REVIEW FILM “Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)” (2014)

Tampaknya Academy Award (OSCAR) tahun ini akan dipenuhi dengan pertandingan sangat ketat bagi para nominasi filmnya, terutama Best Picture. Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) adalah salah satu yang berhasil masuk nominasi menemani The Imitation Game, Whiplash, American Sniper, The Grand Budapest Hotel, Boyhood, Salma, dan The Theory of Everything. Pertanyaan besar akan siapa pemenangnya tentu menghantui setiap pemerhati film saat ini.

Birdman sendiri menceritakan tentang Riggan Thomson (diperankan oleh Michael Keaton) yang merupakan aktor terkenal lewat perannya pada film Birdman ketika tahun 1992. Sebuah franchise yang sempat popular bahkan menghasilkan trilogi sehingga mampu membuat karir Riggan melesat begitu jauh. Tetapi kondisinya berbeda sekarang, film blockbuster telah begitu banyak lahir beserta dengan aktor kawakan yang terkenal pula sehingga membuat dirinya tenggelam dan tidak diperhatikan oleh dunia.

Riggan Thomson and Birdman - www.kgiaji.wordpress.com

Riggan Thomson and Birdman – http://www.kgiaji.wordpress.com

Kini untuk mendapatkan perhatian kembali, Riggan berupaya untuk mengadaptasi cerita pendek dari Raymond CarverWhat We Talk About When We Talk About Love melalui sebuah drama theatrical Broadway. Tetapi upaya tersebut memberikan sebuah rintangan melalui aktor terkenal, Mike Shiner (diperankan oleh Edward Norton) yang memiliki obsesi terhadap panggung dan dirinya, kemudian putrinya yang baru kembali dari panti rehabilitasi, Sam Thomson (diperankan oleh Emma Stone), serta kritikus The Times Newspaper, Tabitha (diperankan oleh Lindsay Duncan). Selain itu terdapat artis bernama Lesley (diperankan oleh Naomi Watts), sahabat sekaligus produser, Jake (diperankan oleh Zach Galifianakis), mantan istrinya Sylvia (diperankan oleh Amy Ryan), dan kekasihnya yang tengah mengandung Laura (diperankan oleh Andrea Riseborouh.

The Satire and Philosophical bullshit ‘Movie of The Year’

Menonton sebuah film yang masuk ke dalam nominasi Best Picture of The Year pada Academy Award selalu identik dengan film yang menggambarkan kebudayaan maupun kritik keras akan suatu isu sosial. Begitu pula Birdman. Film ini tampaknya tidak hanya memfokuskan kepada kisah karakter Riggan Thomson, namun juga secara tersirat dan satir ditambah dark comedy menyindir secara habis-habisan tentang kondisi industri perfilman yang tengah berkembang di Hollywood.

Birman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) - www.kgiaji.wordpress.com

Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) – http://www.kgiaji.wordpress.com

Give the people what they want…old-fashioned apocalyptic porn. Birdman: The Phoenix Rises. Bones ratling!, Big, Loud, Fast!. They love this shit. They love the blood. They love action. Not this talky, depressing. Philosophical bullshit”. Adalah salah satu dialog tentang kritikan paling tajam terhadap fenomena film superheroes yang tengah berkembang di industri pada saat ini. Tidak hanya sampai di situ, aktor pun jadi bahan olokan paling dahsyat dan memacau tawa sangat. “Shave of that pathetic goatee, get some surgery. Sixty’s is the new thirthy, motherfucker”.

Satir yang berbicara melalui medium film ini tidak hanya melalui dialog, sebuah surelis tentang khayalan Riggan terhadap karakter Birdman pun mengisi hari-harinya dengan menjadi sebuah suara di kepala yang mengkritiknya habis-habisan dan tajam. Berusaha memberikan semangat dan keyakinan bahwa dirinya adalah Birdman asli dengan kemampuan telekinesis super hebat.

Tidak ada habisnya, pentas panggung Broadway juga di injak-injak dengan sangat hebat. Menelanjangi para aktornya yang identik dengan kepuasan diri, kepercayaan diri, dan kebanggaan yang teramat tinggi namun nyatanya semua hanya palsu, yang dipenuhi dengan intrik dan harga diri yang telah dibuang jauh-jauh. “When I dreamed a Broadway, I never pictured the elk antlers”.

All About The Movie

Film-film Oscar tampaknya selalu jauh dari blockbuster yang dapat mencapai pendapatan hingga triliun dollar AS tetapi pujian serta piala menjadi obat atau mungkin memang misi yang diraih dengan pembuatan filmnya.

Disini pula melalui filmnya, Nampak Alejandro González Iñárritu terlihat tidak ingin menggemborkan filmnya. Dia adalah salah satu dari pemegang kunci utama kesuksesan film ini. Sebagai seorang sutradara, dia berhasil membawa sebuah drama pentas dengan medium film yang penuh komedi satir. Tetapi sejujurnya, unsur paling termenarik pada film ini adalah sinematografi oleh arahan Emmanuel Lubezki. Dengan kesan One-Shot Movie berdurasi nyaris 2 jam ini mampu membuat semua orang terpikat dan tak mudah terlupakan. Sebelumnya Lubezki sendiri telah membawa kita terombang-ambing pada film Gravity arahan Alfonso Cuarón. Kini dia pun melakukan hal yang sama dengan membuat kita seolah-olah melayang dan menonton pentas Broadway langsung. Kita seakan tidak diberikan istirahat sama sekali menyaksikan film ini dengan perguliran waktu serta rought cut nya yang sangat luar biasa halusnya.

Sam Riggin (Emaa Stone) - www.kgiaji.wordpress.com

Sam Thomson (Emma Stone) – http://www.kgiaji.wordpress.com

Para jajaran pemain juga tidak boleh dilupakan. Michael Keaton menampilkan perfoma yang sangat luar biasa dan sejujurnya film ini memberikan semua porsi yang sangat tepat kepada setiap pemain hingga dapat memberikan kemampuan terbaiknya dan memberikan momen tersendiri untuk dirinya. Salah satu best acting ever adalah tampang terkejut Sam (Emma Stone) yang melihat Riggan (Michael Keaton) terbang atau apapun itu. Damn! Its hot!.

Predict About Oscar

Bersaing dengan jajaran film yang berkualitas serta dengan medan yang sejujurnya jarang berada di Oscar sehingga wajar apabila musim ini dianggap paling misterius karena setiap film berdiri masing-masing dengan kekuatannya yang luar biasa bisa dibilang tidak ada ‘kuda’ yang bisa diprediksikan untuk memenangkan piala bergensi tersebut.

Tetapi taruhan terbesar jatuh kepada Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance) karena melihat cerita yang tidak biasa dengan eksekusi menajubkan dan jajaran pemain yang sangat mendukung. Bisa dibilang hampir tidak ada kecacatan pada film ini walau sama dengan film-film lainnya. Tetapi ‘rasa’ yang menunjukkan film ini akan membawa pulang Best Picture of The Year sudah begitu terasa.

Jadi, kita liat saja. Who is the winner!.

10

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW FILM “Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance)” (2014)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s