bergerilya pada ranah blogspot hingga tumblr tetapi akhirnya jatuh cinta kepada wordpress. Awalnya isi tulisan-tulisan pada blog ini hanya bersifat impulsif, semata bentuk curhatan emosi pribadi terhadap hidup meliputi teman, percintaan hingga akademis. Tetapi lambat laun semua berubah dari hobi saya menonton film menjadi menulis resensi film.

Continue reading

WAHAI MAYA TATKALA : DIBAWAH SINAR REMBULAN

Oleh Kukuh Giaji

Kuingat awal kali terkesima

Di bawah sinar rembulan

Berbalutkan suasana penuh romansa

Bersamanya

Kutatap lagi sinar rembulan itu

Tetap nan indah merona

Namun anehnya tak sanggup dibuatku terpana olehnya

Yang ada malah nanar hinggap dipelupuk mata

Berselimutkan rasa senyap di relung hati

Karena tiada bersamanya

Kini semuanya hanya fatamorgana

Tak kunjung kau datang dalam maya

Di bawah sinar rembulan

Bersamaku

Tersipu malu dalam suasana penuh romansa

2015

WAHAI MAYA TATKALA : Puisi Tentang Sanubari

Oleh Kukuh Giaji

 

Wahai Maya ingin Aku berseteru.

Menerobos sang waktu.

Dengan berteriak walau terpasung asa.

Dengan menjerit walau kala teringat jagal.

Dengan Beperangai walau serupa lembu.

Wahai Maya ingin Aku bertikai.

Tatkala menyaksikan sanubarinya habis dimakan gelap.

Tatkala memandang relung hatinya digerogoti muram temaram.

Tatkala memandang kalbunya amblas diakhiri usia.

Wahai Maya Tatkala……

2015

SEGELAS KOPI KALOSI TORAJA

Oleh Kukuh Giaji

Tiga puluh empat ribu lima ratus empat puluh lima rupiah adalah harga jual termurah kedua yang diberikan untuk segelas kopi hitam dengan tagline Indonesian’s Premium pada salah satu kedai kopi yang dikunjunginya. Kalosi Toraja namanya. Kopi dari Sulawesi Selatan itu sering diduga berasal dari Kabupaten Toraja padahal aslinya dari Kabupaten Enrekang. Sudah lumrah memang ditemukan penamaan kopi sebagai representasi identitas daerah penghasil namun sayang kadang banyak pedagang memberikan nama pada kopi secara arbitrer dengan mengacu pada tempat dijual bukan dihasilkan. Maka, wajar banyak kedai kopi sekarang gemar bermodifikasi dalam menamai merek kopinya sebagai kamuflase untuk menarik perhatian para konsumen. Tiga puluh empat ribu lima ratus empat puluh lima rupiah harus dibayarnya untuk indignitas dan lebih sialnya, belum termasuk biaya pajak dan pelayanan yang harus dikeluarkannya untuk perihal regulasi semata. Continue reading